<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Ruang Belajar Coass</title>
	<atom:link href="http://kadaverboy.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://kadaverboy.wordpress.com</link>
	<description>Teddy agung saputra S.ked</description>
	<lastBuildDate>Wed, 26 Jan 2011 11:36:48 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='kadaverboy.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Ruang Belajar Coass</title>
		<link>http://kadaverboy.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://kadaverboy.wordpress.com/osd.xml" title="Ruang Belajar Coass" />
	<atom:link rel='hub' href='http://kadaverboy.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>MARASMUS</title>
		<link>http://kadaverboy.wordpress.com/2010/05/16/marasmus/</link>
		<comments>http://kadaverboy.wordpress.com/2010/05/16/marasmus/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 16 May 2010 03:22:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kadaverboy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pediatric]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kadaverboy.wordpress.com/?p=110</guid>
		<description><![CDATA[PENDAHULUAN Penyakit kurang energi protein (KEP) merupakan salah satu penyakit gangguan gizi yang penting di Indonesia maupun banyak negara yang sedang berkembang di Asia, Afrika, Amerika Tengah dan Amerika Selatan. Prevalensi yang tinggi terdapat pada anak-anak di bawah umur 5 tahun (Balita). Karena pada saat itu gizi atau makanan tersebut disediakan untuk pertumbuhan dan perkembangan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kadaverboy.wordpress.com&amp;blog=10509290&amp;post=110&amp;subd=kadaverboy&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h4>PENDAHULUAN</h4>
<p>Penyakit kurang energi protein (KEP) merupakan salah satu penyakit gangguan gizi yang penting di Indonesia maupun banyak negara yang sedang berkembang di Asia, Afrika, Amerika Tengah dan Amerika Selatan.</p>
<p>Prevalensi yang tinggi terdapat pada anak-anak di bawah umur 5 tahun (Balita). Karena pada saat itu gizi atau makanan tersebut disediakan untuk pertumbuhan dan perkembangan serta energi yang lebih aktif pada anak tersebut.</p>
<p>Pada penyakit KEP ditemukan berbagai macam keadaan patologis disebabkan oleh kekurangan energi maupun protein dalam proporsi yang bermacam-macam akibat kekurangan tersebut timbul keadaan KEP pada derajat yang ringan sampai berat.</p>
<p>Pada keadaan yang berat secara klinis terdapat 3 tipe: Kwashiorkor, Marasmus, Marasmus Kwashiorkor. Pada semua derajat maupun tipe KEP ini terdapat gangguan pertumbuhan, disamping gejala-gejala klinis maupun biokimiawi yang khas bagi tipe penyakitnya.<sup> 1</sup></p>
<p><sup> </sup></p>
<p><strong>DEFINISI</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Marasmus adalah salah satu bentuk KEP berat yang timbul karena defisiensi karbohidrat dengan presentasi berat badan kurang dari 60% tanpa edema.</p>
<p><strong>ETIOLOGI</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Marasmus dapat terjadi pada semua umur, akan tetapi sering dijumpai pada bayi yang tidak mendapat cukup ASI dan tidak diberi makanan penggantinya atau sering diserang diare.</p>
<p>Marasmus dapat terjadi akibat berbagai penyakit seperti infeksi, kelainan bawaan saluran pencernaan, kelainan jantung bawaan, malabsorpsi, gangguan metabolik, penyakit ginjal menahun dan gangguan saraf pusat.<sup> 1,2</sup></p>
<p>Dapat juga disebabkan oleh karena pemasukan kalori atau protein atau keduanya yang tidak mencukupi akibat kekurangan dalam susunan makanan, dan kebiasaan makan makanan yang tidak layak.<sup> 2</sup></p>
<p><strong>FAKTOR-FAKTOR YANG MEYEBABKAN TERJADINYA MARASMUS</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<ol>
<li><strong>Faktor diet</strong>. Diet kurang energi akan mengakibatkan penderita marasmus.</li>
<li><strong>Peranan faktor sosial</strong>. Pantangan untuk menggunakan bahan makanan tertentu yang sudah turun-temurun.</li>
<li><strong>Peranan kepadatan penduduk</strong>. Mc Laren (1982) memperkirakan bahwa marasmus terdapat dalam jumlah yang banyak akibat suatu daerah terlalu padat penduduknya dengan higiene yang buruk.</li>
<li><strong>Faktor infeksi</strong>. Terdapat interaksi sinergistis antara infeksi dan malnutrisi. Infeksi berat dapat memperjelek keadaan gizi melalui gangguan masukan dan meningginya kehilangan zat-zat gizi esensial tubuh.</li>
<li><strong>Faktor kemiskinan</strong>. Dengan penghasilan yang rendah, ketidakmampuan membeli bahan makanan ditambah timbulnya banyak penyakit infeksi karena kepadatan tempat tinggal dapat mempercepat timbulnya KEP.<sup> 2</sup></li>
</ol>
<p><strong>PATOFISIOLOGI </strong></p>
<p>Untuk kelangsungan hidup jaringan diperlukan sejumlah energi yang dalam keadaan normal dapat dipenuhi dari makanan yang diberikan. Kebutuhan ini tidak terpenuhi pada intake yang kurang, karena itu untuk pemenuhannya digunakan cadangan protein sebagai sumber energi.</p>
<p>Penghancuran jaringan pada defisiensi kalori tidak saja membantu memenuhi energi tetapi juga memungkinkan sintesis glukosa dan metabolit esensial lainnya seperti berbagai asam amino. Karena itu pada marasmus kadang-kadang masih ditemukan kadar asam amino yang normal, sehingga hati masih dapat membentuk albumin.<sup> 3</sup></p>
<p><strong>GAMBARAN KLINIS</strong></p>
<p>Gejala klinis marasmus terdiri dari:<sup> 1,2,3,4,5</sup></p>
<ol>
<li>Pertumbuhan dan perkembangan fisik terganggu (berat badan &lt; 60%).</li>
<li>Tampak sangat kurus (gambaran seperti kulit pembalut tulang).</li>
<li>Muka seperti orang tua (old man face).</li>
<li>Pucat, cengeng, apatis.</li>
<li>Rambut kusam, kadang-kadang pirang, kering, tipis dan mudah dicabut.</li>
<li>Kulit keriput, jaringan lemak subkutis sangat sedikit sampai tidak ada, sehingga kulit kehilangan turgornya.</li>
<li>Jaringan otot hipotrofi dan hipotoni.</li>
<li>Perut membuncit atau cekung dengan gambaran usus yang jelas.</li>
<li>Ujung tangan dan kaki terasa dingin dan tampak sianosis.</li>
</ol>
<p>10.  Sering disertai penyakit infeksi, diare kronis atau konstipasi.</p>
<p><strong>LABORATORIUM</strong></p>
<p>Perubahan biokimia yang ditemukan pada marasmus adalah:<sup> 1,4,5</sup></p>
<ol>
<li>Anemia ringan sampai berat.</li>
<li>Kadar albumin dan globulin serum rendah.</li>
<li>Kadar kolesterol serum yang rendah.</li>
<li>Kadar gula darah yang rendah.</li>
</ol>
<p><strong>DIAGNOSIS</strong></p>
<p>Marasmus ditegakkan berdasarkan gambaran klinis, pemeriksaan fisik, dan didukung oleh pemeriksaan laboratorium.<sup> 1</sup></p>
<p><strong>PENATALAKSANAAN</strong></p>
<p>Pasien marasmus berat dirawat inap dengan pengobatan rutin sebagai berikut: <sup>1,2,3,4</sup></p>
<ol>
<li>Atasi/cegah hipoglikemia</li>
</ol>
<p>Periksa kadar gula darah bila ada hipotermia (suhu aksila &lt; 35°C, atau suhu rektal 35,5°C). Bila kadar gula darah di bawah 50 mg/dl, maka berikan:</p>
<ul>
<li>50 ml bolus glukosa 10% atau larutan sukrosa (1 sendok teh gula dalam 5 sendok makan air) secara oral atau sonde/pipa nasogastrik.</li>
<li>Selanjutnya berikan larutan tersebut setiap 30 menit selama 2 jam (setiap kali berikan ¼ bagian dari jatah untuk 2 jam).</li>
<li>Secepatnya berikan makan setiap 2 jam, siang dan malam.</li>
</ul>
<ol>
<li>Atasi/cegah hipotermia</li>
</ol>
<ul>
<li>Bila suhu rektal &lt; 35,5°C, hangatkan anak dengan pakaian atau selimut, atau letakkan dekat lampu atau pemanas.</li>
<li>Suhu diperiksa sampai mencapai &gt; 36,5°C.</li>
</ul>
<ol>
<li>Atasi/cegah dehidrasi</li>
</ol>
<ul>
<li>Jika anak masih menyusui, teruskan ASI dan berikan setiap setengah jam sekali. Jika anak masih dapat minum, lakukan tindakan rehidrasi oral dengan memberikan minum anak 5 ml/kgBB setiap 30 menit cairan rehidrasi oral khusus untuk KEP.</li>
<li>Jika tidak ada cairan khusus untuk anak dengan KEP berat dapat menggunakan oralit. Jika anak tidak dapat minum maka dilakukan rehidrasi intravena dengan cairan Ringer Laktat/Glukosa 5% dan NaCl 0,9%.</li>
</ul>
<ol>
<li>Koreksi gangguan keseimbangan elektrolit</li>
</ol>
<p>Pada semua KEP berat terjadi gangguan keseimbangan elektrolit diantaranya:</p>
<ul>
<li>Kelebihan natrium tubuh, walaupun kadar natrium plasma rendah.</li>
<li>Defisiensi kalium dan magnesium. Ketidakseimbangan ini diterapi dengan memberikan:</li>
</ul>
<p>ü      K 2 – 4 meq/kgBB/hari (150 – 300 mg KCL/kgBB/hari).</p>
<p>ü      Mg 0,3 – 0,6 meq/kgBB/hari (7,5 – 15 MgCl<sub>2</sub>/kgBB/hari).</p>
<ol>
<li>Obati/cegah infeksi</li>
</ol>
<p>Pada KEP berat, tanda yang umumnya menunjukan adanya infeksi seperti demam, seringkali tidak nampak, oleh karena itu pada semua KEP berat secara rutin diberikan:</p>
<ul>
<li>Antibiotika spektrum luas, bila tanpa komplikasi: kontrimoksazol 5 ml suspensi pediatri secara oral, 2 kali sehari selama 5 hari (2,5 ml bila BB &lt; 4 kg).</li>
<li>Bila anak sakit berat (apatis, letargi) atau ada komplikasi (hipoglikemia, hipotermia, infeksi kulit, infeksi saluran napas atau saluran kencing) beri ampisilin 50 mg/kgBB IM atau IV setiap 6 jam selama 2 hari, kemudian secara oral amoksisilin 15 mg/kgBB setiap 8 jam, selama 5 hari.</li>
<li>Bila amoksisilin tidak ada, maka teruskan ampisilin 50 mg/kgBB setiap 6 jam secara oral, atau gentamisin 7,5 mg/kgBB/IM atau IV sekali sehari selama 7 hari.</li>
<li>Bila dalam 48 jam tidak ada kemajuan klinis, tambahkan kloramfenikol 25 mg/kgBB/IM atau IV setiap 6 jam selama 5 hari.</li>
<li>Bila terdeteksi kuman spesifik, beri pengobatan spesifik. Bila anoreksia menetap selama 5 hari pengobatan antibiotik, lengkapi pemberian hingga 10 hari.</li>
<li>Vaksinasi campak bila umur anak &gt; 6 bulan dan belum pernah diimunisasi.</li>
</ul>
<ol>
<li>Koreksi defisiensi nutrien mikro</li>
</ol>
<p>Berikan setiap hari:</p>
<ul>
<li>Tambahan multivitamin.</li>
<li>Asam folat 1 mg/hari (5 mg hari pertama).</li>
<li>Seng (Zn) 2 mg/kgBB/hari.</li>
<li>Bila berat badan mulai naik: Fe 3 mg/kgBB/hari atau sulfas ferosus 10 mg/kgBB/hari.</li>
<li>Vitamin A oral pada hari 1, 2 dan 14. Untuk umur &gt; 1 tahun 200.000 SI, umur 6 – 12 bulan 100.000 SI, dan umur 0 – 5 bulan 50.000 SI.</li>
</ul>
<ol>
<li>Mulai pemberian makanan</li>
</ol>
<p>Pemberian diet dibagi dalam 3 fase, yaitu: fase stabilisasi, fase transisi, dan fase rehabilitasi.</p>
<ul>
<li>Fase Stabilisasi (2 – 7 hari)</li>
</ul>
<p>Fase dimulainya pemberian makanan segera setelah anak dirawat sehingga energi dan protein cukup untuk memenuhi kebutuhan metabolisme basal tubuh.</p>
<p>Prinsif pemberian nutrisi pada fase inisial/stabilisasi adalah sebagai berikut:</p>
<p>ü      Porsi kecil, sering, rendah serat dan rendah laktosa.</p>
<p>ü      Oral atau nasogastrik.</p>
<p>ü      Kalori 100 kkal/kgBB/hari</p>
<p>ü      Protein 1 – 1,5 gr/kgBB/hari.</p>
<p>ü      Cairan 130 ml/kgBB/hari.</p>
<ul>
<li>Fase Transisi (Minggu ke-2)</li>
</ul>
<p>Fase pemberian makanan secara perlahan-lahan untuk menghindari resiko gagal jantung dan intoleransi saluran cerna bila anak mengkonsumsi makanan dalam jumlah banyak secara mendadak.</p>
<p>ü      Kalori 150 kkal/kgBB/hari</p>
<p>ü      Protein 2 – 3 gr/kgBB/hari</p>
<p>ü      Cairan 150 ml/kgBB/hari.</p>
<ul>
<li>Fase Rehabilitasi (Minggu ke-3 – 7)</li>
</ul>
<p>Pada masa pemulihan, dibutuhkan berbagai pendekatan secara gencar agar tercapai asupan makanan yang tinggi dan pertambahan BB &gt; 10 gr/kgBB/hari. Awal fase rehabilitasi ditandai dengan timbulnya selera makan, biasanya 1 – 2 minggu setelah dirawat.</p>
<p>Setelah masa transisi dilampaui, anak diberi:</p>
<p>ü      Makanan/formula dengan jumlah tidak terbatas dan sering.</p>
<p>ü      Energi 150 – 220 kkal/kgBB/hari.</p>
<p>ü      Protein 4 – 6 gr/kgBB/hari</p>
<p>ü      Bila anak masih mendapat ASI, teruskan tetapi beri formula lebih dulu karena energi dan protein ASI tidak akan mencukupi untuk tumbuh kejar.</p>
<ol>
<li>Fasilitasi tumbuh kejar</li>
</ol>
<p>Untuk mengejar pertumbuhan yang tertinggal, anak diberi asupan makanan seperti pada fase-fase tersebut di atas. Untuk itu harus tersedia jumlah asupan makanan yang memadai seperti pada tahapan fase-fase di atas.</p>
<ol>
<li>Sediakan stimulasi sensorik dan dukungan emosi/mental.</li>
</ol>
<p>10.  Siapkan follow up setelah sembuh</p>
<p>Bila berat badan sudah mencapai 80% BB/U dapat dikatakan anak sembuh. Pola pemberian makan yang baik dan stimulasi harus tetap dilanjutkan di rumah setelah penderita dipulangkan. Kepada orang tua disarankan:</p>
<ul>
<li>Membawa anaknya kembali untuk kontrol secara teratur.</li>
<li>Pemberian suntikan/imunisasi ulang (booster).</li>
<li>Pemberian vitamin A setiap 6 bulan.</li>
</ul>
<p>Selain itu atasi penyakit penyerta, yaitu:</p>
<ul>
<li>Defisiensi vitamin A.</li>
<li>Dermatosis.</li>
<li>Penyakit karena parasit/cacing.</li>
<li>Diare berlanjut.</li>
<li>Tuberkulosis, obati sesuai dengan pedoman tuberkulosis.</li>
</ul>
<p><strong>PROGNOSIS</strong></p>
<p>Dengan pengobatan adekuat, umumnya penderita dapat ditolong walaupun diperlukan waktu sekitar 2 – 3 bulan untuk tercapainya berat badan yang diinginkan. Pada tahap penyembuhan yang sempurna, biasanya pertumbuhan fisik hanya terpaut sedikit dibandingkan dengan anak yang sebayanya. Namun kadang-kadang perkembangan intelektualnya akan mengalami kelambatan yang menetap, khususnya kelainan mental dan defisiensi persepsi. Retardasi perkembangan akan lebih nyata lagi bila penyakit ini diderita sebelum anak berumur 2 tahun, ketika masih terjadi proliferasi, mielinisasi dan migrasi sel otak.<sup> 1,4</sup></p>
<p><strong>DAFTAR PUSTAKA</strong></p>
<ol>
<li>Pudjiadi S. Ilmu Gizi Klinis pada Anak. Edisi ke-14. FKUI. Jakarta. 2001; 104-36.</li>
<li>Staf Pengajar Ilmu Kesehatan Anak FKUI. Buku Kuliah Ilmu Kesehatan Anak. Jilid I. FKUI. Jakarta. 1985; 360-66.</li>
<li>Departemen Kesehatan RI. Pedoman Tatalaksana Kurang Energi-Protein pada Anak di Puskesmas dan di Rumah Tangga. Jakarta. 2000; 3-16.</li>
<li>Masnjoer A, dkk. Kapita Selekta Kedokteran. Edisi III. Jilid II. FKUI. Jakarta. 2000; 514-18.</li>
<li>Behrman RE, Voughan VC. Ilmu Kesehatan Anak-Nelson. Edisi ke-12. Bagian I. EGC. Jakarta. 1993; 298-301.</li>
</ol>
<br />Filed under: <a href='http://kadaverboy.wordpress.com/category/medical/pediatric/'>Pediatric</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kadaverboy.wordpress.com/110/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kadaverboy.wordpress.com/110/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kadaverboy.wordpress.com/110/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kadaverboy.wordpress.com/110/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/kadaverboy.wordpress.com/110/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/kadaverboy.wordpress.com/110/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/kadaverboy.wordpress.com/110/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/kadaverboy.wordpress.com/110/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kadaverboy.wordpress.com/110/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kadaverboy.wordpress.com/110/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kadaverboy.wordpress.com/110/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kadaverboy.wordpress.com/110/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kadaverboy.wordpress.com/110/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kadaverboy.wordpress.com/110/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kadaverboy.wordpress.com&amp;blog=10509290&amp;post=110&amp;subd=kadaverboy&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kadaverboy.wordpress.com/2010/05/16/marasmus/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/79101c68fd37f3d533c67a75acf4af69?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">kadaverboy</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>TETANUS NEONATORUM</title>
		<link>http://kadaverboy.wordpress.com/2010/05/16/tetanus-neonatorum/</link>
		<comments>http://kadaverboy.wordpress.com/2010/05/16/tetanus-neonatorum/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 16 May 2010 03:18:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kadaverboy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pediatric]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kadaverboy.wordpress.com/?p=107</guid>
		<description><![CDATA[1.  PENDAHULUAN Tetanus neonatorum merupakan penyebab kejang yang sering dijumpai pada bayi baru lahir, yang bukan karena trauma kelahiran atau asfiksia tetapi disebabkan oleh infeksi selama neonatal, yang antara lain terjadi sebagai pemotongan tali pusat atau perawatan yang tidak aseptik. Perjalanan penyakit seperti pada tetanus anak, tetapi lebih cepat dan berat. Dimana tetanus ini merupakan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kadaverboy.wordpress.com&amp;blog=10509290&amp;post=107&amp;subd=kadaverboy&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>1.  PENDAHULUAN</strong><strong><br />
</strong></p>
<p>Tetanus neonatorum merupakan penyebab kejang yang sering dijumpai pada bayi baru lahir, yang bukan karena trauma kelahiran atau asfiksia tetapi disebabkan oleh infeksi selama neonatal, yang antara lain terjadi sebagai pemotongan tali pusat atau perawatan yang tidak aseptik.</p>
<p>Perjalanan penyakit seperti pada tetanus anak, tetapi lebih cepat dan berat. Dimana tetanus ini merupakan penyakit infeksi akut yang menunjukan gangguan neuromuskuler akut. Tetanus neonatorum juga tidak dibagi menjadi 3 stadium seperti tetanus anak.</p>
<p><strong> 2. DEFINISI</strong></p>
<p>Tetanus neonatorum adalah kelainan neurologik yang terdapat pada neonatal, yang ditandai oleh peningkatan tonus dan spasme otot, yang disebabkan oleh tetanospasmin, suatu toksin protein kuat yang dihasilkan oleh clostridium tetani.</p>
<p><strong> 3.  ETIOLOGI</strong></p>
<p>Penyebab penyakit ini adalah clostridium tetani yang hidup anaerob. Kuman ini mudah dikenal karena pembentukan spora dan karena bentuk yang khas, tersebar luas di tanah dan mengeluarkan toksin bila dalam kondisi baik. Sporanya dapat bertahan sampai bertahun-tahun bila tidak kena sinar matahari, tersebar luas di tanah dan mengeluarkan toksin bila dalam kondisi baik. Toksin daripada tetanus ini dapat menghancurkan sel darah merah, merusak leukosit dan merupakan tetanospasmin, yaitu toksin yang neurotropik dapat menyebabkan ketegangan dan spasme otot.</p>
<p>Selain itu juga tidak jarang ditemukan pada feses manusia, juga pada feses kuda, anjing, dan kucing.</p>
<p><strong> 4.  MIKROBIOLOGI</strong></p>
<p>Kuman ini adalah kuman gram-positif berbentuk batang yang anaerob, motil, yang berbentuk spora terminalis berbentuk lonjong yang tak berwarna. Spora ini menyerupai bentuk raket tenis atau drum stick. Tetanospasmin dibentuk pada sel vegetatif di bawah kendali plasmid. Toksin ini merupakan rantai polipeptida tunggal.</p>
<p><strong>5. </strong><strong>EPIDEMIOLOGI</strong></p>
<p>Penyakit tetanus biasanya timbul di daerah yang mudah terkontaminasi dengan tanah dengan kebersihan dan perawatan luka yang buruk. Tetanus terdapat secara sporadik dan hampir selalu menjangkiti orang yang tak kebal atau sebagian kebal, atau orang yang terimunisasi lengkap tetapi yang gagal mempertahankan kekebalan yang adekuat dengan dosis “<em>booster</em>” vaksin. Walaupun dapat dicegah sama sekali dengan imunisasi, di seluruh dunia beban penyakit ini besar sekali. Di negara yang tanpa program imunisasi utama, tetanus neonatal dan tetanus pada orang muda mendominasi. Di seluruh dunia diperkirakan 800.000 neonatus meningggal setiap tahun akibat tetanus.</p>
<p><strong>6. </strong><strong>PATOGENESIS</strong></p>
<p>Kontaminasi luka dengan spora mungkin sering. Biasanya penyakit ini terjadi setelah luka tusuk yang dalam misalnya luka yang disebabkan tertusuk paku, pecahan kaca, kaleng, atau luka tembak, dimana luka tersebut menimbulkan keadaan anaerob yang ideal. Selain itu luka laserasi yang kotor, luka bakar dan patah tulang terbuka juga akan menimbulkan keadaan anaerob.</p>
<p>Sedangkan pada tetanus neonatorum luka yang terjadi akibat pemotongan tali pusat dengan alat-alat yang tidak steril atau perawatan tali pusat yang salah. Dimana clostridium tetani masuk ke dalam tubuh melalui luka. Pada neonatus/bayi baru lahir clostridium tetani dapat masuk melalui umbilikus setelah tali pusat dipotong tanpa memperhatikan kaidah asepsis antisepsis.</p>
<p>Bentuk spora akan berubah menjadi bentuk vegetatif bila lingkungannya memungkinkan untuk berubah bentuk dan kemudian mengeluarkan eksotoksin. Kuman tetanus sendiri tetap tinggal di daerah luka. Kuman ini membentuk dua macam eksotoksin yang dihasilkan yaitu tetanolisin dan tetanospasmin. Toksin ini diabsorpsi oleh organ saraf di ujung saraf motorik dan diteruskan melalui saraf sampai sel ganglion dan susunan saraf pusat dan terikat dengan sel saraf, toksin tersebut tidak dapat dinetralkan lagi.</p>
<p><strong>7. </strong><strong>GEJALA KLINIS</strong></p>
<p>Masa tunas biasanya 5 – 14 hari, kadang-kadang sampai beberapa minggu pada infeksi ringan atau kalau terjadi modifikasi penyakit oleh antiserum.</p>
<p>Penyakit ini terjadi biasanya secara mendadak dengan ketegangan otot yang mungkin bertambah terutama pada rahang dan leher. Dalam 48 jam penyakit ini menjadi nyata dengan :</p>
<ul>
<li>Malas minum, mudah terangsang dan anak menangis terus menerus.</li>
<li>Tidak sanggup mengisap dan belakangan bayi berhenti menangis karena rahang sukar dibuka disebabkan terjadinya kekakuan.</li>
<li>Kemudian diikuti kekakuan pada seluruh tubuh disertai kejang yang tersentak (<em>intermiten</em> <em>jerking</em> <em>spasm</em>), terutama hal ini terjadi bila ada rangsangan dari luar seperti suara yang keras, cahaya dan tactile stimuli antara lain bila dipegang pada pemberian injeksi untuk pengobatan dan pada waktu pengisapan lendir.</li>
<li>Mulut mencucur, dan bila bayi menangis suaranya tangisan tidak jelas, terdengar seperti mendesir.</li>
<li>Suhu meninggi (sub febris)</li>
<li>Kaku kuduk</li>
<li>Opistotonus</li>
<li>Kesadaran pulih setelah kejang</li>
</ul>
<p><strong>8. </strong><strong>DIAGNOSIS</strong></p>
<p>Diagnosis tetanus neonatorum biasanya dapat ditegakan berdasarkan pemeriksaan klinis. Biasanya tidak sukar, anamnesis terdapat luka dan ketegangan otot yang khas terutama pada rahang sangat membantu.</p>
<p>Biasanya pada pemeriksaan laboratorium didapati peninggian leukosit, pemeriksaan cairan otak biasanya normal, dan pada pemeriksaan elektromiogram dapat memperlihatkan adanya lepas muatan unit motorik secara terus-menerus dan pemendekan atau tanpa interval yang tenang, yang biasanya tampak setelah potensial aksi.</p>
<p>Keadaan lain yang mungkin dapat dikacaukan dengan tetanus adalah meningitis/ensefalitis, rabies, dan proses intra abdomen akut (karena abdomen yang kaku). Peninggian nyata tonus pada otot pusat (wajah, leher, dada, punggung, dan perut), disertai spasme generalisata yang menjadi tersamar dan bebas gejala pada tangan dan kaki, maka kuat mendukung adanya tetanus.</p>
<p><strong>9. </strong><strong>KOMPLIKASI</strong></p>
<ul>
<li>Spasme otot faring yang menyebabkan terkumpulnya air liur (saliva) di dalam rongga mulut dan hal ini memungkinkan terjadinya aspirasi sehingga dapat terjadi pneumonia aspirasi.</li>
<li>Aspiksia.</li>
<li>Atelektasis karena obstruksi oleh sekret.</li>
<li>Fraktur kompresi.</li>
</ul>
<p><strong>10. </strong><strong>PROGNOSIS</strong></p>
<p>Dipengaruhi oleh beberapa faktor dan akan buruk bila:</p>
<ul>
<li>Masa tunas yang pendek (kurang dari 7 hari).</li>
<li>Usia yang sangat muda (neonatus) dan usia lanjut.</li>
<li>Disertai frekwensi kejang yang tinggi.</li>
<li>Kenaikan suhu tubuh yang tinggi.</li>
<li>Pengobatan yang terlambat.</li>
<li>Periode of onset yang pendek (jarak antara trismus dan timbulnya kejang).</li>
<li>Serta adanya komplikasi terutama pada otot pernapasan dan obstruksi saluran pernapasan.</li>
</ul>
<p>Mortalitas untuk bagian Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia – RSCM Jakarta di dapatkan angka 80% untuk tetanus neonatorum.<strong> </strong></p>
<p><strong>11. </strong><strong>PENCEGAHAN</strong></p>
<ul>
<li>Mencegah terjadinya luka.</li>
<li>Perawatan yang adekuat.</li>
<li>Pemberian ATS (anti tetanus serum) dalam beberapa jam setelah terkena luka.</li>
<li>Pemberian TT (tetanus toxoid) pada anak yang belum mendapat imunisasi.</li>
<li>PP (penisilin prokain) selama 2 – 3 hari setelah mendapat luka berat.</li>
<li>Tetanus toxoid yang diberikan 3 kali berturut-turut pada trimester ketiga kehamilan dikatakan sangat bermakna mencegah tetanus neonatorum. Hendaknya sterilitas diperhatikan benar pada waktu pemotongan tali pusat dan demikian pula perawatan tali pusat selanjutnya</li>
</ul>
<p><strong>12. </strong><strong>PENGOBATAN</strong><br />
Diberikan cairan intra vena (IVFD) dengan larutan glukosa 5% :  NaCl fisiologis = 4 : 1 selama 48 – 72 jam sesuai dengan kebutuhan, sedangkan selanjutnya IVFD hanya untuk memasukan obat.</p>
<p>Bila sakit penderita lebih dari 72 jam atau sering kejang atau apnoe, diberikan larutan glukosa 10% : Natrium bikarbonat 1,5% = 4 : 1 (sebaiknya jenis cairan yang dipilih disesuaikan dengan hasil pemeriksaan analisa gas darah).</p>
<p>Bila setelah 72 jam belum mungkin diberikan minuman per oral, maka melalui cairan infus perlu diberikan tambahan protein dan kalium.</p>
<ol>
<li>Diazepam dosis awal 2,5 mg intra vena perlahan-lahan selama 2 – 3 menit. Dosis rumat 8 – 10 mg/kgBB/hari melalui IVFD (diazepam dimasukan ke dalam caian intravena dan diganti tiap 6 jam).</li>
</ol>
<p>Bila kejang masih sering timbul, boleh diberikan diazepam tambahan 2,5 mg secara intra vena perlahan-lahan dalam 24 jam boleh diberikan tambahan diazepam 5 mg/kgBB/hari. Sehingga dosis diazepam keseluruhan menjadi 15 mg/kgBB/hari. Setelah keadaan klinisnya membaik, diazepam diberikan per oral dan diturunkan secara bertahap.</p>
<p>Pada penderita dengan hiperbilirubinemia berat atau makin berat diberikan diazepam per oral dan setelah bilirubin turun boleh diberikan diazepam intravena.</p>
<ol>
<li>ATS 10.000 U/hari dan diberikan selama 2 hari berturut-turut.</li>
<li>Ampisilin 100 mg/kgBB/hari dibagi 4 dosis secara intra vena selama 10 hari.</li>
</ol>
<p>Bila terdapat gejala sepsis hendaknya penderita diobati seperti penderita sepsis pada umumnya dan kalau pungsi lumbal tidak dapat dilakukan, maka penderita diobati sebagai penderita meningitis bakterial.</p>
<ol>
<li>Tali pusat dibersihkan dengan alkohol 70% dan betadine.</li>
<li>Perhatikan jalan napas, diuresis dan keadaan vital lainnya. Bila banyak lendir jalan napas harus dibersihkan dan bila perlu diberikan oksigen.</li>
</ol>
<p><strong>13. </strong><strong>PERAWATAN</strong></p>
<p>Os ditempatkan di tempat terhindar dari rangsangan yang berlebihan, observasi untuk mengurangi rangsangan sekecil mungkin, catat pols, frekuensi napas, frekuensi kejang dan lamanya kejang. Perubahan posisi 2 – 4 jam dan fisioterapi pasif pada daerah tangan, kaki, dan dada.</p>
<p><strong>Daftar Pustaka</strong></p>
<ol>
<li>Behrman RE, Vaughan VC. Ilmu Kesehatan Anak – Nelson, Edisi ke-12, Bagian ke-2. Nelson WE, Ed. EGC, Jakarta, 1993; 212-126.</li>
<li>Garna H, Widjaya J, Rustama DS, Rahman O, Sjahrodji AM. Pedoman Terapi Ilmu Kedokteran, Bagian Ilmu Kesehatan Anak FK UNPAD. Bina Budaya Bandung, Bandung, 1993; 84-85, 103-104.</li>
<li>Latief A, Napitupulu PM, Pudjiadi A, Ghazali MV, Putra ST. Buku Kuliah Ilmu Kesehatan Anak, Jilid ke-2. Hassan R, Alatas H, Ed.  Bagian Ilmu Kesehatan Anak FK UI, Infomedika, Jakarta, 1997.</li>
<li>Masnjoer A, dkk. Kapita Selekta Kedokteran. Edisi III. Jilid II. FKUI. Jakarta. 2000.</li>
<li>Ngastiah. Perawatan Anak Sakit. Setiawan, Ed. EGC. Jakarta. 1997; 351-57.</li>
</ol>
<br />Filed under: <a href='http://kadaverboy.wordpress.com/category/medical/pediatric/'>Pediatric</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kadaverboy.wordpress.com/107/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kadaverboy.wordpress.com/107/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kadaverboy.wordpress.com/107/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kadaverboy.wordpress.com/107/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/kadaverboy.wordpress.com/107/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/kadaverboy.wordpress.com/107/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/kadaverboy.wordpress.com/107/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/kadaverboy.wordpress.com/107/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kadaverboy.wordpress.com/107/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kadaverboy.wordpress.com/107/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kadaverboy.wordpress.com/107/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kadaverboy.wordpress.com/107/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kadaverboy.wordpress.com/107/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kadaverboy.wordpress.com/107/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kadaverboy.wordpress.com&amp;blog=10509290&amp;post=107&amp;subd=kadaverboy&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kadaverboy.wordpress.com/2010/05/16/tetanus-neonatorum/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/79101c68fd37f3d533c67a75acf4af69?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">kadaverboy</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kriptorkismus dan Penatalaksanaannya</title>
		<link>http://kadaverboy.wordpress.com/2010/05/16/kriptorkismus-dan-penatalaksanaannya/</link>
		<comments>http://kadaverboy.wordpress.com/2010/05/16/kriptorkismus-dan-penatalaksanaannya/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 16 May 2010 03:06:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kadaverboy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pediatric]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kadaverboy.wordpress.com/?p=104</guid>
		<description><![CDATA[Pendahuluan Kriptorkismus adalah suatu keadaan di mana setelah usia satu tahun1,2 satu atau kedua testis tidak berada di dalam kantong skrotum1-6, tetapi berada di salah satu tempat sepanjang jalur desensus yang normal7-10. Kriptorkismus berasal dari kata cryptos (Yunani) yang berarti tersembunyi dan orchis yang dalam bahasa latin disebut testis8. Nama lain dari kriptorkismus adalah undescended [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kadaverboy.wordpress.com&amp;blog=10509290&amp;post=104&amp;subd=kadaverboy&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pendahuluan</strong></p>
<p>Kriptorkismus adalah suatu keadaan di mana setelah usia satu tahun1,2 satu atau kedua testis tidak berada di dalam kantong skrotum1-6, tetapi berada di salah satu tempat sepanjang jalur desensus yang normal7-10.</p>
<p>Kriptorkismus berasal dari kata <em>cryptos</em> (Yunani) yang berarti tersembunyi dan <em>orchis</em> yang dalam bahasa latin disebut testis8. Nama lain dari kriptorkismus adalah <em>undescended testis3-6,8,9,11-22</em>, tetapi mesti dijelaskan lagi apakah yang dimaksud sebagai kriptorkismus murni, testis ektopik8,16 ataupun pseudo kriptorkismus8,21. Testis yang berlokasi di luar jalur desensus yang normal disebut sebagai testis ektopik, sedangkan testis yang terletak tidak di dalam skrotum tetapi dapat didorong masuk ke dalam skrotum dan menaik lagi bila dilepaskan dinamakan pseudokriptorkismus atau testis retraktil.8</p>
<p>Testis yang terletak tidak di dalam skrotum akan mengganggu spermatogenesis21, meningkatkan kemungkinan terjadinya torsi dan keganasan9,23. Alasan utama kenapa testis harus diturunkan adalah agar testis ini dan testis kontra lateral yang normal tidak mengalami kerusakan pada tubulus seminiferus24 sehingga infertilitas dapat dicegah3,5,6,11,15,18,19,24-6.</p>
<p>Insidens <em>undescended testis</em> pada bayi baru lahir adalah 3&#8211;6%25; 1,8% pada usia satu bulan22,27,28 dan 1,5% pada usia 3 bulan28; serta 0,5&#8211;0,8% pada anak usia satu tahun8,9. Pada bayi cukup bulan, 3% di antaranya menderita kriptorkismus18,29,30 dan pada bayi kurang bulan insidensnya lebih tinggi6,16,31, sekitar 33%18,30. Pada bayi berat lahir rendah insidennya juga tinggi6,27.</p>
<p>Kriptorkismus unilateral insidensnya lebih banyak daripada yang bilateral7,10,28,32 dan lokasinya sebagian besar di kiri (52,1% kiri dan 47,9% kanan)33.</p>
<p>Kriptorkismus merupakan gangguan diferensiasi seksual yang paling sering terjadi pada laki-laki11,18,27,34, pada penderita defisiensi gonadotropin seperti penderita sindrom Kallman, Prader-Willi, <em>Lawrence-Moon-Biedl</em>, dan pada beberapa sindrom dengan gangguan biosintesis testosteron9,10,32.</p>
<p>Di Inggris, insidens kriptorkismus meningkat lebih dari 50% pada 1965&#8211;198533,35. Baru-baru ini, dilaporkan meningkatnya angka kejadian kriptorkismus di Inggris, Amerika Serikat, dan Amerika Selatan36. Di  Bagian I. Kes. Anak FKUI-RSUPNCM dari 1987&#8211;1993 didapatkan 82 anak dengan kriptorkismus9,23 sedangkan di Bagian I. Kes. Anak FKUSU-RSUP H. Adam Malik Medan dari 1994&#8211;1999 didapatkan 15 kasus.</p>
<p>Untuk mereposisi testis ke dalam skrotum, dilakukan terapi hormonal dan pembedahan. Walaupun masih diperdebatkan9,23,37, terapi hormonal tetap digunakan sebelum intervensi bedah dilakukan5,9,23,25,31,38, karena diduga terapi hormonal dengan HCG memfasilitasi terapi bedah16.</p>
<p>Hormon yang digunakan untuk terapi kriptorkismus antara lain <em>Human Chorio Gonadotropic Hormone</em> (HCG), <em>Luteinizing Hormone Releasing Hormone</em> (LHRH), dan kombinasi LHRH dengan HCG9,23.</p>
<p>Terapi hormonal pada penderita kriptorkismus telah dilakukan sejak 1930 dengan menggunakan substansi gonadotropin yang berasal dari urine wanita hamil. Pengobatan yang dilakukan oleh berbagai ahli memberikan hasil yang bervariasi, tergantung dari metode atau protokol pengobatan yang dipergunakan23. Tulisan ini bertujuan untuk mengemukakan tentang kriptorkismus dan penatalaksanaannya.<strong> </strong></p>
<p><strong>Etiologi dan Patogenesis</strong></p>
<p>Penyebab kriptorkismus mungkin berbeda antara satu kasus dengan yang lainnya39. Namun, sebagian besar tidak diketahui penyebabnya22,40. Ada beberapa hal yang berhubungan dengannya, yaitu :</p>
<ol>
<li>Disgenesis gonadal<br />
Banyak kasus kriptorkismus yang secara histologis normal saat lahir,      tetapi testisnya menjadi atrofi/disgenesis pada akhir usia 1 tahun dan      jumlah sel germinalnya sangat berkurang pada akhir usia 2 tahun2,10,16,21.</li>
<li>Mekanis/kelainan anatomis lokal<br />
Testis yang kriptorkismus sering disertai dengan arteri spermatika yang      pendek8, terganggunya aliran darah21, hernia6,15,17, kurang panjangnya vas      deferens8,10, abnormalnya ukuran kanalis inguinalis atau cincin inguinal      superfisial, kurangnya tekanan abdominal dan tarikan gubernakulum untuk      mendorong testis ke cincin inguinal10,30, serta adanya kelainan      epididimis17.</li>
<li>Endokrin/hormonal<br />
Meliputi kelainan aksis hipotalamus-hifofise testis17,27,31 atau kurang      sensitifnya androgen17. Dilaporkan desensus testis tidak terjadi pada      mamalia yang hipofisenya telah diangkat8. Diduga terjadinya defisiensi      androgen prenatal merupakan faktor yang utama bagi terjadinya      kriptorkismus5,7. Tingginya insidens <em>undescended</em> testis pada bayi      prematur, diduga terjadi karena tidak adekuatnya HCG menstimulasi      pelepasan testosteron pada masa fetus akibat imaturnya sel <em>leydig</em> dan aksis hipotalamus-hifofise testis32. Ada laporan bahwa tidak aktifnya hormon <em>Insulin-Like      Factor 3</em> (Insl3) sangat mempengaruhi desensus testis pada tikus. <em>Insulin-Like      Factor 3</em> (Insl3) diperlukan untuk diferensiasi dan proliferasi      gubernakulum26.</li>
<li>Genetik/herediter<br />
Kriptorkismus termasuk di antara gejala-gejala berbagai sindrom malformasi      yang berhubungan dengan atau tanpa kelainan kromosom yang bersifat      herediter8. Dilaporkan adanya tiga anak bersaudara dengan kriptorkismus      yang disertai dengan defisiensi gonadotropin dan kongenital adrenal      hipoplasia41. Corbus dan O&#8217;Conor (1922) melaporkan beberapa generasi dalam      satu keluarga yang menderita kriptorkismus. Perrett dan O&#8217;Rourke (1969)      menemukan delapan kasus kriptorkismus unilateral kanan pada empat generasi      dalam satu keluarga42.</li>
<li>Nervus genitofemoralis<br />
Berkurangnya <em>&#8220;stimulating substances&#8221;</em> yang diproduksi      oleh nervus genitofemoralis17.</li>
</ol>
<p>Mekanisme yang berperan dalam proses turunnya testis belum seluruhnya dapat dimengerti. Adanya bukti bahwa untuk turunnya testis ke dalam skrotum, memerlukan aksi androgen yang memerlukan aksis hipotalamus-hipofise-testis yang normal8,9,11,23. Mekanisme aksi androgen untuk merangsang desensus testis tidak diketahui8,9,11,23, tetapi diduga membantu pembentukan, pembesaran, dan proses degenerasi prosessus vaginalis9,23. Diduga, organ sasaran androgen kemungkinan adalah gubernakulum, suatu pita fibro muskular yang terkait pada testis-epididimis dan pada bagian bawah dinding skrotum, yang pada minggu-minggu terakhir kehamilan berkontraksi dan menarik testis ke dalam skrotum.<strong> </strong></p>
<p><strong>Klasifikasi</strong></p>
<p>Kriptorkismus dapat diklasifikasi berdasarkan etiopatogenesis dan lokasi.</p>
<p>Klasifikasi berdasarkan etiopatogenesis:</p>
<ol>
<li>Mekanik/anatomik (perlekatan-perlekatan, kelainan      kanalis inguinalis, dan lain-lain)</li>
<li>Endokrin/hormonal (kelainan aksis      hipotalamus-hipofise-testis)</li>
<li>Disgenetik (kelainan interseks multiple)</li>
<li>Herediter/genetik</li>
</ol>
<p>Klasifikasi berdasarkan lokasi:</p>
<ol>
<li>Skrotal tinggi (supra skrotal) : 40%</li>
<li>Intra kanalikular (inguinal) : 20%</li>
<li>Intra abdominal (abdominal) : 10%</li>
<li>Terobstruksi : 30%</li>
</ol>
<p>Ada juga yang memakai klasifikasi berdasarkan lokasi sebagai berikut 9,23: (1) Intra abdominal; (2) Inguinal; (3) Preskrotal; (4) Skrostal; dan (5) Retraktil.<strong> </strong></p>
<p><strong>Diagnosis</strong></p>
<p>Biasanya, orang tua membawa anak ke dokter dengan keluhan skrotum anaknya kecil, dan bila disertai dengan hernia inguinalis dijumpai adanya pembengkakan atau nyeri yang berulang20. <em></em></p>
<p><em>Anamnesa ditanyakan:</em></p>
<ol>
<li>Pernahkah      testisnya diperiksa, diraba sebelumnya di skrotum1,28.</li>
<li>Ada/tidak      adanya kelainan kongenital yang lain seperti hipospadia, interseks,      prune-belly syndrom, dan kelainan endokrin lainnya1.</li>
<li>Ada/tidaknya      riwayat kriptorkismus dalam keluarga1.</li>
</ol>
<p><em>Pemeriksaan Fisik</em></p>
<ol>
<li>Penentuan Lokasi Testis</li>
</ol>
<p>Pemeriksaan testis pada anak harus dilakukan dengan tangan yang hangat pada posisi duduk dengan tungkai dilipat atau dalam keadaan rileks pada posisi tidur. Kemudian testis diraba dari inguinal ke arah skrotum dengan cara milking. Bisa juga dengan satu tangan berada di kantong skrotum sedangkan tangan yang lainnya memeriksa mulai dari daerah spina iliaka anterior superior (SIAS) menyusuri inguinal ke kantong skrotum. Hal ini dilakukan supaya testis tidak bergerak naik/retraksi, karena pada anak refleks kremasternya cukup aktif. Refleks ini akan menyebabkan testis bergerak ke atas/retraktil sehingga menyulitkan penilaian1,9,23.</p>
<p>Penentuan posisi anatomis testis sangat penting dilakukan sebelum terapi, karena berhubungan dengan keberhasilan terapi9. Karena, sebagian dari penderita mempunyai testis yang retraktil yang kadang-kadang tidak memerlukan terapi. Testis yang retraktil ini sudah turun pada waktu lahir, tetapi tidak ditemukan di dalam skrotum pada pemeriksaan, kecuali bila anaknya dalam keadaan rileks9.</p>
<ol>
<li>Ditentukan apakah testisnya <em>palpable</em> atau <em>impalpable</em>1,27,28,30</li>
<li>Bila <em>palpable</em>, kemungkinannya adalah28:      retraktil testis; <em>undescended testis;</em> <em>ascending testis syndrom</em> (testisnya di dalam skrotum atau retraktil, tetapi kemudian menjadi letak      tinggi karena pendeknya <em>spermatic cord</em>. Biasanya baru diketahui      pada usia 8&#8211;10 tahun) atau ektopik testis (desensus testisnya hanya      normal sampai di kanalis inguinalis, tetapi kemudian menyimpang ke      perineum atau ke <em>the femoral triangle</em>.</li>
<li>Kalau <em>impalpable</em>, kemungkinannya adalah      testisnya bisa berada di intra kanalikular1, di intra abdominal1,28,      testisnya lebih kecil28,30, atau testisnya tidak ada sama sekali1,28. Pada      testis <em>impalpable</em>, sering disertai hernia, kelainan duktus, dan      sering berdegenerasi menjadi ganas30. Pada bayi merupakan risiko tinggi      adanya kelainan seperti interseksual, <em>prune belly syndrom</em>. Ini      harus segera dirujuk untuk pemeriksaan analisis kromosom dan endokrin28.</li>
<li>Pemeriksaan teliti dilakukan untuk melihat adanya      sindrom-sindrom yang berhubungan dengan kriptorkismus, seperti sindrom      Kleinefelter, sindrom Noonan, sindrom Kallman, sindrom Prader Willi, dan      lain-lain9,23. Dianjurkan melakukan skrining pada saat lahir, usia 6      minggu, usia 8 bulan48, dan saat usia 5 tahun49. Pada bayi kurang bulan,      dianjurkan melakukan skrining pada usia 3 bulan karena banyaknya turun      testis pada usia 3 bulan dibandingkan dengan bayi yang cukup bulan.35</li>
</ol>
<p><em>Pemeriksaan Penunjang</em></p>
<ol>
<li>Pemeriksaan Laboratorium</li>
</ol>
<p>Pada kriptorkismus bilateral yang <em>impalpable</em>50, diperiksa kadar testosteron pada usia 4 bulan, karena bila lebih dari 4 bulan diperlukan uji stimulasi HCG untuk melihat ada tidaknya testis. Pada uji HCG, penderita diberikan suntikan 1500 IU HCG intramuskular setiap hari selama 3 hari berturut-turut. Sebelum dan 24 jam setelah penyuntikan HCG, diperiksa kadar testosteron plasma. Bila didapatkan peningkatan kadar testosteron yang bermakna, berarti terdapat testis pada penderita8,23,37. Bila tidak ada respons serta kadar FSH dan LH meningkat, dicurigai adanya anorchia kongenital2,22,50.</p>
<ol>
<li>Pemeriksaan Radiologis</li>
</ol>
<p>Ultrasonografi</p>
<p>Sudah digunakan untuk mendeteksi kasus Kriptorkismus oleh ahli radiologi dan klinisi sejak 1970. Keuntungannya adalah fasilitas pemeriksaan USG mudah didapat, bebas radioaktif, non-invasif, praktis, dan relatif murah51. Pemeriksaan ini dianjurkan untuk testis yang berlokasi di kanalis inguinalis8 dan terhadap testis yang besar yang terletak di Juxta vesikal30. Firman K51 meneliti dengan memakai USG di subbagian pencitraan I. Kes. Anak FKUI-RSUPNCM selama 6 bulan (Januari 1994 sampai Juni 1994) terhadap 21 pasien. Ternyata, hanya 2 (9,5%) yang berhasil ditemukan lokasi testisnya, yaitu di daerah inguinal sedangkan pemeriksaan CT Scanning tidak dilakukan. Angka keberhasilan ini masih jauh berbeda dengan penelitian di luar negeri, yang antara lain dilakukan oleh Madrazo B.L. dan Klugo R.C. (60%),52 serta Michael K., Erik H. dan Elisabeth H. (65%)53.</p>
<p>CT scanning</p>
<p>Pemeriksaan ini mempunyai akurasi yang lebih tinggi terhadap testis yang lokasinya di intra abdominal dan sudah dibuktikan pada saat operasi53.</p>
<p>MRI</p>
<p>Dilakukan bila hasil pemeriksaan USG meragukan51.</p>
<p>Angiografi dilakukan terhadap kasus yang telah dilakukan eksplorasi inguinal, tetapi tidak dijumpai testis12.</p>
<p>Intravena urografi dikerjakan secara selektif pada kasus yang dicurigai adanya kelainan saluran kemih bagian atas, karena 10% kasus didapati <em>horse shoe kidney,</em> renal hipoplasia, ureteral duplikasi, hidro ureter, dan hidronefrosis7.</p>
<p>Venografi gonadal selektif dilakukan pada testis <em>impalpable</em> dimana telah dilakukan eksplorasi lokal di inguinal, retro peritoneal, dan intra abdominal, tetapi tidak ditemukan testis atau <em>spermatic vessel</em>-nya buntu serta pada kasus yang reoperasi30.</p>
<ol>
<li>Laparoskopi</li>
</ol>
<p>Dilakukan pada usia 1 tahun2 sebagai diagnostik yang paling akurat28 untuk mengetahui lokasi testis sebagai petunjuk untuk melakukan insisi pembedahan, untuk melihat apakah testisnya normal54, apakah vas spermatika buntu, atau adanya vassa di dalam abdomen30. Sebagai terapeutik untuk mereposisi testis yang abnormal54. Sebagian besar testis <em>impalpable</em> ditemukan pada operasi, paling tidak di anulus inguinalis interna30.</p>
<ol>
<li><em>Buccal smear</em> atau analisa kromosom. Dilakukan selektif      terhadap bayi dengan <em>undescended</em> bilateral yang <em>impalpable</em>21,28.</li>
<li>Biopsi. Dilakukan saat pembedahan terhadap testis yang      berlokasi di intra abdominal, yang disertai dengan kelainan genitalia      eksterna atau kelainan kariotip55.</li>
</ol>
<p><strong>Diagnosis Banding</strong></p>
<ol>
<li>Retraktil testis3,4,6,7,15,20,27,28. Ini terjadi karena      hiperaktifnya refleks kremaster pada anak, sehingga testis bergerak ke      kanalis inguinalis7,16,17,20,27,28. Biasanya, retraktil ini bilateral27.</li>
<li>Anorchia bilateral. Pada keadaan ini, didapati      peningkatan kadar gonadotropin dengan testosteron yang rendah serta      kurangnya respons terhadap stimulasi HCG atau tidak ada sama sekali7.</li>
<li>Virilisasi      dari Hiperplasi adrenal kongenital. Pada penderita wanita dengan penyakit      yang berat, terlihat seperti fenotip laki-laki dengan kriptorkismus      bilateral. Karena      itu, diperlukan pemeriksaan <em>buccal smear</em>7.</li>
<li>Ektopik testis20.</li>
</ol>
<p><strong>Komplikasi</strong></p>
<p>1. Hernia. Sekitar 90% penderita kriptorkismus menderita hernia inguinalis ipsilateral7,17,20 yang disebabkan oleh kegagalan penutupan prosesus vaginalis7.</p>
<p>2. Torsi2,7,8,14,16,17,20. Terjadi karena abnormalnya jaringan yang menjangga testis yang kriptorkismus7 dan tingginya mobilitas testis16 serta sering terjadi setelah pubertas27.</p>
<p>3. Trauma7,14,20. Testis yang terletak di atas <em>pubic tubercle</em> mudah terjadi injuri oleh trauma7.</p>
<p>4. Neoplasma. Testis yang mengalami kriptorkismus pada dekade ke-3 atau ke-42,16, mempunyai kemungkinan keganasan 20&#8211;30 kali lebih besar daripada testis yang normal7,27. Kejadian neoplasma lebih besar terhadap testis intra abdominal yang tidak diterapi, atau yang dikoreksi secara bedah saat/setelah pubertas16, bila dibandingkan dengan yang intra kanalikular10,27. Neoplasma umumnya jenis seminoma2,7,8,16-8,21. Namun, ada laporan bahwa biopsi testis saat <em>orchiopexy</em> akan meningkatkan risiko keganasan17,34,56,57.</p>
<p>5. Infertilitas. Kriptorkismus bilateral yang tidak diterapi akan mengalami infertilitas lebih dari 90% kasus, sedangkan yang unilateral 50% kasus7. Testis yang berlokasi di intra abdominal dan di dalam kanalis inguinalis, akan mengurangi spermatogenik, merusak epitel germinal20.</p>
<p>6. Psikologis. Perasaan rendah diri terhadap fisik atau seksual12,20 akibat tidak adanya testis di skrotum16. <strong></strong></p>
<p><strong>Dasar Pertimbangan Terapi Hormonal</strong></p>
<p>Turunnya testis dipengaruhi oleh aksis hipotalamus hipofise testis. Oleh karena itu, digunakan terapi hormonal HCG dan LHRH untuk pengobatan kriptorkismus27. Di samping itu, terapi hormonal akan meningkatkan <em>rugocity skrotum</em>1, ukuran testis1,12,15, vas deferens1, memperbaiki suplai darah1,12, diduga meningkatkan ukuran dan panjang <em>vessel spermatic cord</em>, serta menimbulkan efek kontraksi otot polos gubernakulum untuk membantu turunnya testis20. Terapi hormonal sebaiknya diberikan pada kriptorkismus yang palpable1.</p>
<p>Bila kriptorkismus ini diobati sebelum usia 2 tahun maka fertilitas yang didapatkan berkisar 87%,58 kalau tidak diobati setelah usia 3 tahun maka terjadi penurunan jumlah sel germinal27, spermatogonia27,59, dan sel Leydig27. Jika tidak diturunkan sebelum pubertas, menyebabkan germinal hipoplasia dan mengakibatkan hipospermatogenesis8. Bila diturunkan sewaktu pubertas, 30% menjadikan spermatogenesis yang akseptable. Sedangkan bila diturunkan setelah pubertas maka hasilnya hanya 13,5%8. Dari laporan ini, terlihat bahwa pengobatan dini sangat penting dalam penatalaksanaan kriptorkismus. Dianjurkan agar terapi hormonal dimulai sebelum usia 2 tahun1, dan sebaiknya pada usia 10 bulan sampai 24 bulan23. Di Bagian I. Kes. Anak FKUI-RSUPNCM, terapi dimulai setelah anak berusia di atas 9 bulan, karena setelah usia 9 bulan hampir tidak didapatkan lagi penurunan testis secara spontan9.<strong><em> </em></strong></p>
<p><strong><em>Human Chorio Gonadotropic Hormone</em></strong></p>
<p>HCG ini mempunyai cara kerja seperti LH merangsang sel leydig untuk memproduksi testosteron yang kemudian secara sendiri atau melalui Dihidro-testosteron (DHT) akan menginduksi turunnya testis9.</p>
<p>Schapiro B. (1931) melaporkan keberhasilan terapi HCG terhadap kasus kriptorkismus31. Mosier H.D. (1984) menganjurkan untuk kasus kriptorkismus inguinal bilateral, terapi HCG diberikan setelah anak berusia 4&#8211;5 tahun dengan dosis 1000-4000 IU, diberikan 3 kali seminggu selama 3 minggu60. Garagorri JM, Job JC, Canlorbe, P, dan Chaussain JL (1982) melakukan penelitian terhadap 153 kasus kriptorkismus dengan rentang usia 6&#8211;59 bulan, terdiri dari 109 unilateral dan 44 bilateral, diterapi dengan HCG dosis 500&#8211;1500 IU I.M sebanyak 9 kali dengan selang sehari. Penelitian ini melaporkan kegagalan terapi pada kelompok usia kurang dari 3 tahun dan usia 3&#8211;4 tahun masing-masing 81% dan 55%. Tingginya persentase kegagalan terapi didapatkan pada kasus-kasus dimana dosis HCG &lt; 1000 IU/m2 dan tingginya lokasi testis59. Terapi HCG paling baik diberikan pada kriptorkismus bilateral dengan lokasi testis dekat ke skrotum2,17, tidak dianjurkan untuk kriptorkismus unilateral2, dan testis yang berlokasi di intra abdominal37 atau yang letak tinggi59. Penulis lain menganjurkan untuk kriptorkismus bilateral diberi HCG 3300 units intra muskuler setiap selang sehari (3 X injeksi) dan untuk yang unilateral diberikan 500 units intra muskuler, 3 kali seminggu selama 6,5 minggu (20 X injeksi)7.</p>
<p>Terapi hormonal HCG secara injeksi tidak dilakukan tiap hari. Hal ini untuk mencegah desensitisasi sel leydig terhadap HCG yang dapat menyebabkan <em>steroidogenic refractoriness</em>59 dan dosisnya jangan terlalu tinggi karena dapat menyebabkan refrakternya testis terhadap stimulasi HCG, edema interstisial testis, gangguan tubulus, dan efek toksik pada testis30.</p>
<p>Sebelum dan sesudah penyuntikan, diperiksa kadar testosteron untuk melihat fungsi sel leydig dalam meningkatkan kadar testosteron plasma yang diperlukan untuk proses penurunan testis. Jika tidak ada respons, penyuntikan dapat diulang 6 bulan kemudian23. Kontra indikasi pemakaian HCG adalah kriptorkismus dengan hernia, pasca operasi hernia, <em>orchiopexy</em>, dan testis ektopik30.<strong><em> </em></strong></p>
<p><strong><em>Luteinizing-Hormone-Releasing-Hormone</em></strong></p>
<p>LHRH diberikan pada penderita kriptorkismus dengan maksud merangsang hipotalamus untuk mengeluarkan LH dan FSH yang kemudian akan merangsang sel Leydig untuk mengeluarkan testosteron yang berfungsi dalam proses penurunan testis9,23. LHRH dengan dosis 3 x 400 ug intra nasal selama 4 minggu, menurunkan testis secara komplit berkisar 30&#8211;64% dari kasus dan desensus parsial antara 25&#8211;43% kasus31. LHRH intra nasal dengan dosis 1&#8211;1,2 mg/hari selama 4 minggu tidak menimbulkan efek samping27.</p>
<p>Job JC, Gendrel D, Safar A, et al tidak mendapatkan manfaat yang berarti pada penggunaan LHRH untuk meningkatkan kadar LH terhadap kasus kriptorkismus pada kelompok usia 4&#8211;11 bulan61. Vliet GV, Caufriez A, Robyn C, Wolter R, meneliti 13 anak kriptorkismus unilateral (usia 1,8&#8211;8,5 tahun) dan 13 anak kriptorkismus bilateral (usia 3&#8211;8,5 tahun) dimana tiap anak diberi LHRH (Hoechst, FRG 25 ug/m2) I.V bolus 1 kali. Ternyata, didapati peningkatan kadar FSH basal dan respons FSH terhadap LHRH sama pada kriptorkismus unilateral dan bilateral50. Pengobatan dengan LHRH tidak dilakukan karena hasilnya kurang meyakinkan, tidak tersedianya obat-obat tersebut9,10,27, serta potensinya di bawah HCG37.<strong> </strong></p>
<p><strong>Kombinasi LHRH dengan HCG</strong></p>
<p>Terdapat hipotesis bahwa pemberian HCG dan atau LHRH dapat digunakan pada anak dengan kriptorkismus62. Terapi kombinasi ini dilakukan untuk mengurangi terjadinya relaps pada pengobatan dengan LHRH saja9,23 dan untuk kasus yang testisnya di luar <em>external inguinal ring38</em>.</p>
<p>Waldschmidt J, EL Dessouky M, Friefer A (1987) memberikan LHRH sebanyak 3 kali sehari 400 µg secara intranasal selama 2 minggu, kemudian dilanjutkan dengan pemberian HCG intra muskuler sebanyak 5 kali dengan selang sehari. Dosis HCG yang dipakai sesuai dengan anjuran WHO, yaitu 5 kali 250 µg (usia &lt; 2 tahun), 5 kali 500 µg (usia 3&#8211;5 tahun), dan 5 kali 1000 µg (usia &gt; 5 tahun). Didapatkan penurunan testis sebanyak 86,4% sehingga penderita yang sangat memerlukan tindakan bedah hanya 13,6%. Tetapi, setelah di-<em>follow-up</em> selama 2 tahun, sebagian penderita mengalami relaps dan penurunan testis ini berkurang menjadi 70,6%63.<strong> </strong></p>
<p><strong>Evaluasi Pengobatan</strong></p>
<p>Evaluasi pengobatan dilakukan pada tahap selama pengobatan, pada akhir pengobatan, 1 bulan kemudian, 3 bulan kemudian, 6 bulan, dan 12 bulan kemudian9,23. Penurunan testis dikatakan komplit bila testis desensus ke dalam skrotum, dan dikatakan parsial bila turunnya testis dari abdomen atau <em>inguinal ring</em> turun ke <em>inguinal middle</em> atau lebih rendah59.</p>
<p>Hasil penelitian kriptorkismus yang diberi terapi dengan HCG atau LHRH, tergantung dari:</p>
<ol>
<li>Posisi      testis sebelum pengobatan. Terapi hormonal lebih berhasil pada penderita      dengan lokasi testis di inguinal dibandingkan dengan intra abdominal64.</li>
<li>Umur      penderita saat pengobatan. Hasil terapi lebih baik pada anak-anak dengan      usia lebih besar dibanding anak usia lebih rendah64.</li>
<li>Bilateral/Unilateral      kriptorkismus. Terapi lebih berhasil pada penderita dengan kriptorkismus      bilateral. Hal ini mungkin disebabkan oleh lebih banyaknya ditemukan      penyebab kelainan anatomi pada kriptorkismus unilateral64.</li>
<li>Kegagalan terapi hormonal disebabkan 80% kasus karena      adanya kelainan anatomis17.</li>
</ol>
<p><strong>Efek Samping</strong></p>
<p>Sebelum pengobatan dimulai, kemungkinan terjadinya efek samping ini dijelaskan kepada orangtua. Semua efek samping ini bersifat <em>reversibel9,23</em>. Efek samping pengobatan HCG antara lain: Bertambahnya volume testis64; pembesaran penis30,59,64; ereksi59,64; meningkatnya <em>rugocity skrotum30</em>; kadang-kadang pertumbuhan rambut pubis30,64; pigmentasi30; serta gangguan emosi59,64.</p>
<p>Sedangkan LHRH tidak memberikan efek samping yang berarti9,23. Walaupun banyak sekali <em>&#8220;controled trial&#8221;</em> pemakaian hormonal pada <em>undescended</em> testis dengan hasil yang bervariasi, terapi hormonal tetap merupakan pilihan utama pengobatan sebelum dilakukan tindakan operasi9,23,31,40.<strong> </strong></p>
<p><strong>Terapi Bedah</strong></p>
<p>Terapi bedah dilakukan bila terapi hormonal tidak berhasil1,5,10,27,37, terjadinya obstruksi, hernia yang potensial menimbulkan obstruksi1,10, atau dicurigai terjadinya torsi1, testis yang lokasinya intra abdominal atau letaknya lebih tinggi di atas kanalis inguinalis37. Tindakan bedah dilakukan bisa satu atau dua tahap7, tergantung pada <em>spermatic vessels</em> apakah normal atau sangat pendek27. Tujuannya untuk memobilisasi testis, adekuatnya spermatik, fiksasi testis yang adekuat ke dalam skrotum62, dan operasi hernia yang menyertainya7,27,28,30.</p>
<p>Indikasi <em>orchiopexy</em> (testis difiksasi kedalam skrotum) adalah testis yang lokasinya di intra abdominal dengan tingkat kesulitan operasinya kecil16, dilakukan antara usia 10&#8211;12 bulan17,25, dengan alasan merupakan saat berhentinya perubahan degeneratif testis17, dan dokter bedah anak melakukannya secara elektif pada usia 1&#8211;4 tahun28, serta ada yang menganjurkan sebelum usia pubertas5,25. Orchiopexy dilakukan untuk memperbaiki spermatogenesis, menurunkan risiko keganasan, dan alasan kosmetik4,28. Orchidectomy (testis di eksisi) dilakukan pada testis yang kecil di intra abdominal1, unilateral65, dan yang mengalami atrofi hebat16.<em> </em></p>
<p><em>Action Comitte on Surgery of the Genitalia27</em> dan sebagain penulis3,15 merekomendasikan bahwa <em>Orchiopexy</em> sebaiknya dilakukan pada usia 12 bulan. Ini didasarkan bahwa pada usia 12 bulan terjadi penurunan spontan testis sebanyak 75% kasus dan minimalnya risiko anestesi.</p>
<p>Bila terapi bedah dilakukan pada usia lebih dini, akan meningkatkan risiko iatrogenik atrofinya testis59, dan bila dilakukan pada usia setelah pubertas akan menurunkan jumlah sperma serta terbentuknya antibodi antisperma34. Komplikasi dari terapi bedah berupa trauma vasa sekitar 1&#8211;2% kasus, dan atrofinya testis30 yang disebabkan oleh terganggunya aliran darah25. <strong></strong></p>
<p><strong>Kesimpulan</strong></p>
<p>Diagnosis kriptorkismus ditegakkan setelah usia 1 tahun, walaupun sesudah usia 9 bulan hampir tidak didapatkan lagi penurunan testis secara spontan. Dianjurkan diobati antara usia 10 bulan sampai 24 bulan.</p>
<p>Insiden <em>undescended testis</em> lebih tinggi pada bayi kurang bulan, tetapi ada laporan pada usia 3 bulan desensus testis lebih banyak terjadi dibandingkan dengan bayi cukup bulan. Insidens kriptorkismus pada anak usia 1 tahun sebesar 0,5&#8211;0,8%.</p>
<p>Walaupun penyebab kriptorkismus sebagian besar tidak diketahui, terapi hormonal dianjurkan terutama terhadap kriptorkismus bilateral, lokasi testisnya di inguinal, serta tidak dijumpai kelainan anatomi dan kontra indikasi terhadap HCG.</p>
<p>Terapi hormonal LHRH tidak dianjurkan karena potensinya di bawah HCG, dan sediaan obat ini belum ada di Indonesia. Bervariasinya dosis dan lama pemberian HCG, diperlukan penelitian untuk menilai mana yang lebih baik.</p>
<p>Terapi bedah dilakukan bila tidak ada respons dengan pengobatan hormonal, terjadinya obstruksi, hernia yang potensial menimbulkan obstruksi, atau dicurigai terjadinya torsi. <strong></strong></p>
<p><strong>Daftar Pustaka</strong></p>
<ol>
<li>Mackellar A. Appropriate management of the undescended      testis. <em>Journal of paediatrics, obstettrics and gynaecology</em> 1985;      10(1):23-8.</li>
<li>Pediatric Data Base. <em>Cryptorchidism.</em> Available      from : http://www.icondata.com/health/pedbase/files/cryptorc.html.</li>
<li>Parker RM. <em>Cryptorchidism.</em> Peds      Uro Logic. Available from:      http://www.pedsurologic.com/pamphlets/cryptorchidism/undescen      dedTestes.html.</li>
<li>The Division of Urology, Children&#8217;s Hospital, Boston. Undescended      testes in children.<em> Digital Urology Journal.</em> Available from :      http://www.duj.com/testis.html.</li>
<li>Griffith HW. Testes, undescended      (cryptorchidism). <em>The complete guide to pediatric symptoms, illness      &amp; medicalitions</em> [cited the Putnam Berkley Group. Inc.; electronic      rights by Medical Data Exchange]. Available from:      http://www.thriveonline.com/health/library/pedillsymp/pedillsymp411.html.</li>
<li>Kids Health Org. <em>The facts on undescended testicles.</em> Available from: http://kidshealth.org/parent/healthy/crypro.html.</li>
<li>Braunstein GD. Cryptorchidism. Dalam : Greenspan FS,      Strewler GJ, penyunting. <em>Basic &amp; Clinical endocrinology.</em> Edisi      ke-5. London:      Prentice-Hall, 1997. h.419-20.</li>
<li>Himawan S. Segi patologik kriptokismus. Disampaikan      pada Simposium Sehari Tatalaksana Optimal Kriptorkismis, Jakarta, 13 Agustus, 1994.</li>
<li>Batubara      JRL. <em>Terapi hormonal pada kriptorkismus.</em> Disampaikan pada Simposium      Sehari Tatalaksana Optimal Kriptorkismus, Jakarta, 13 Agustus, 1994.</li>
<li>Santen RJ. Cryptorchidism. Dalam : Felig P, Baxter JD,      Broadus AE, Frohman LA, penyunting. <em>Endocrinology and metabolism.</em> Edisi ke-2. New York:      Mc Graw-Hill, 1987. h.883-6.</li>
</ol>
<br />Filed under: <a href='http://kadaverboy.wordpress.com/category/medical/pediatric/'>Pediatric</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kadaverboy.wordpress.com/104/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kadaverboy.wordpress.com/104/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kadaverboy.wordpress.com/104/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kadaverboy.wordpress.com/104/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/kadaverboy.wordpress.com/104/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/kadaverboy.wordpress.com/104/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/kadaverboy.wordpress.com/104/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/kadaverboy.wordpress.com/104/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kadaverboy.wordpress.com/104/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kadaverboy.wordpress.com/104/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kadaverboy.wordpress.com/104/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kadaverboy.wordpress.com/104/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kadaverboy.wordpress.com/104/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kadaverboy.wordpress.com/104/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kadaverboy.wordpress.com&amp;blog=10509290&amp;post=104&amp;subd=kadaverboy&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kadaverboy.wordpress.com/2010/05/16/kriptorkismus-dan-penatalaksanaannya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/79101c68fd37f3d533c67a75acf4af69?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">kadaverboy</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>TUBERKULOSIS MILIER</title>
		<link>http://kadaverboy.wordpress.com/2010/05/16/tuberkulosis-milier/</link>
		<comments>http://kadaverboy.wordpress.com/2010/05/16/tuberkulosis-milier/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 16 May 2010 02:41:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kadaverboy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pediatric]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kadaverboy.wordpress.com/?p=96</guid>
		<description><![CDATA[PENDAHULUAN Tuberkulosis merupakan penyakit yang sudah sangat lama dikenal oleh manusia, walaupun begitu hingga saat ini TB masih merupakan masalah kesehatan utama di seluruh dunia, terutama di negara-negara yang sedang berkembang termasuk Indonesia, bahkan secara global Indonesia menduduki peringkat ketiga sebagai penyumbang kasus TB terbanyak di dunia.(1) Perbaikan yang mencolok dalam penanganan TB adalah sejak [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kadaverboy.wordpress.com&amp;blog=10509290&amp;post=96&amp;subd=kadaverboy&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>PENDAHULUAN</strong></p>
<p>Tuberkulosis merupakan penyakit yang sudah sangat lama dikenal oleh manusia, walaupun begitu hingga saat ini TB masih merupakan masalah kesehatan utama di seluruh dunia, terutama di negara-negara yang sedang berkembang termasuk Indonesia, bahkan secara global Indonesia menduduki peringkat ketiga sebagai penyumbang kasus TB terbanyak di dunia.<sup>(1)</sup></p>
<p>Perbaikan yang mencolok dalam penanganan TB adalah sejak ditemukannya obat anti-TB pertama yaitu Streptomicin pada tahun 1944 dan disusul oleh obat-obat lain seperti PAS, Isoniazid, Etambutol, Kanamicin dan terakhir Rifampicin (1968) yang terkenal sebagai “revolusi terapi” dalam pengobatan TB<sup>.(2)</sup></p>
<p>Tetapi penanggulangan TB terutama di negara-negara yang sedang berkembang masih belum memuaskan, karena angka kesembuhan hanya mencapai 30% saja, masalah ini disebabkan oleh berbagai hal, yaitu ;</p>
<ol>
<li>Meningkatnya populasi TB sehubungan adanya letusan HIV.</li>
<li>Timbulnya resistensi terhadap beberapa obat anti-TB.</li>
<li>Kurangnya kesadaran akan pentingnya menyelesaikan jangka waktu pengobatan TB tanpa putus.</li>
<li>Kurangnya biaya pengadaan obat anti-TB seperti Rifampicin dan Pirazinamid yang relatif mahal.</li>
<li>Kurangnya perhatian aparat pemerintah terhadap besarnya masalah TB ini dan kurang terpadunya penanggulangannya<sup>.(1)</sup></li>
</ol>
<p>Tuberkulosis anak mempunyai permasalahan khusus yang berbeda dengan orang dewasa. Pada TB anak permasalahan yang dihadapi adalah masalah diagnosa, pengobatan, pencegahan, serta TB pada infeksi HIV dan penurunan daya tahan tubuh. Berbeda dengan TB dewasa, gejala TB pada anak seringkali tidak khas, sehingga sulit untuk mendiagnosanya. TB milier pada anak termasuk salah satu bentuk TB yang berat dan merupakan 3-7 % dari seluruh kasus TB dengan angka kematian yang tinggi (dapat mencapai 25% pada bayi) yang bisa timbul karena tidak terdiagnosisnya TB pada anak sehingga menjadi berat, atau karena pengobatan yang tidak adekuat<sup>.(1)</sup></p>
<p><strong>EPIDEMIOLOGI</strong></p>
<p>Sejak tahun 1990-an dilakukan deteksi terhadap berbagai penyakit yang kembali muncul dan menjadi masalah <em>(re-emerging disease)</em>, terutama di negara maju, salah satunya adalah TB. WHO memperkirakan bahwa sepertiga penduduk dunia (sekitar 2 miliar orang) telah terinfeksi oleh Mycobacterium tuberculosis, dengan angka tertinggi di Afrika, Asia dan Amerika Latin. Tuberkulosis, terutama TB Paru merupakan masalah yang timbul tidak hanya di negara berkembang tetapi juga di negara maju. TB tetap merupakan salah satu penyebab tingginya angka kesakitan dan kematian, baik pada orang dewasa maupun anak-anak. Pada tahun 1989 WHO memperkirakan bahwa setiap tahun terdapat 1,3 juta kasus  baru TB anak dan 450.000 anak usia dibawah 15 tahun meninggal dunia karena TB. TB anak merupakan faktor penting di negara-negara berkembang karena jumlah anak berusia di bawah dibawah 15 tahun adalah 40-50% dari seluruh jumlah populasi.<sup>(1)</sup></p>
<p><strong>DEFINISI</strong></p>
<p>Tuberkulosis adalah penyakit infeksi menular yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberkulosis, paling sering (sekitar 80%) terjadi di paru.(2)</p>
<p>TB Milier merupakan penyakit Limfo-Hematogen sistemik akibat penyebaran kuman M. tuberkulosis dari kompleks primer yang biasanya terjadi dalam waktu 2-6 bulan pertama setelah infeksi awal<sup>.(1)</sup></p>
<p><strong>ETIOLOGI</strong></p>
<p>Penyebab Tuberkulosis adalah Mycobacterium tuberkulosis, kuman berbentuk batang dengan ukuran panjang 1-4 mikrometer dan tebal 0,3-0,6 mikrometer. Mycobacterium tuberkulosis ditemukan pertama kali oleh Robert Koch pada tahun 1882. Sebagian besar kuman terdiri atas asam lemak (lipid) yang membuat kuman lebih tahan terhadap asam sehingga disebut Basil Than Asam (BTA). Dan ia juga lebih tahan terhadap gangguan kimia dan fisis. Kuman dapat tahan hidup pada udara kering maupun dalam keadaan dingin (dapat tahan bertahun-tahun dalam lemari es). Hal ini terjadi karena kuman berada dalam keadaan <em>dormant</em>. Dari sifat <em>dormant</em> ini kuman dapat bangkit kembali dan menjadi tuberkulosis aktif lagi.</p>
<p>Dalam jaringan kuman hidup sebagai parasit intraselular yakni dalam sitoplasma makrofag, kuman ini bersifat aerob dengan demikian lebih menyenangi jaringan yang tinggi kandungan oksigennya.(2)</p>
<p><strong>PATOGENESIS</strong></p>
<p>Sebagian besar kuman Mycobacterium tuberkulosis masuk ke jaringan paru melalui airborne infeksion yang terhirup. Masuknya kuman akan merangsang mekanisme imun nonspesifik, makrofag alveolus akan memfagositosis kuman TB dan biasanya sanggup menghancurkan sebagian besar kuman TB, dengan demikian masuknya kuman tidak selalu menimbulkan penyakit, terjadinya infeksi dipengaruhi oleh virulensi dan banyaknya kuman TB serta daya tahan tubuh yang terkena. Jika virulensi kuman tinggi dan jumlah kuman banyakatau daya tahan tubuh menurun maka makrofag tidak mampu menghancurkan kuman TB dan kuman akan bereplikasi dalam makrofag tersebut. Kuman TB yang terus berkembangbiak akan menyebabkan makrofag lisis, dan kuman TB akan mmbentuk koloni di tempat tersebut yang disebut Fokus Primer Ghon.</p>
<p>Dari Fokus Primer tersebut kuman TB dapat menyebar melalui saluran limfe menuju ke kelenjar limfe regional yang akan menyebbkan terjadinya iflamasi di saluran limfe (Limfangitis) dan kelenjar limfe tersebut (Limfadenitis). Kompleks Primer merupakan gabungan antara Fokus Primer. Limfangitis dan Limfadenitis regional. Masa inkubasi yaitu sampai terbentuknya Kompleks Primer biasanya berlangsung dalam waktu 4-8 minggu.</p>
<p>Apabila virulensi kuman rendah atau jumlah kuman sedikit atau daya tahan tubuh yang baik Kompleks Primer akan mengalami resolusi secara sempurna membentuk fibrosis dan kalsifikasi setelah mengalami nekrosis perkijuan dan enkapsulasi. Begitu juga kelenjar limfe regional akan mengalami fibrosis dan enkapsulasi, tetapi resolusinya biasanya tidak sesempurna Fokus Primer di jaringan paru. Kuman TB dapat tetap hidup dan menetap selama bertahun-tahun dalam kelenjar ini (dormant).</p>
<table cellspacing="0" cellpadding="0" align="left">
<tbody>
<tr>
<td width="11" height="29"></td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>Selain mengalami resolusi Kompleks Primer dapat juga mengalami komplikasi dan dapat menyebar. Penyebaran dapat terjadi secara bronkogen, limfogen dan hematogen.</p>
<p>Pada penyebaran limfogen kuman menyebar ke kelenjar limfe regional membentuk kompleks primer. Sedangkan pada penyebaran hematogen kuman TB masuk ke dalam sirkulasi darah dan menyebar ke seluruh tubuh. Adanya penyebaran hematogen inilah yang menyebabkan TB disebut sebagai penyakit sitemik.</p>
<p>Penyebaran hematogen kuman TB dapat berupa ;</p>
<ol>
<li><em>Occult hematogenic spread</em> (penyebaran hematogenik tersamar).</li>
<li><em>Acute generalized hematogenic spread</em> (penyebaran hematogenik generalisata akut).</li>
<li><em>Protracted hematogenik spread</em> (penyebaran hematogenik berulang-ulang).</li>
</ol>
<p>Tuberkulosis milier merupakan hasil dari penyebaran hematogenik generalisata akut dengan jumlah kuman yang besar. Semua tuberkel yang dihasilkan dari proses ini akan mempunyai ukuran yang lebih kurang sama. Istilah milier berasal dari gambaran lesi diseminata yang menyerupai butir padi-padian/jewawut (millet seed). Secara patologi anatomi lesi ini berupa nodul kuning berukuran 1-3 mm yang tersebar merata (difus) pada paru.</p>
<p>TB milier lebih sering terjadi pada bayi dan anak kecil, terutama usia di bawah 2 tahun, karena imunitas seluler spesifik, fungsi makrofag, dan mekanisme lokal pertahanan paru-nya belum berkembang sempurna sehingga kuman TB mudah berkembangbiak dan menyebar ke seluruh tubuh.</p>
<p>Terjadinya TB milier dipengaruhi oleh 3 faktor, yaitu kuman M. tuberkulosis (jumlah dan virulensi), status imnologis penderita (nonspesifik  dan spesifik) dan faktor lingkungan (kurangnya paparan sinar matahari, perumahan yang padat, polusi udara, merokok, penggunaan alkohol, obat bius serta sosio ekonomi). Beberapa kondisi yang menurunkan sistem imun juga dapat menyebabkan timbulnya TB milier.<sup>(1)</sup></p>
<p><strong>GAMBARAN KLINIS</strong></p>
<p>Manifestasi klinis TB milier dapat bermacam-macam, bergantung pada banyaknya kuman dan jenis organ yang terkena. Gejala yang sering dijumpai adalah keluhan konik yang tidak khas yaitu ;</p>
<ul>
<li>Demam lama (lebih dari 2 minggu) dengan penyebab tidak jelas.</li>
<li>Nafsu makan tidak ada (anoreksia).</li>
<li>Berat badan turun atau gagal tumbuh (dengan demam ringan atau tanpa demam).</li>
<li>Pembesaran kelenjar limfe superfisialis yang tidak sakit dan biasanya multiple.</li>
<li>Batuk lama lebih dari 3 minggu dan sesak napas.</li>
</ul>
<p>TB milier dapat juga diawali dengan serangan akut berupa demam tinggi yang sering hilang timbul (remittent). Gejala klinis biasanya timbul akibat gangguan pada paru, yaitu gejala respiratorik seperti batuk dan sesak napas disertai ronkhi atau mengi<sup>.(1)</sup></p>
<p><strong>DIAGNOSIS</strong></p>
<p>Diagnosis TB milier pada anak dibuat berdasarkan ;</p>
<ol>
<li>Adanya riwayat kontak dengan pasien TB dewasa yang infeksius (BTA positif).</li>
<li>Gambaran radiologis yang khas.</li>
<li>Gambaran klinis.</li>
<li>Uji tuberkulin yang positif.</li>
</ol>
<p>Uji tuberkulin tetap merupakan alat bantu diagnosis TB yang penting pada anak. Uji tuberkulin negatif belum tentu tidak ada infeksi atau penyakit TB atau sebaliknya<sup>.(2)</sup></p>
<p>Pemeriksaan sputum atau bilasan lambung dan kultur M. tuberkulosis tetap penting dilakukan.</p>
<p><strong>PEMERIKSAAN PENUNJANG</strong></p>
<p>Untuk membantu mendiagnosis penyakit TB milier dapat dilakukan pemeriksaan penunjang antara lain ;</p>
<p>1.  Uji tuberkulin.</p>
<p>Disebut juga Mantoux Test, dilakukan dengan cara menyuntikkan 0,1 ml PPD-RT 23 2TU, PPD-S 5 TU atau OT 1/2000 secara intrakutan. Pembacaan dilakukan 48-72 jam setelah penyuntikan dan diukur diameter melintang dari indurasi yang terjadi. Indurasi 0-4 mm negatif, indurasi 5-9 mm masih meragukan, diameter lebih dari 10 mm jelas positif.</p>
<p>2.  Pemeriksaan radiologis.</p>
<p>Gambaran radiologis TB milier sangat khas, berupa tuberkel halus (millii) yabg tersebar merta (difus) di seluruh lapangan paru, dengan bentuk yang khas dan ukuran yang hampir seragam (1-3 mm).(1)</p>
<p>3.  Pemeriksaan bakteriologis.</p>
<p>Penemuan kuman TB memastikan diagnosis TB, tetapi tidak ditemukannya kuman TB bukan berarti tidak menderita TB. Pemeriksaan bakteriologis terdiri dari 2 cara, yaitu pemeriksaan mikroskop hapusan langsung untuk menemukan kuman TB dan pemeriksaan biakan kuman.</p>
<p>4.  Pemeriksaan patologi anatomi.</p>
<p>Pemeriksaan patologi anatomi tidak dilakukan secara rutin.</p>
<p><strong>PENGOBATAN</strong></p>
<p>Pengobatan medikamentosa TB milier adalah pemberian 4-5 macam obat anti-TB selama 2 bulan pertama, dilanjutkan dengan Isoniazid dan Rifampicin selama 4-6 bulan sesuai dengan perkembangan klinis. Kortikosteroid (Prednisone) diberikan pada TB milier, Prednisone biasanya diberikan dengan dosis 1-2 mg/kgBB/hari selama 4-8 minggu kemudian diturunkan perlahan-lahan hingga 2-6 minggu kemudian.</p>
<p>Dengan pengobatan yang tepat, perbaikan TB milier biasanya berjalan lambat. Respons keberhasilan terapi antara lain adalah hilangnya demam setelah 2-3 minggu pengobatan, peningkatan nafsu makan, perbaikan kualitas hidup sehari-hari, dan peningkatan berta badan. <sup>(1)</sup></p>
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="0" width="595">
<tbody>
<tr>
<td width="103" valign="top">Nama Obat</td>
<td width="120" valign="top">Dosis harian</p>
<p>(mg/kgBB/hari)</td>
<td width="120" valign="top">Dosis maksimal</p>
<p>(mg/hari)</td>
<td width="252" valign="top">Efek samping</td>
</tr>
<tr>
<td width="103" valign="top">Isoniazid</td>
<td width="120" valign="top">5-15</td>
<td width="120" valign="top">300</td>
<td width="252" valign="top">Hepatitis, neuritis perifer</td>
</tr>
<tr>
<td width="103" valign="top">Rifampicin</td>
<td width="120" valign="top">10-20</td>
<td width="120" valign="top">600</td>
<td width="252" valign="top">Hepatitis</td>
</tr>
<tr>
<td width="103" valign="top">Pirazinamid</td>
<td width="120" valign="top">15-30</td>
<td width="120" valign="top">2000</td>
<td width="252" valign="top">Hepatotoksik, artralgia</td>
</tr>
<tr>
<td width="103" valign="top">Etambutol</td>
<td width="120" valign="top">15-20</td>
<td width="120" valign="top">1250</td>
<td width="252" valign="top">Neuritis optik</td>
</tr>
<tr>
<td width="103" valign="top">Strepomicin</td>
<td width="120" valign="top">15-40</td>
<td width="120" valign="top">1000</td>
<td width="252" valign="top">Ototoksik, nefrotoksik</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p><strong>PROGNOSIS</strong><sup>(2)</sup><strong> </strong></p>
<p>Prognosis dipengaruhi banyak faktor, yaitu ;</p>
<ol>
<li>Umur anak.</li>
<li>Berapa lama telah mendapatkan infeksi.</li>
<li>Luasnya infeksi.</li>
<li>Keadaan gizi.</li>
<li>Sosio ekonomi.</li>
<li>Diagnosis dini.</li>
<li>Pengobatan adekuat.</li>
<li>Adanya infeksi lain.</li>
</ol>
<p><strong>PENCEGAHAN INFEKSI TB</strong><sup>(3)</sup></p>
<p>Pencegahan ini meliputi ;</p>
<p>1.  Terhadap infeksi TB.</p>
<p>Pencegahan sputum yang infeksius ; case finding (Foto thoraks, Mantoux Test), isolasi dan pengobatan penderita, perbaiki lingkungan (ventilasi harus baik, sinar matahari, kepadatan penduduk dikurangi).</p>
<p>2.   Meningkatkan daya tahan tubuh.</p>
<p>Memperbaiki standar hidup (makanan 4 sehat 5 sempurna, perumahan dengan ventilasi cukup, istirahat cukup dan teratur, olahraga), peningkatan kekebalan tubuh dengan vaksinasi BCG.</p>
<p>3.  Pencegahan dengan mengobati penderita yang sakit dengan obat anti TB.</p>
<p><strong>DAFTAR REFERENSI</strong></p>
<p>(1)   Pedoman Nasional TB Anak, Unit Kerja Koordinasi Pulmonologi PP Ikatan Dokter Anak Indonesia, 2005.</p>
<p>(2)   Buku Kuliah Ilmu Kesehatan Anak Jilid II, FKUI</p>
<p>(3)   Dasar-dasar Ilmu Penyakit Paru, Prof. dr. Hood Alsagaff, Airlangga University Press, 2002</p>
<p>(4)   Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid II, FKUI</p>
<br />Filed under: <a href='http://kadaverboy.wordpress.com/category/medical/pediatric/'>Pediatric</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kadaverboy.wordpress.com/96/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kadaverboy.wordpress.com/96/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kadaverboy.wordpress.com/96/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kadaverboy.wordpress.com/96/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/kadaverboy.wordpress.com/96/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/kadaverboy.wordpress.com/96/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/kadaverboy.wordpress.com/96/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/kadaverboy.wordpress.com/96/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kadaverboy.wordpress.com/96/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kadaverboy.wordpress.com/96/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kadaverboy.wordpress.com/96/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kadaverboy.wordpress.com/96/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kadaverboy.wordpress.com/96/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kadaverboy.wordpress.com/96/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kadaverboy.wordpress.com&amp;blog=10509290&amp;post=96&amp;subd=kadaverboy&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kadaverboy.wordpress.com/2010/05/16/tuberkulosis-milier/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/79101c68fd37f3d533c67a75acf4af69?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">kadaverboy</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Penyakit Darah</title>
		<link>http://kadaverboy.wordpress.com/2010/05/16/penyakit-darah-blood-dease/</link>
		<comments>http://kadaverboy.wordpress.com/2010/05/16/penyakit-darah-blood-dease/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 16 May 2010 02:17:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kadaverboy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kadaverboy.wordpress.com/?p=94</guid>
		<description><![CDATA[PENYAKIT DARAH Anemia Adalah suatu keadaan yang menggambarkan kadar Hb, Ht dan jumlah eritrosit kurang dari normal sesuai dengan umur dan jenis kelamin. Menurut WHO (1972) : kadar Hb normal adalah sbb. : Umur 6 bulan – 6 tahun = 11 gr % Umur 6 tahun – 14 tahun = 12 gr % Laki-laki dewasa [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kadaverboy.wordpress.com&amp;blog=10509290&amp;post=94&amp;subd=kadaverboy&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;"><strong>PENYAKIT DARAH</strong></p>
<p><strong>Anemia</strong></p>
<p style="text-align:left;">Adalah suatu keadaan yang menggambarkan kadar Hb, Ht dan jumlah eritrosit kurang dari normal sesuai dengan umur dan jenis kelamin.</p>
<p>Menurut WHO (1972) : kadar Hb normal adalah sbb. :</p>
<ul>
<li>Umur 6 bulan – 6 tahun = 11 gr %</li>
<li>Umur 6 tahun – 14 tahun = 12 gr %</li>
<li>Laki-laki dewasa = 13 gr %</li>
<li>Wanita dewasa tdk hamil = 12 gr %</li>
<li>Wanita dewasa hamil = 11 gr %</li>
</ul>
<p><strong>Gejala :</strong></p>
<p>1. Pucat                        4. Mata berkunang setelah jongkok</p>
<p>2. Pusing                      5. Mudah lelah</p>
<p>3. Palpitasi                    6. Penurunan aktivitas</p>
<p><strong>Pembagian anemia berdasarkan etiologi dan fisiologi :</strong></p>
<p>1. Anemia defisiensi                  3. Anemia hemolitik</p>
<p>2. Anemia aplasia                     4. Anemia post hemorrhagic</p>
<p>Penyakit darah lain :</p>
<p>5. Leukemia</p>
<p>6. Trombasitopenia / Idiopatik trombositopenia purpura (ITP)</p>
<p><strong>Pembagian anemia berdasarkan morfologi :</strong></p>
<p>1. Makrositik anemia                3. Mikrositik ringan</p>
<p>2. Normositik anemia                4. Hipokromik mikrositer</p>
<p><strong>Pembagian anemia berdasarkan indeks sel darah merah:</strong></p>
<p>MCV =           <span style="text-decoration:underline;">Ht x 10</span></p>
<p>Jumlah RBC (juta/ml)</p>
<p>=          <span style="text-decoration:underline;">N</span></p>
<p>40 <span style="text-decoration:underline;">+</span> 7 m3</p>
<p>MCH =           <span style="text-decoration:underline;">Hb x 10</span></p>
<p>Jumlah RBC (juta/ml)</p>
<p>= 30 <span style="text-decoration:underline;">+</span> 3</p>
<p>MCHC = <span style="text-decoration:underline;">Hb </span> x 100 %</p>
<p>Ht</p>
<p>= 33 <span style="text-decoration:underline;">+</span> 2</p>
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td width="175" valign="top">
<p style="text-align:center;"><strong>Jenis Anemia</strong></p>
</td>
<td width="135" valign="top">
<p style="text-align:center;"><strong>MCV</strong></p>
</td>
<td width="141" valign="top">
<p style="text-align:center;"><strong>MCHV</strong></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="175" valign="top">Makrositik</td>
<td width="135" valign="top">
<p style="text-align:center;">&gt; 94</p>
</td>
<td width="141" valign="top">
<p style="text-align:center;">&gt; 30</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="175" valign="top">Normositik</td>
<td width="135" valign="top">
<p style="text-align:center;">80 &#8211; 94</p>
</td>
<td width="141" valign="top">
<p style="text-align:center;">&gt; 30</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="175" valign="top">Mikrositik ringan</td>
<td width="135" valign="top">
<p style="text-align:center;">&lt; 80</p>
</td>
<td width="141" valign="top">
<p style="text-align:center;">&gt; 30</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="175" valign="top">Hipokrom mikrositik</td>
<td width="135" valign="top">
<p style="text-align:center;">&lt; 80</p>
</td>
<td width="141" valign="top">
<p style="text-align:center;">&lt; 30</p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<h1></h1>
<h1>1. Anemia Defisiensi</h1>
<p>Ada 2 jenis :</p>
<ol>
<li>Anemia defisiensi besi (Fe)</li>
<li>Anemia      defisiensi vitamin B12 (asam folat)</li>
</ol>
<ol>
<li><strong>1. </strong><strong>Anemia defisiensi besi (Fe)</strong></li>
</ol>
<p>Adalah anemia yang primer disebabkan oleh kekurangan zat besi dengan cirri-ciri gambaran darah beralih dari normositik normokrom menjadi mikrositik hipokrom dan memberi respon terhadap pengobatan senyawa besi. (WHO : 1959)</p>
<p>Gambaran klinis :</p>
<p>Gejala klinis:</p>
<ol>
<li>Anemia umumnya</li>
<li>Perubahan pada jaringan dan epitel dan atropi papilla      lidah</li>
<li>Gangguan sistim neuromuscular</li>
<li>Cardiomegali</li>
</ol>
<p>Kriteria diagnosa anemia defisiensi besi menurut WHO :</p>
<ol>
<li>Hb kurang      dari normal sesuai umur</li>
<li>Serum Fe &lt; 50 mirogram (N=80-100)</li>
<li>Konsentrasi Hb-eritrosit &lt; 31 % (N=32-35)</li>
<li>Jenuh transperin &lt; 15 % (N=20-50)</li>
<li>Hipokrom mikrositer</li>
</ol>
<p><strong>Etiologi :</strong></p>
<ol>
<li>Pengadaan zat besi tidak adekuat, hal ini dapat      disebabkan oleh :</li>
</ol>
<ol>
<li>
<ul>
<li>Jenis makanan kurang mengandung zat besi</li>
<li>Muntah-muntah berulang</li>
<li>Infeksi berulang</li>
</ul>
</li>
</ol>
<ol>
<li>Malabsorpsi (enteritis &amp; PCM)</li>
<li>Pengeluaran Fe yang berlebihan, ex: infeksi cacing,      amubiasis</li>
<li>Kebutuhan Fe yang meningkat (pada masa pertumbuhan,      infeksi kronis/menahun)</li>
</ol>
<p><strong>Therapi :</strong></p>
<ol>
<li>Sulfosteroid, 30 mg/KgBB/hari</li>
<li>Transfusi      PRC bila HB &lt; 3 gr %</li>
</ol>
<p><strong>2.   Anemia defisiensi Vitamin B12</strong></p>
<ul>
<li>Gambaran klinis sama seperti anemia defisiensi Fe.</li>
<li>Pd pem. lab. : Gambaran darah tepi : Normokrom makrositer.</li>
<li>Kadar vitamin B12 menurun , Th/ Vit. B12 = 3 x 10 mg</li>
</ul>
<h2>2.   Anemia Aplastik</h2>
<p>Adalah anemia kekurangan RBC akibat sumsum tulang yang tidak dapat bekerja untuk membentuk sel darah merah.</p>
<p><strong>Etiologi :</strong></p>
<ol>
<li>Didapat,      ex: bahan kimia seperti benzena, sinar Ro, obat : cloramphenikol.</li>
<li>Familiar, (diturunkan Ú      penyakit fankoni)</li>
<li>Virus</li>
<li>Idiopatik</li>
</ol>
<p><strong>Gambaran klinis :</strong></p>
<p>Bila penyakit berlangsung cepat, gejala utama yang menonjol adalah demam, dan jika penyakit berlangsung lambat maka gejala yang menonjol adalah kelemahan dan kelelahan.</p>
<p>Bila timbul trombositopenia Ú terjadi perdarahan pada hidung, mulut, dsb.</p>
<p><strong>Diagnosa :</strong></p>
<p>Ditegakkan dengan adanya trias (anemia, lekopeni, trombositopeni) disertai gejala klinis panas, pucat, perdarahan, yang penting adalah tanpa hepatosplenomegali.</p>
<p><strong>Diagnosa pasti :</strong></p>
<p>Bone marrow Ú dari lumbal, akan didapatkan sel-sel sangat kurang dan banyak jaringan ikat dan jaringan lemak.</p>
<p><strong>Therapi :</strong></p>
<ol>
<li>Mencari dan menghindarkan obat-obat atau bahan kimia      sebagai penyebab</li>
<li>Obat-obatan terhadap anemia</li>
<li>Pengobatan perdarahan Ú      suspensi trombosit</li>
<li>Mencegah dan mengatasi infeksi</li>
<li>Stimulasi dan regenerasi sumsum tulang. Ex: Prednison      20 mg/hari.</li>
<li>Transplantasi sumsum tulang</li>
</ol>
<h3>A. Anemia Hemolitik</h3>
<p><strong>Etiologi :</strong></p>
<ol>
<li>Dari sel RBC sendiri / intra corpuscular</li>
<li>Didapat dari luar</li>
</ol>
<p>Intra corpuscular, antara lain :</p>
<ol>
<li>Kelainana struktur membran sel</li>
<li>Kekurangan enzim untuk metabolisme sel (G6PD)</li>
<li>Kelainan Hb / Hemoglobinopati</li>
</ol>
<p>Ada 2 macam : a. Gangguan pembentukan Hb / Thalasemia</p>
<p>b. Gangguan asam amino dalam Hb.</p>
<h4>THALASEMIA</h4>
<p>Secara molekuler dibagi 2 :</p>
<ol>
<li>Thalasemia aova</li>
</ol>
<p>Biasanya bayi dilahirkan sudah dalam keadaaan meninggal oleh karena hidropfoetalis.</p>
<ol>
<li>Thalasemia tipe B</li>
</ol>
<p>Thalasemia mayor dan minor</p>
<p>Secara genetis, thalasemia minor=heterozigot, dan mayor=homozigot.</p>
<p>Secara klinis, thalasemia minor tidak memberikan gejala klinis</p>
<h5>Perkawinan Heterozigot</h5>
<p>Pemeriksaan laboratorium :</p>
<ol>
<li>Darah tepi : Hb Ü, retikulosit Ü, jumlah trombosit normal.</li>
<li>Apus : banyak normoblast (sel darah merah yang berinti), anisostosis, piokilositosis, sel target pear drop.</li>
<li>Sumsum tulang : Hb F = 30-50 % (N = &lt; 7 %)</li>
</ol>
<p>Untuk membedakan ada tidaknya kombinasi antara thalasemia dengan hemoglobinopati yang lain digunakan elektroforesis.</p>
<p><strong>Penatalaksanaan :</strong></p>
<ol>
<li>Transfusi darah, PRC = 15 cc/KgBB/hari</li>
</ol>
<p>Hb dipertahankan sampai 8 – 10 gr %</p>
<ol>
<li>Mencegah hemosiderosis (penumpukan zat besi), dengan cara: minum teh, vitamin C, iron chelating agent Ú guna utk meningkatkan ekskresi Fe., ex: Deferol: 25 mg/KgBB/hari (SC) secara pelan-pelan/dipompa.</li>
<li>Splenectomy (keberhasilannya diragukan)</li>
<li>Cangkok sumsum tulang (jarang berhasil)</li>
</ol>
<h4>LEUKEMIA</h4>
<p>Adalah proliferasi yang patologis dan tidak terkendali dari WBC (whole blood cell) yang ditandai oleh kegagalan sumsum tulang dalam membentuk sel darah merah dan adanya infiltrasi ke jaringan tubuh lain.</p>
<p><strong>Klasifikasi :</strong></p>
<ol>
<li>Leukemia limphoblastic</li>
</ol>
<p>Berasal dari sel limphoma, disebut juga LLA (limphoblastic leukemia acut)</p>
<ol>
<li>Leukemia non limphoblastic (15 %)</li>
</ol>
<p>Berasal dari sel myeloid maka disebut MLA (myeloid leukemia acut)</p>
<p><strong>Gejala klinis ;</strong></p>
<ol>
<li>Yang disebabkan oleh kegagalan sumsum tulang, antara lain : pucat mendadak, panas, perdarahan pelit (bercak merah kebiruan), mimisan dan melena.</li>
<li>Yang disebabkan oleh infiltrasi sel ke organ, antara lain :</li>
</ol>
<p>Infiltrasi ke saraf Ú pusing, muntah, penurunan kesadaran.</p>
<p>Infiltrasi ke tulang Ú nyeri tulang, hepatosplenomegali.</p>
<p><strong>Pemeriksaan lab. :</strong></p>
<ol>
<li>Pem. Hematologi :</li>
</ol>
<p>Didapatkan : anemia normokrom normositer, trombositopenia. Gambaran darah tepi : monoton sel blast (sel darah putih besar-besar) hal ini mrp patognomonis leukemia.</p>
<p>Gambaran sumsum tulang : monoton sel limphopoetik patologis.</p>
<ol>
<li>Pemeriksaan lain</li>
</ol>
<p>Foto tulang &#8211;</p>
<p>Foto mediastinum &#8211;  timus membesar</p>
<p>Foto torax &#8212;-  infiltrasi paru</p>
<p><strong>Therapi :</strong></p>
<ol>
<li>Simpthomatik :</li>
</ol>
<ul>
<li>mengatasi anemia</li>
<li>pengobatan dan pencegahan perdarahan (1 unit/5 Kg)</li>
<li>mencegah infeksi</li>
</ul>
<ol>
<li>Pengobatan dengan sitostatistika</li>
</ol>
<p><strong>IDIOPATIK TROMBOSITOPENIA PURPURA (ITP)</strong></p>
<p>Adalah Suatu keadaan perdarahan yang ditandai dengan adanya petechie, echimosis dikulit yang disebabkan penurunan jumlah trombosit dengan sebab yang tidak diketahui.</p>
<p><strong>Dasar diagnosa :</strong></p>
<ol>
<li>Anamnesa</li>
</ol>
<ul>
<li>Ada riwayat infeksi 2 – 3 minggu (biasanya ISPA)</li>
<li>Terjadi diatesis hemorrhagic tanpa trauma atau dengan trauma ringan.</li>
</ul>
<ol>
<li>Klinis</li>
</ol>
<ul>
<li>Perdarahan spontan</li>
<li>Pada yang kronis: petechie berulang-ulang/hilang timbul</li>
<li>Secara fisik normal dan tidak ada splenomegali</li>
</ul>
<p><strong>Pem. Laboratorium :</strong></p>
<p>Ditemukan trombositopenia, bliding time memanjang, dan roumpelit positif.</p>
<p><strong>Therapi :</strong></p>
<ol>
<li>Pengobatan umum</li>
</ol>
<p>Transfusi trombosit pada yang berat</p>
<ol>
<li>Pengobatan khusus</li>
</ol>
<ul>
<li>Prednison 2 mg/KgBB/hari</li>
<li>Korticosteroid + imunosupresif (ex: pinkristin) pada ITP kronis 2 mg/minggu, selama 1 bulan (intra vena)</li>
</ul>
<ol>
<li>Splenectomy</li>
</ol>
<h5>Hubungan antara beberapa gejala klinis dengan jenis anemia</h5>
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td width="66" valign="top"><strong>Gejala klinis</strong></td>
<td width="66" valign="top"><strong>An. def.</strong></td>
<td width="67" valign="top"><strong>An. aplastik</strong></td>
<td width="67" valign="top"><strong>An. hemolitik</strong></td>
<td width="67" valign="top"><strong>An. post hemorragik</strong></td>
<td width="67" valign="top"><strong>Leukemia</strong></td>
<td width="67" valign="top"><strong>ITP</strong></p>
<p><strong> </strong></td>
</tr>
<tr>
<td width="66" valign="top">Anemia</td>
<td width="66" valign="top">+</td>
<td width="67" valign="top">+</td>
<td width="67" valign="top">-</td>
<td width="67" valign="top">+</td>
<td width="67" valign="top">+</td>
<td width="67" valign="top">+/-</td>
</tr>
<tr>
<td width="66" valign="top">Organ megali</td>
<td width="66" valign="top">-</td>
<td width="67" valign="top">-</td>
<td width="67" valign="top">+</td>
<td width="67" valign="top">-</td>
<td width="67" valign="top">+</td>
<td width="67" valign="top">-</td>
</tr>
<tr>
<td width="66" valign="top">Perdarahan</td>
<td width="66" valign="top">-</td>
<td width="67" valign="top">+</td>
<td width="67" valign="top">-</td>
<td width="67" valign="top">+</td>
<td width="67" valign="top">+</td>
<td width="67" valign="top">+</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>Gejala klinis + darah apus Ú hampir diagnosa.</p>
<p>Mekanisme pembekuan darah</p>
<ol>
<li>Pembentukan tromboplastin</li>
<li>Pembentukan Protombinomensin Trombin</li>
<li>Pembentukan Fibrinogenomensin fibrin</li>
</ol>
<p><strong>Gangguan pembekuan darah dapat terjadi pada :</strong></p>
<ol>
<li>Gangguan pada tahap I,II,III</li>
<li>Anti koagulansia yang beredar dalam darah</li>
<li>DIC / Disseminated intracorpuscular coagulation</li>
</ol>
<ol>
<li><strong>1. </strong><strong>Gangguan pada tahap I, II, III</strong></li>
</ol>
<ul>
<li>Gangguan pada tahap I</li>
</ul>
<p>Gangguan pada tahap I (kekurangan factor pembekuan) dapat diketahui dari pemeriksaan :</p>
<ul>
<li>SPT (serum protrombin time)</li>
<li>PTT (parsial tromboplastin time)</li>
<li>TGT (tromboplastin generation time)</li>
</ul>
<p>Gangguan pada tahap I, terdapat pada penyakit :</p>
<ol>
<li>Hemofilia A (kekurangan Faktor VIII)</li>
</ol>
<p>Gejala hemofilia A antara lain :</p>
<ol>
<li>
<ul>
<li>kebiruan pada kulit</li>
<li>perdarahan sendi, otot dan perdarahan setelah       tindakan, ex.: sunat Ú perdarahan       tidak berhenti-henti.</li>
</ul>
</li>
</ol>
<p>Therapi:</p>
<ol>
<li>Transfusi plasma</li>
<li>Crreo precipitat</li>
<li>Konsentrat factor VIII</li>
</ol>
<ol>
<li>Hemofilia B (kekurangan Faktor IX)</li>
</ol>
<p>Gejala hemofilia B sama dengan hemofilia A</p>
<p>Therapi:</p>
<ol>
<li>Transfusi plasma</li>
<li>Crreo precipitat</li>
<li>Konsentrat factor IX</li>
</ol>
<ol>
<li>Hemofilia vaskuler (kekurangan Faktor VII)</li>
</ol>
<p>Gejala hemofilia vaskuler adalah perdarahan gastrointestinal : lambung, pada gusi, dan epistaksis.</p>
<ul>
<li>Gangguan tahap II
<ul>
<li>Tahap II adalah tahap perubahan dari protrombin Ú trombin.</li>
<li>Gangguan pada tahap ini adalah terjadi kerusakan pada factor IV,V, VII, X.</li>
<li>Pemeriksaan yang dilakukan dengan Plasma protrombin time (PPT)</li>
<li>Etiologi :</li>
</ul>
</li>
</ul>
<ol>
<li>Kongenital</li>
</ol>
<p>Th/ plasma + konsentrat factor IV, V, VII, X</p>
<ol>
<li>Didapat, terutama defisiensi factor IV.</li>
</ol>
<p>Dapat ditemukan pada:</p>
<ul>
<li>Neonatus kurang bulan</li>
<li>Defisiensi vit. K</li>
<li>Penyakit hati</li>
<li>DIC</li>
<li>Th/ Ditujukan pada penyakit primer</li>
</ul>
<ul>
<li>Gangguan tahap III
<ul>
<li>Gangguan pada tahap ini diketahui jika telah dipastikan bahwa tidak ada gangguan tahap I &amp; II dan dilakukan pemeriksaan fibrinogen dalam plasma.</li>
<li>Therapi : Plasma + preparat fibrinogen</li>
</ul>
</li>
</ul>
<ol>
<li><strong>2. </strong><strong>Anti koagulansia yang beredar dalam darah</strong></li>
</ol>
<p>Etiologi ;</p>
<ul>
<li>protein abnormal dalam darah</li>
<li>adanya antikoagulan autoimun</li>
<li>adanya antikoagulan isoimun</li>
</ul>
<ol>
<li><strong>3. </strong><strong>DIC / Disseminated intracorpuscular coagulation</strong></li>
</ol>
<p>Akibat perjalanan akhir suatu penyakit ex: sepsis, DHF, ginjal, yang menyebabkan pembekuan yang luas dalam pembuluh darah dengan memakai semua factor pembekuan dan trombosit.</p>
<p><strong>Therapi:</strong></p>
<ul>
<li>Ditujukan pada penyakit primernya</li>
<li>Berikan heparin 1 mg/KgBB Ú lanjutkan 1 mg/KgBB dalam 4 jam</li>
<li>Transfusi darah + corticosteroid</li>
</ul>
<h4>TRANSFUSI DARAH</h4>
<p>Tujuan transfusi adalah memperbaiki volume darah dan transportasi O2.</p>
<ul>
<li> Whole blood digunakan untuk ;</li>
</ul>
<ol>
<li>Kehilangan darah mendadak</li>
<li>Eschange transfusion</li>
<li>Dialisa ginjal</li>
</ol>
<ul>
<li>PRC digunakan untuk ;</li>
</ul>
<ol>
<li>Anemia aplastik</li>
<li>Anemia hemolitik</li>
<li>Leukemia</li>
</ol>
<ul>
<li>Plasma segar digunakan untuk ;</li>
</ul>
<ol>
<li>Memperbaiki volume darah, ex: pada peny. DHF/DSS</li>
<li>Luka bakar</li>
<li>Syndrom nefrotik</li>
</ol>
<ul>
<li>FFP digunakan untuk ;</li>
</ul>
<ol>
<li>Transplantasi sumsum tulang</li>
<li>Imunodefisiensi</li>
</ol>
<ul>
<li>Trombosit consentrat digunakan untuk ;</li>
</ul>
<ol>
<li>Penyakit leukemia</li>
</ol>
<ul>
<li>Suspensi leukosit digunakan untuk ;</li>
</ul>
<ol>
<li>Sepsis, karena pada sepsis jumlah leukosit sangat rendah.</li>
</ol>
<ul>
<li>Creopresipitat digunakan untuk ;</li>
</ul>
<ol>
<li>Hemofilia A dan B, karena banyak mengandung factor VIII dan fibrinogen.</li>
</ol>
<ul>
<li>Plasma expander digunakan untuk ;</li>
</ul>
<ol>
<li>Hemofilia, karena banyak mengandung factor pembekuan.</li>
</ol>
<p><strong>Bahaya-bahaya transfusi :</strong></p>
<ol>
<li><strong>1. </strong><strong>Reaksi hemolitik</strong></li>
</ol>
<p>Tanda-tanda: mengigil, demam, Hb , ikterus, anemia.</p>
<p>Hal ini terjadi karena :</p>
<ul>
<li>Golongan darah yang tidak cocok, sehingga mengakibatkan :</li>
</ul>
<ol>
<li>Hemolitik acut  terutama golongan darah A, B, O</li>
<li>Hemolitik kronis  terutama rhesus factor</li>
</ol>
<ul>
<li>Bukan karena ketidakcocokan golongan darah, hal ini terjadi karena :</li>
</ul>
<ol>
<li>Darah yang sudah rusak/hemolisis</li>
<li>Larutan hipotonis</li>
<li>Kelalaian/kesalahan petugas</li>
<li><strong>2. </strong><strong>Reaksi non hemolitik</strong></li>
</ol>
<ul>
<li>Alergi, Th/ Anti histamin</li>
<li>Febris, Th/ Anti piretik</li>
<li>Kontaminasi bakteri (panas , mengigil, muntah, nyeri perut), Th/ Antibiotik.</li>
<li>Overlooding (pd anak-anak, rumus = 15-20cc/KgBB/hari), Th/ Lasic</li>
<li>Cardiac arrest (jantung berhenti mendadak), hal ini terjadi karena : 1. Darah masuk sudah dingin (darah &gt; 1 minggu)</li>
</ul>
<p>2. Keracunan fitras.</p>
<ul>
<li>Asidosis (anak biru setelah transfusi), umumnya terjadi pada darah yang &gt; dari 1 minggu diberikan pada anak dengan penyakit ginjal + diare.</li>
<li>Keracunan kalium, terutama pada darah yang &gt; 10 hari.</li>
<li>Keracunan sitras.</li>
</ul>
<p>Ini terjadi karena sitras mengikat kalsium darah sehingga terjadi hipokalsemi.</p>
<p>Gejala : tetani, tremor, cardiac arrest.</p>
<p>Therapi : Kalsium glukonas + lasic (jika transfusi lebih dari 200 cc)</p>
<ul>
<li>Embolic udara, gejaala : sianosis, sesak., Th/ penderita dimiringkan kearah kiri</li>
</ul>
<p><strong>3.   Reaksi penularan penyakit</strong></p>
<ol>
<li>Hepatitis (biasanya terjadi 2-5 bulan setelah reaksi transfusi)</li>
<li>Malaria</li>
<li>Sifilis</li>
</ol>
<h4>IMUNOHEMATOLOGI</h4>
<ol>
<li><strong>1. </strong><strong>Golongan darah (antigen golongan darah)</strong></li>
</ol>
<ul>
<li>Antigen gol. darah terletak pada permukaan sel darah merah,</li>
<li>Terbentuk mulai dari embrio.</li>
<li>Tidak berubah seumur hidup.</li>
<li>Dikenal 15 antigen</li>
<li>Hanya gol. darah A, B, O dan rhesus yang mrp gol darah terpenting, karena mempunyai factor yang menentukan gol darah manusia.</li>
</ul>
<ol>
<li><strong>2. </strong><strong>Antibody golongan darah</strong></li>
</ol>
<ul>
<li>Mengandung protein globulin.</li>
<li>Berada bebas didalam plasma dan serum.</li>
<li>Dibedakan menjadi 2 jenis antibody gol darah yakni ;</li>
</ul>
<ol>
<li>secara alamiah ada didalam darah yaitu A, B, O dan Rh (anti A dan anti B)</li>
<li>Antibody yang didapat setelah transfusi darah atau dari ibu ke anak. Antibody ini dapat melekat pada antigen dipermukaan sel darah dan dapat dibuktikan dengan COOMB TEST.</li>
</ol>
<h4>Golongan darah A, B, O</h4>
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="0" width="456">
<tbody>
<tr>
<td width="134" valign="top"><strong>Golongan darah</strong></td>
<td width="132" valign="top"><strong>Antigen RBC</strong></td>
<td width="190" valign="top"><strong>Antibody dalam   serum</strong></td>
</tr>
<tr>
<td width="134" valign="top">AB</td>
<td width="132" valign="top">AB</td>
<td width="190" valign="top">-</td>
</tr>
<tr>
<td width="134" valign="top">A</td>
<td width="132" valign="top">A</td>
<td width="190" valign="top">B</td>
</tr>
<tr>
<td width="134" valign="top">B</td>
<td width="132" valign="top">B</td>
<td width="190" valign="top">A</td>
</tr>
<tr>
<td width="134" valign="top">O</td>
<td width="132" valign="top">O</td>
<td width="190" valign="top">A + B</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p><strong>Interaksi antigen dan antibody didalam tubuh (in vivo)</strong></p>
<p>Secara normal, Ab yang melawan Ag tidak akan berada bersama-sama didalam satu tubuh dan tubuh tidak akan membuat Ab terhadap Ag kita sendiri. BilaAb terbentuk akibat masuknya Ag asing, lalu masuk lagi Ag asing yang sama, maka terjadi reaksi Ag + Ab  sehingga terjadi hemolisis.</p>
<p><strong>Interaksi antigen dan antibody diluar tubuh.</strong></p>
<p>Ag hanya dapat dikenal oleh interaksi Ab-nya atau sebaliknya. Reaksi ini antara lain :</p>
<ol>
<li>Digunakan untuk pemeriksaan Ag (pem. gol. darah)  reaksikan RBC yang belum dikenal dengan Ab yang telah diketahui.</li>
</ol>
<p>RBC yang tidak dikenal + serum anti X  hasilnya :</p>
<ol>
<li>(+)  =   bila timbul gumpalan, maka sel tsb mempunyai Ag X
<ol>
<li>(-) = tidak timbul gumpalan, maka sel tersebut tidak mempunyai Ag X</li>
</ol>
</li>
<li>Digunakan untuk pemeriksaan Ab</li>
</ol>
<p>Serum yang belum diketahui Ab-nya direaksikan dengan RBC yang telah diketahuijenis Ag-nya, ex.: Ag X</p>
<p>Serum yang tidak dikenal + sel X  hasilnya :</p>
<ol>
<li>(+) = timbul gumpalan, maka serum mengandung zat anti X</li>
<li>(-) = tidak timbul gumpalan, maka tdk mengandung zat anti X</li>
</ol>
<h6>Golongan Rhesus</h6>
<p>Dalam sistim rhesus, ada antigen D, C, dan E, namun diantaranya yang terkauat adalah Ag D sehingga sering dipakai dalam klinis.</p>
<p>Jika ada Ag D  Rh (+), dan jika tidak ada Ag D  Rh (-)</p>
<p>Hampir semua antibody terhadap Rh didapat setelah immunisasi, immunisasi terjadi karena :</p>
<ol>
<li>Transfusi darah Rh (+) pada resipien Rh (-)</li>
<li>Masuknya eritrosit Rh (+) dari featus ke dalam sirkulasi darah ibu yang Rh (-) atau transfusi darah yang mengandung Rh (+) pada seseorang Rh (-)  terjadi reaksi hemolitik.</li>
</ol>
<br />Filed under: <a href='http://kadaverboy.wordpress.com/category/uncategorized/'>Uncategorized</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kadaverboy.wordpress.com/94/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kadaverboy.wordpress.com/94/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kadaverboy.wordpress.com/94/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kadaverboy.wordpress.com/94/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/kadaverboy.wordpress.com/94/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/kadaverboy.wordpress.com/94/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/kadaverboy.wordpress.com/94/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/kadaverboy.wordpress.com/94/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kadaverboy.wordpress.com/94/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kadaverboy.wordpress.com/94/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kadaverboy.wordpress.com/94/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kadaverboy.wordpress.com/94/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kadaverboy.wordpress.com/94/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kadaverboy.wordpress.com/94/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kadaverboy.wordpress.com&amp;blog=10509290&amp;post=94&amp;subd=kadaverboy&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kadaverboy.wordpress.com/2010/05/16/penyakit-darah-blood-dease/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/79101c68fd37f3d533c67a75acf4af69?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">kadaverboy</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Blood Gas Anayzer</title>
		<link>http://kadaverboy.wordpress.com/2009/11/25/blood-gas-anayzer/</link>
		<comments>http://kadaverboy.wordpress.com/2009/11/25/blood-gas-anayzer/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 25 Nov 2009 13:24:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kadaverboy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kadaverboy.wordpress.com/?p=92</guid>
		<description><![CDATA[A. Definisi Gas darah arteri memungkinkan utnuk pengukuran pH (dan juga keseimbangan asam basa), oksigenasi, kadar karbondioksida, kadar bikarbonat, saturasi oksigen, dan kelebihan atau kekurangan basa. Pemeriksaan gas darah arteri dan pH sudah secara luas digunakan sebagai pegangan dalam penatalaksanaan pasien-pasien penyakit berat yang akut dan menahun. Pemeriksaan gas darah juga dapat menggambarkan hasil berbagai [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kadaverboy.wordpress.com&amp;blog=10509290&amp;post=92&amp;subd=kadaverboy&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>A. Definisi</p>
<p>Gas darah arteri memungkinkan utnuk pengukuran pH (dan juga keseimbangan asam basa), oksigenasi, kadar karbondioksida, kadar bikarbonat, saturasi oksigen, dan kelebihan atau kekurangan basa. Pemeriksaan gas darah arteri dan pH sudah secara luas digunakan sebagai pegangan dalam penatalaksanaan pasien-pasien penyakit berat yang akut dan menahun. Pemeriksaan gas darah juga dapat menggambarkan hasil berbagai tindakan penunjang yang dilakukan, tetapi kita tidak dapat menegakkan suatu diagnosa hanya dari penilaian analisa gas darah dan keseimbangan asam basa saja, kita harus menghubungkan dengan riwayat penyakit, pemeriksaan fisik, dan data-data laboratorium lainnya.</p>
<p>Pada dasarnya pH atau derajat keasaman darah tergantung pada konsentrasi ion H+ dan dapat dipertahankan dalam batas normal melalui 3 faktor, yaitu:</p>
<p>§ Mekanisme dapar kimia</p>
<p>Terdapat 4 macam dapar kimia dalam tubuh, yaitu:</p>
<p>1. Sistem dapar bikarbonat-asam karbonat</p>
<p>2. Sistem dapar fosfat</p>
<p>3. Sistem dapar protein</p>
<p>4. Sistem dapar hemoglobin</p>
<p>§ Mekanisme pernafasan</p>
<p>§ Mekanisme ginjal</p>
<p>Mekanismenya terdiri dari:</p>
<p>1. Reabsorpsi  ion HCO3-</p>
<p>2. Asidifikasi dari garam-garam dapar</p>
<p>3. Sekresi ammonia</p>
<p>B. Gangguan asam basa sederhana</p>
<p>Gangguan asam basa primer dan kompensasinya dapat diperlihatkan dengan memakai persamaan yang dikenal dengan persamaan Henderson-Hasselbach. Persamaan asam basa adalah sebagai berikut:</p>
<p>Persamaan ini menekankan bahwa perbandingan asam dan basa harus 20:1 agar pH dapat dipertahankan dalam batas normal. Persamaan ini juga menekankan kemampuan ginjal untuk mengubah bikarbonat basa melalui proses metabolik, dan kemampuan paru untuk mengubah PaCO2  (tekanan parsial CO2 dalam darah arteri) melalui respirasi. Nilai normal pH adalah 7, 35- 7,45. berikut ini adalah gambaran rentang pH:</p>
<p>Perubahan satu atau dua komponen tersebut menyebabkan gangguan asam dan basa. Penilaian keadaan asam dan basa berdasarkan hasil analisa gas darah membutuhkan pendekatan yang sistematis. Penurunan keasaman (pH) darah &lt; 7,35 disebut asidosis, sedangkan peningkatan keasaman (pH) &gt; 7,45  disebut alkalosis. Jika gangguan asam basa terutama disebabkan oleh komponen respirasi (pCO2) maka disebut asidosis/alkalosis respiratorik, sedangkan bila gangguannya disebabkan oleh komponen HCO3 maka disebut asidosis/alkalosis metabolik. Disebut gangguan sederhana bila gangguan tersebut hanya melibatkan satu komponen saja (respirasi atau metabolik), sedangkan bila melibatkan keduanya (respirasi dan metabolik) disebut gangguan asam basa campuran.</p>
<p>Langkah-langkah untuk menilai gas darah:</p>
<p>1. Pertama-tama perhatikan pH (jika menurun klien mengalami asidemia, dengan dua sebab asidosis metabolik atau asidosis respiratorik; jika meningkat klien mengalami alkalemia dengan dua sebab alkalosis metabolik atau alkalosis respiratorik; ingatlah bahwa kompensasi ginjal dan pernafasan jarang memulihkan pH kembali normal, sehingga jika ditemukan pH yang normal meskipun ada perubahan dalam PaCO2 dan HCO3 mungkin ada gangguan campuran)</p>
<p>2. Perhatikan variable pernafasan (PaCO2 ) dan metabolik (HCO3) yang berhubungan dengan pH untuk mencoba mengetahui apakah gangguan primer bersifat respiratorik, metabolik atau campuran (PaCO2 normal, meningkat atau menurun; HCO3 normal, meningkat atau menurun; pada gangguan asam basa sederhana, PaCO2 dan HCO3 selalu berubah dalam arah yang sama; penyimpangan dari HCO3 dan PaCO2 dalam arah yang berlawanan menunjukkan adanya gangguan asam basa campuran).</p>
<p>3. Langkah berikutnya mencakup menentukan apakah kompensasi telah terjadi (hal ini dilakukan dengan melihat nilai selain gangguan primer, jika nilai bergerak yang sama dengan nilai primer, kompensasi sedang berjalan).</p>
<p>4. Buat penafsiran tahap akhir (gangguan asam basa sederhana, gangguan asam basa campuran)</p>
<p>§ Rentang nilai normal</p>
<p>pH : 7, 35-7, 45 TCO2 : 23-27 mmol/L</p>
<p>PCO2 : 35-45 mmHg BE : 0 ± 2 mEq/L</p>
<p>PO2 : 80-100 mmHg saturasi O2 : 95 % atau lebih</p>
<p>HCO3 : 22-26 mEq/L</p>
<p>§ Tabel gangguan asam basa:</p>
<p>Jenis gangguan pH PCO2 HCO3</p>
<p>Asidosis respiratorik akut N</p>
<p>Asidosis respiratorik terkompensasi sebagian</p>
<p>Asidosis respiratorik terkompensasi  penuh N</p>
<p>Asidosis metabolik akut N</p>
<p>Asidosis metabolik terkompensasi sebagian</p>
<p>Asidosis metabolik terkompensasi penuh N</p>
<p>Asidosis respiratorik dan metabolik</p>
<p>Alkalosis respiratorik akut N</p>
<p>Alkalosis respiratorik tekompensasi sebagian</p>
<p>Alkalosis respiratorik terkompensasi penuh N</p>
<p>Alkalosis metabolik akut N</p>
<p>Alkalosis metabolik terkompensasi sebagian</p>
<p>Alkalosis metabolic terkompensasi penuh N</p>
<p>Alkalosis metabolik dan respiratorik</p>
<p>Klasifikasi gangguan asam basa primer dan terkompensasi:</p>
<p>1. Normal bila tekanan CO2 40 mmHg dan pH 7,4. Jumlah CO2 yang diproduksi dapat dikeluarkan melalui ventilasi.</p>
<p>2. Alkalosis respiratorik. Bila tekanan CO2 kurang dari 30 mmHg dan perubahan pH, seluruhnya tergantung pada penurunan tekanan CO2 di mana mekanisme kompensasi ginjal belum terlibat, dan perubahan ventilasi baru terjadi. Bikarbonat dan base excess dalam batas normal karena ginjal belum cukup waktu untuk melakukan kompensasi. Kesakitan dan kelelahan merupakan penyebab terbanyak terjadinya alkalosis respiratorik pada anak sakit kritis.</p>
<p>3. Asidosis respiratorik. Peningkatan tekanan CO2 lebih dari normal akibat hipoventilasi dan dikatakan akut bila peninggian tekanan CO2 disertai penurunan pH. Misalnya, pada intoksikasi obat, blokade neuromuskuler, atau gangguan SSP. Dikatakan kronis bila ventilasi yang tidak adekuat disertai dengan nilai pH dalam batas normal, seperti pada bronkopulmonari displasia, penyakit neuromuskuler, dan gangguan elektrolit berat.</p>
<p>4. Asidosis metabolik yang tak terkompensasi. Tekanan CO2 dalam batas normal dan pH di bawah 7,30. Merupakan keadaan kritis yang memerlukan intervensi dengan perbaikan ventilasi dan koreksi dengan bikarbonat.</p>
<p>5. Asidosis metabolik terkompensasi. Tekanan CO2 &lt; 30 mmHg dan pH 7,30–7,40. Asidosis metabolik telah terkompensasi dengan perbaikan ventilasi.</p>
<p>6. Alkalosis metabolik tak terkompensasi. Sistem ventilasi gagal melakukan kompensasi terhadap alkalosis metabolik ditandai dengan tekanan CO2 dalam batas normal dan pH lebih dari 7,50 misalnya pasien stenosis pilorik dengan muntah lama.</p>
<p>7. Alkalosis metabolik terkompensasi sebagian. Ventilasi yang tidak adekuat serta pH lebih dari 7,50.</p>
<p>8. Hipoksemia yang tidak terkoreksi. Tekanan oksigen kurang dari 60 mmHg walau telah diberikan oksigen yang adekuat</p>
<p>9. Hipoksemia terkoreksi. Pemberian O2 dapat mengoreksi hipoksemia yang ada sehingga normal.</p>
<p>10. Hipoksemia dengan koreksi berlebihan. Jika pemberian oksigen dapat meningkatkan tekanan oksigen melebihi normal. Keadaan ini berbahaya pada bayi karena dapat menimbulkan retinopati of prematurity, peningkatan aliran darah paru, atau keracunan oksigen. Oleh karena itu, perlu dilakukan pemeriksaan yang lain seperti konsumsi dan distribusi oksigen.</p>
<p>C. Tujuan</p>
<p>§ Menilai tingkat keseimbangan asam dan basa</p>
<p>§ Mengetahui kondisi fungsi pernafasan dan kardiovaskuler</p>
<p>§ Menilai kondisi fungsi metabolisme tubuh</p>
<p>D. Indikasi</p>
<p>§ Pasien dengan penyakit obstruksi paru kronik</p>
<p>§ Pasien deangan edema pulmo</p>
<p>§ Pasien akut respiratori distress sindrom (ARDS)</p>
<p>§ Infark miokard</p>
<p>§ Pneumonia</p>
<p>§ Klien syok</p>
<p>§ Post pembedahan coronary arteri baypass</p>
<p>§ Resusitasi cardiac arrest</p>
<p>§ Klien dengan perubahan status respiratori</p>
<p>§ Anestesi yang terlalu lama</p>
<p>E. Lokasi pungsi arteri</p>
<p>§ Arteri radialis dan arteri ulnaris (sebelumnya dilakukan allen’s test)</p>
<p>§ Arteri brakialis</p>
<p>§ Arteri femoralis</p>
<p>§ Arteri tibialis posterior</p>
<p>§ Arteri dorsalis pedis</p>
<p>Arteri femoralis atau brakialis sebaiknya tidak digunakan jika masih ada alternatif lain, karena tidak mempunyai sirkulasi kolateral yang cukup untuk mengatasi bila terjadi spasme atau trombosis. Sedangkan arteri temporalis atau axillaris sebaiknya tidak digunakan karena adanya risiko emboli otak.</p>
<p>Contoh allen’s test:</p>
<p>Cara allen’s test:</p>
<p>Minta klien untuk mengepalkan tangan dengan kuat, berikan tekanan langsung pada arteri radialis dan ulnaris, minta klien untuk membuka tangannya, lepaskan tekanan pada arteri, observasi warna jari-jari, ibu jari dan tangan. Jari-jari dan tangan harus memerah dalam 15 detik, warna merah menunjukkan test allen’s positif. Apabila tekanan dilepas, tangan tetap pucat, menunjukkan test allen’s negatif. Jika pemeriksaan negatif, hindarkan tangan tersebut dan periksa tangan yang lain.</p>
<p>F. Komplikasi</p>
<p>§ Apabila jarum sampai menebus periosteum tulang akan menimbulkan nyeri</p>
<p>§ Perdarahan</p>
<p>§ Cidera syaraf</p>
<p>§ Spasme arteri</p>
<p>G. Faktor yang mempengaruhi pemeriksaan AGD</p>
<p>§ Gelembung udara</p>
<p>Tekanan oksigen udara adalah 158 mmHg. Jika terdapat udara dalam sampel darah maka ia cenderung menyamakan tekanan sehingga bila tekanan oksigen sampel darah kurang dari 158 mmHg, maka hasilnya akan meningkat.</p>
<p>§ Antikoagulan</p>
<p>Antikoagulan dapat mendilusi konsentrasi gas darah dalam tabung. Pemberian heparin yang berlebihan akan menurunkan tekanan CO2, sedangkan pH tidak terpengaruh karena efek penurunan CO2 terhadap pH dihambat oleh keasaman heparin.</p>
<p>§ Metabolisme</p>
<p>Sampel darah masih merupakan jaringan yang hidup. Sebagai jaringan hidup, ia membutuhkan oksigen dan menghasilkan CO2. Oleh karena itu, sebaiknya sampel diperiksa dalam 20 menit setelah pengambilan. Jika sampel tidak langsung diperiksa, dapat disimpan dalam kamar pendingin beberapa jam.</p>
<p>§ Suhu</p>
<p>Ada hubungan langsung antara suhu dan tekanan yang menyebabkan tingginya PO2 dan PCO2. Nilai pH akan mengikuti perubahan PCO2.</p>
<p>Nilai pH darah yang abnormal disebut asidosis atau alkalosis sedangkan nilai PCO2 yang abnormal terjadi pada keadaan hipo atau hiperventilasi. Hubungan antara tekanan dan saturasi oksigen merupakan faktor yang penting pada nilai oksigenasi darah</p>
<p>H. Hal-hal yang perlu diperhatikan</p>
<p>§ Tindakan pungsi arteri harus dilakukan oleh perawat yang sudah terlatih</p>
<p>§ Spuit yang digunakan untuk mengambil darah sebelumnya diberi heparin untuk mencegah darah membeku</p>
<p>§ Kaji ambang nyeri klien, apabila klien tidak mampu menoleransi nyeri, berikan anestesi lokal</p>
<p>§ Bila menggunakan arteri radialis, lakukan test allent untuk mengetahui  kepatenan arteri</p>
<p>§ Untuk memastikan apakah yang keluar darah vena atau darah arteri, lihat darah yang keluar, apabila keluar sendiri tanpa kita tarik berarti darah  arteri</p>
<p>§ Apabila darah sudah berhasil diambil, goyangkan spuit sehingga darah tercampur rata dan tidak membeku</p>
<p>§ Lakukan penekanan yang lama pada bekas area insersi (aliran arteri lebih deras daripada vena)</p>
<p>§ Keluarkan  udara dari spuit jika sudah berhasil mengambil darah dan tutup ujung jarum dengan karet atau gabus</p>
<p>§ Ukur tanda vital (terutama suhu) sebelum darah diambil</p>
<p>§ Segera kirim ke laboratorium ( sito )</p>
<p>I.  Persiapan pasien</p>
<p>§ Jelaskan prosedur dan tujuan dari tindakan yang dilakukan</p>
<p>§ Jelaskan bahwa dalam prosedur pengambilan akan menimbulkan rasa sakit</p>
<p>§ Jelaskan komplikasi yang mungkin timbul</p>
<p>§ Jelaskan tentang allen’s test</p>
<p>J. Persiapan alat</p>
<p>§ Spuit  2 ml atau 3ml  dengan jarum ukuran 22 atau 25 (untuk anak-anak) dan nomor 20 atau 21 untuk dewasa</p>
<p>§ Heparin</p>
<p>§ Yodium-povidin</p>
<p>§ Penutup jarum (gabus atau karet)</p>
<p>§ Kasa steril</p>
<p>§ Kapas alkohol</p>
<p>§ Plester dan gunting</p>
<p>§ Pengalas</p>
<p>§ Handuk kecil</p>
<p>§ Sarung tangan sekali pakai</p>
<p>§ Obat anestesi lokal jika dibutuhkan</p>
<p>§ Wadah berisi es</p>
<p>§ Kertas label untuk nama</p>
<p>§ Thermometer</p>
<p>§ Bengkok</p>
<p>I. Prosedur kerja</p>
<p>1. Baca  status dan data klien untuk memastikan pengambilan AGD</p>
<p>2. Cek alat-alat yang akan digunakan</p>
<p>3. Cuci tangan</p>
<p>4. Beri salam dan panggil klien sesuai dengan namanya</p>
<p>5. Perkenalkan nama perawat</p>
<p>6. Jelaskan prosedur yang akan dilakukan pada klien</p>
<p>7. Jelaskan tujuan tindakan yang dilakukan</p>
<p>8. Beri kesempatan pada klien untuk bertanya</p>
<p>9. Tanyakan keluhan klien saat ini</p>
<p>10. Jaga privasi klien</p>
<p>11. Dekatkan alat-alat ke sisi tempat tidur klien</p>
<p>12. Posisikan klien dengan nyaman</p>
<p>13. Pakai sarung tangan sekali pakai</p>
<p>14. Palpasi arteri radialis</p>
<p>15. Lakukan allen’s test</p>
<p>16. Hiperekstensikan pergelangan tangan klien di atas gulungan handuk</p>
<p>17. Raba kembali arteri radialis dan palpasi pulsasi yang paling keras dengan menggunakan jari telunjuk dan jari tengah</p>
<p>18. Desinfeksi area yang akan dipungsi menggunakan yodium-povidin, kemudian diusap dengan kapas alkohol</p>
<p>19. Berikan anestesi lokal jika perlu</p>
<p>20. Bilas spuit ukuran 3 ml dengan sedikit heparin 1000 U/ml dan kemudian kosongkan spuit, biarkan heparin berada dalam jarum dan spuit</p>
<p>21. Sambil mempalpasi arteri, masukkan jarum dengan sudut 45 ° sambil menstabilkan arteri klien dengan tangan yang lain</p>
<p>22. Observasi adanya pulsasi (denyutan) aliran darah masuk spuit (apabila darah tidak bisa naik sendiri, kemungkinan pungsi mengenai vena)</p>
<p>23. Ambil darah 1 sampai 2 ml</p>
<p>24. Tarik spuit dari arteri, tekan bekas pungsi dengan menggunakan kasa 5-10 menit</p>
<p>25. Buang udara yang berada dalam spuit, sumbat spuit dengan gabus atau karet</p>
<p>26. Putar-putar spuit sehingga darah bercampur dengan heparin</p>
<p>27. Tempatkan spuit di antara es yang sudah dipecah</p>
<p>28. Ukur suhu dan  pernafasan klien</p>
<p>29. Beri label pada spesimen yang berisi nama, suhu, konsentrasi oksigen yang digunakan klien jika kilen menggunakan terapi oksigen</p>
<p>30. Kirim segera darah ke laboratorium</p>
<p>31. Beri plester dan kasa jika area bekas tusukan sudah tidak mengeluarkan darah (untuk klien yang mendapat terapi antikoagulan, penekanan membutuhkan waktu yang lama)</p>
<p>32. Bereskan alat yang telah digunakan, lepas sarung tangan</p>
<p>33. Cuci tangan</p>
<p>34. Kaji respon klien setelah pengambilan AGD</p>
<p>35. Berikan reinforcement positif pada klien</p>
<p>36. Buat kontrak untuk pertemuan selanjutnya</p>
<p>37. Akhiri kegiatan dan ucapkan salam</p>
<p>38. Dokumentasikan di dalam catatan keperawatan waktu pemeriksaan AGD, dari sebelah mana darah diambil dan respon klien</p>
<br />Posted in Uncategorized  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kadaverboy.wordpress.com/92/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kadaverboy.wordpress.com/92/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kadaverboy.wordpress.com/92/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kadaverboy.wordpress.com/92/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/kadaverboy.wordpress.com/92/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/kadaverboy.wordpress.com/92/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/kadaverboy.wordpress.com/92/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/kadaverboy.wordpress.com/92/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kadaverboy.wordpress.com/92/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kadaverboy.wordpress.com/92/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kadaverboy.wordpress.com/92/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kadaverboy.wordpress.com/92/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kadaverboy.wordpress.com/92/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kadaverboy.wordpress.com/92/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kadaverboy.wordpress.com&amp;blog=10509290&amp;post=92&amp;subd=kadaverboy&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kadaverboy.wordpress.com/2009/11/25/blood-gas-anayzer/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/79101c68fd37f3d533c67a75acf4af69?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">kadaverboy</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Multiple Sklerosis</title>
		<link>http://kadaverboy.wordpress.com/2009/11/22/multiple-sklerosis/</link>
		<comments>http://kadaverboy.wordpress.com/2009/11/22/multiple-sklerosis/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 22 Nov 2009 15:02:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kadaverboy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kadaverboy.wordpress.com/?p=90</guid>
		<description><![CDATA[PENDAHULUAN Otak merupakan bagian tubuh yang bisa dikatakan paling vital. Sebab hampir sebagian aktivitas yang dijalankan tubuh dikoordinasikan oleh organ ini. Ditambah lagi anggapan yang menyatakan bahwa setelah lahir, otak kita tidak akan mengalami penambahan jumlah sel otak, yang mengakibatkan kerusakan otak semakin sulit untuk sembuh secara sempurna seperti organ-organ yang lainnya. Sistem Saraf pun [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kadaverboy.wordpress.com&amp;blog=10509290&amp;post=90&amp;subd=kadaverboy&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>PENDAHULUAN</p>
<p>Otak merupakan bagian tubuh yang bisa dikatakan paling vital. Sebab hampir sebagian aktivitas yang dijalankan tubuh dikoordinasikan oleh organ ini. Ditambah lagi anggapan yang menyatakan bahwa setelah lahir, otak kita tidak akan mengalami penambahan jumlah sel otak, yang mengakibatkan kerusakan otak semakin sulit untuk sembuh secara sempurna seperti organ-organ yang lainnya.<br />
Sistem Saraf pun demikian. Sistem saraf mengandung ratusan juta bahkan milyaran sel yang siap mengantarkan seluruh pesan yang akan kita kirimkan ke bagian tubuh yang lain, di samping pula hormon, namun bila dihantarkan oleh saraf, pesan akan lebih cepat dikirim.<br />
Namun bagaimana apabila bagian-bagian vital tubuh ini diserang oleh berbagai penyakit. Tentunya segalanya akan menjadi sangat repot. Manusia tidak lagi dapat bekerja dengan baik. Multipel sklerosis adalah salah satu penyakit saraf yang menyerang sel-sel saraf di bagian sistem saraf pusat. Penyakit ini menyebabkan kerusakan pada selubung mielin saraf manusia sehingga menyebabkan gangguan sistem hantaran impuls pada saraf tersebut.<br />
MS mempengaruhi area dari otak dan syaraf tulang belakang yang dikenal sebagai substansi alba. Sel-sel substansi alba membawa sinyal antara area substansi abu-abu, dimana pemrosesan dilakukan, dan hasilnya dikirimkan ke tubuh. Lebih khususnya, MS menghancurkan oligodendrocytesyang adalah sel-sel bertanggungjawab untuk membuat dan memelihara satu lapisan lemak, yang dikenal sebagai sarung pelindung  myelin, yang membantu neuron membawa sinyal elektrik. MS menyebabkan penipisan atau kerusakan total myelin dan sering memotong perluasan neuron atau axons. Ketika myelin hilang, neuron tidak bisa lagi secara efektif menghantarkan sinyal elektrik. Nama multipel sklerosa mengacu pada jaringan parut (scleroses &#8211; lebih dikenal sebagai plak atau lesi) dalam substansi alba. Tingkat kerusakan myelin dalam lesi ini menyebabkan sebagian dari gejala, bervariasi tergantung atas daerah yang mengalami kerusakan. Hampir semua gejala  neurologis bisa menyertai penyakit ini. Untuk lebih jelasnya akan dijelaskan pada bab berikutnya.</p>
<p>MULTIPLE SKLEROSIS</p>
<p>Multipel sklerosis adalah satu kondisi autoimun dimana sistem kekebalan tubuh menyerang sistem saraf pusat ( SSP ), yang mendorong ke arah terjadinya demielinisasi. Mungkin menyebabkan banyak gejala fisik dan mental, dan sering juga berkembang menjadi cacat fisik dan kognitif. Serangan Penyakit biasanya terjadi pada dewasa muda, umumnya terjadi pada wanita, dan mempunyai prevalensi mencakup antara 2 sampai 150 setiap 100,000 tergantung pada negara atau populasi spesifik. MS pertama digambarkan pada tahun 1835 oleh Jean-Martin Charcot.1<br />
Penyakit ini menyebabkan luka-luka pada sarung pelindung mielin ( lemak yang melingkupi aksons sel-sel saraf ), oligodendrosit (sel-sel yang menghasilkan mielin), akson dan sel-sel saraf. Gejala dari multipel sklerosis bervariasi, tergantung pada lokasi dari plak ( area dari jaringan parut ) di dalam sistem saraf pusat. Gejala umum mencakup kelemahan dan kelelahan, gangguan sensoris di dalam limbus, gangguan fungsi saluran kemih atau saluran pencernaan, gangguan fungsi seksual, dan kehilangan keseimbangan. Walaupun penyakit ini tidak dapat diobati atau dicegah pada saat ini, penanganannya adalah untuk mengurangi gejala dan progresivitas.2</p>
<p>Epidemiologi<br />
Menurut National Multiple Sclerosis Society, kira-kira 400,000 orang Amerika tercatat menderita MS, dan pada setiap minggunya sekitar 200 orang didiagnosis MS. Di seluruh dunia, MS mungkin diderita 2.5 juta individu. Umumnya serangan terjadi dalam dekade ketiga dan keempat, walaupun penyakit inibisa mulai dalam masa kanak-kanak dan juga di atas usia 60 tahun. Secara keseluruhan, MS terjadi lebih sering pada wanita dibandingkan laki-laki, dengan perbandingan adalah kira-kira 2:1. 2<br />
Multipel sklerosis lebih sering ditemukan pada daerah dengan suhu sedang dibandingkan dengan daerah iklim tropis. Perbedaan etnis pada insidensi penyakit merupakan argumen kerentanan genetik terhadap kondisi ini.Akan tetapi, variasi geografis juga memperlihatkan peran faktor lingkungan, misalnya virus. Hal ini terutama terlihat dari epidemi munculnya multipel sklerosis, misalnya pada Kepulauan Faroe dan Islandia. Terdapat juga bukti bahwa orangyang dilahirkan pada daerah yang berisiko tinggi untuk multipel sklerosis akan membawa risiko tersebut jika mereka pindah ke daerah dengan risiko rendah dan sebaliknya, tetapi hanya jika perpindahan terjadi pada usia remaja. Hal ini menunjukkan bahwa virusyang berdasarkan hipotesis bekerja pada dekade pertama atau kedua kehidupan.3<br />
Multipel sklerosis jarang terjadi pada khatulistiwa dan garis lintang 30°–35° utara dan selatan. Pada umumnya multipel sklerosis meningkat secara proporsional dengan meningkatnya jarak dari garis katulistiwa. Tidak ada penjelasanyang memuaskan mengenai peristiwa ini, walaupun variabel tertentu telah diteliti. Hal ini karena meliputi faktor-faktor lingkungan, seperti iklim, kelembaban, resistensi pada virus tertentu, konsumsi susu sapi.2</p>
<p>Patologi<br />
Penyakit ini terutama mengenai substansia alba otak dan medula spinalis, serta nervus optikus. Ditemukan sel inflamasi kronik dan kerusakan mielin dengan akson yang relatif masih baik. Pada substansia alba terdapat area yang relatif tampak normal yang berselang – seling dengan fokus inflamasi dan demielinisasi yang disebut juga plak, yang sering kali terletak dekat venula. Demielinisasi inflamasi jalur SSP menyebabkan penurunan dan gangguan kecepatan hantar saraf dan akhirnya hilangnya penghantaran informasi oleh jaras tertentu.3<br />
Plak inflamasi akan mengalami evolusi seiring dengan waktu. Pada tahap awal terjadi perombakan lokal sawar darah otak, diikuti inflamasi dengan edema, hilangnya mielin, dan akhirnya jaringan parut SSP yaitu gliosis. Hasil akhirakan menyebabkan daerah sklerosis yang mengerut, yang berkaitan dengan defisit klinis minimal dibandingkan saat plak masih aktif. Hal ini sebagian disebabkan oleh remielinisasi yang merupakan potensi SSP, dan juga memperjelas kembalinya fungsi dengan resolusi inflamasi dan edema. Keadaan patologis ini berhubungan dengan pola klinis relaps multipel multipel, yaitu terjadi gejala untuk suatu periode tertentuyang selanjutnya membaik secara parsial atau total. Lesi inflamasi lebih lanjut yang terletak dekat lokasi kerusakan yang sudah ada sebelumnya akan menyebabkan akumulasi defisit neurologis. Plak tidak harus berhubungan dengan kejadian klinis spesifik, misalnya jika plak hanya kecil saja dan terletak pada area SSPyang relatif tenang.3<br />
MS ditandai oleh fokus demielinisasi ( plak ) dan berikutnya, pengrusakan dari badan sel akson dan neuronal. Perubahan ini bisa tampak dimanapun dalam sistem saraf pusat tetapi mempunyai tempat predileksi di daerah periaquaduktus, dasar ventrikel keempat, dan area subpial saraf tulang belakang.Neuron dalam substansi abu-abu sering terlihat utuh dan astrosit sedikit meningkat jumlahnya. Plak di substansi alba berwarna abu-abu dan keras, ditandai dengan proliferasi glial, fibrillary gliosis, dan peningkatan kepadatan serat retikulin. Multipel dan fokus sklerotik inilahyang memberikan nama pada penyakit ini.4,5</p>
<p>Etiologi dan Patofisiologi<br />
Penyebab dari multipel sklerosis tetap tidak diketahui, walaupun kegiatan penelitian dibidang ini sudah banyak dilakukan. Hipotesisyang tidak terhitung banyaknya sudah diajukan. Sebagian besar multipel sklerosis di Eropa adalah tipe HLA-A3, B7, DW2 dan DR2. Selama serangan akut, jumlah sel-sel supresor dalam darah perifer berkurang. Penelitian eksperimental mendukung teori dari infeksi slow virus atau reaksi autoimun. Inokulasi ke dalam domba berupa jaringan saraf yang diambil dari pasien dengan multipel sklerosis memprovokasi serangan penyakit Scrapie, suatu</p>
<p>penyakit SSP yang dapat ditransmisikan pada domba setelah interval laten kira-kira 18 bulan. Dua penyakit SSP progresif kronik lainnya pada manusia diketahui dapat ditransmisikan pada simpanse yaitu penyakit Kuru dan penyakit Creutzfeldt-Jacob. Walaupun titer campakyang meningkat sering terdapat pada pasien multipel sklerosis, tetapi virus campak tidak dapat dianggap sebagai virus yang bertanggung jawab untuk penyakit ini. Patogenesis dari multipel sklerosis sebagian komplemen dan sebagian berlawanan dengan mekanisme autoimun, teori ini didukung oleh model percobaan ensefalomielitis alergika eksperimental pada binatang. Pada tahun-tahun terakhir ini, perjalanan penyakityang berulang telah ditemukan pada binatang percobaan. Suatu sensitisasi yang terlambat terhadap protein sensefalitogenik dari SSP telah diperlihatkan terjadi melalui reaksi imun seluler. Limfosit yang tersensitisasi merupakan karier yang paling penting dari proses ini.4<br />
Peran mekanisme imun pada patogenesis multipel sklerosis didukung beberapa temuan, seperti adanya sel inflamasi kronik pada plak aktif dan hubungan kondisi ini dengan gen spesifik pada kompleks histokompatibilitas mayor ( major histocompatibility, MHC ). Banyak gangguan autoimun yang ternyata berhubungan dengan kelompok gen ini.3<br />
Hubungan dengan MHC merupakan salah satu bukti pengaruh komponen genetik dalam etiologi multipel sklerosis, begitu pula adanya kasus pada keluarga, dan temuan peningkatan kejadian pada kasus kembar identik ( monozigot ) dibandingkan kembar nonidentik ( dizigot ). Akan tetapi, belum ditemukan gen tunggal yang penting untuk terjadinya multipel sklerosis.3<br />
Fokal area dari destruksi mielin di dalam MS terjadi dengan latar belakang suatu proses radang yang didominasi oleh penyusupan dari T-limfosit, hematogen makrofag, aktivasi dari lokal mikroglia, dan adanya sedikit B-limfosit atau sel-sel plasma. Proses peradangan ini berhubungan dengan peningkatan berbagai cytokines di dalam lesi MS, mencakup interleukin-1,2,4,6,10,12, gamma-interferon (c-IFN), tumor necrosis alfa factor (TNF-a), dan transforming growth beta faktor (TGF-b).6<br />
Tanda patologik multipel sklerosis adalah multisentrik, inflamasi SSP multifasik dan demielinisasi. Pada mulanya, setiap luka multipel sklerosis kemungkinan melalui suatu peristiwa dari demielinisasi dan remielinisasi menuju ke plak kronik dengan preserfasi relatif dari akson serta gliosis. Dengan begitu, terjadi disfungsi neuropsikologikal, meskipun jaringan neural yang esensial utuh, sampai akhir perjalanan penyakit. Bagaimanapun, penelitian saat ini telah menemukan axonal transections benar-benar terjadi selama eksaserbasi akut; selanjutnya, kerusakan axonal, yang dilihat dengan magnetic resonance spektroscopy, berhubungan dengan kelainan klinis. Jelas, diperlukan lebih banyak usaha untuk memahami asosiasi antara peradangan-media demielinisasi, axonal injury, dan kelainan klinis.7<br />
Untuk alasan belum jelas, karakteristik luka mencakup saraf mata dan substansi alba periventrikular serebelum, batang otak, ganglia fundamental, dan medula spinalis. Mengidentifikasikan lesi multipel sklerosis dalam sejumlah besar spesimen adalah sulit, untuk mengidentifikasikan lesi multipel sklerosis dalam substansi alba dengan pencitraan radiografis; karenanya, tempat predileksi di dalam otak mungkin tidak berhubungan dengan gejalanya. Sistem saraf perifer jarang terlibat.7</p>
<p>Gambaran Klinis<br />
Gambaran klinis yang  khas:<br />
• Serangan yang berulang terjadi pada interval yang tidak teratur, dengan penyembuhan sempurna atau parsial dari tanda dan gejalanya di antara setiap serangan pada kira-kira 60% kasus.<br />
•	Lokasi serangan tersebar di seluruh SSP, sehingga menimbulkan gambaran klinis yang sangat bervariasi.<br />
• Pada saat yang sama, tanda-tanda penyakit dapat ditemukan, yang menunjukan fokus-fokus demielinisasi pada berbagai lokasi misalnya atrofi optik disertai paraplegia.<br />
• Serangan yang berturut-turut dari penyakit ini dapat menyebabkan kelainan berbagai sistem misalnya kelumpuhan okuler yang diikuti satu tahun kemudian dengan gangguan miksi.8</p>
<p>Manifestasi yang sering terjadi pada multipel sklerosis adalah :<br />
1.	Gangguan visual<br />
Neuritis optik ( retrobulbar ) merupakan gangguan visual khas yang merupakan tanda onset multipel sklerosis. Patologi dasarnya adalah demielinisasi inflamasi pada satu atau kedua nervus optik. Gejala neuritis optik unilateral meliputi :<br />
•	Nyeri disekitar salah satu mata terutama saat mata bergerak<br />
•	Penglihatan kabur dan dapat berlanjut menjadi kebutaan total monookular<br />
•	Hilangnya penglihatan warna<br />
Selain gangguan ketajaman penglihatan dan warna, pemeriksaan dapat menunjukan :<br />
• Diskus optikus membengkak, dan kemerahan pada funduskopi jika area demielinisasi inflamasi terletak langsung dibelakang papil nervus optikus<br />
•	Defek lapang pandang umumnya berupa skotoma sentral pada mata yang terkena<br />
•	Defek pupil aferen relatif<br />
Neuritis optik biasanya akan membaik setelah beberapa minggu atau bulan, walaupun pasien tetap memiliki ganggguan penglihatan pada mata yang terkena, dan funduskopi umumnya menunjukkan diskus optikus yang pucat karena atrofi nervus optikus. Pembengkakan diskus optikus pada fase akut, jika bilateral, harus dibedakan dari edema papil yang disebabkan oleh peningkatan tekanan intrakranial walaupun kadang tampak serupa. Pada edema papil, biasanya ketajaman penglihatan lebih baik, dan defek lapang pandang pada awal edema papil adalah berupa pembesaran bintik buta fisiologis. Episode neuritis optik tidak selalu menunjukkan bahwa pasien selanjutnya akan mengalami multipel sklerosis mungkin saja hanya merupakan penyakit monofasik, terutama pada anak dan jika bilateral.<br />
Gangguan visual lainnya saat onset multipel sklerosis meliputi diplopia yang sering disertai vertigo dan mual, sehingga merupakan indikasi adanya plak batang otak. Pemeriksaan pada keadaan ini dapat menunjukkan oftalmoplegia internuklear. Dapat juga terjadi ataksia serebelar. 3,4,5</p>
<p>2.	Gejala dari gangguan batang otak<br />
Trigeminal neuralgia terjadi pada 1.5% pasien MS dan 300 kali lebih banyak terjadi dalam kelompok ini dibandingkan di dalam populasi umum. Trigeminal neuralgia, dua kali lipat terjadi bilateral dalam pasien multipel sklerosis dibandingkan di poplulasi pada umumnya. Seringkali, nyeri muncul di antara serangan paroksismal, dan bisa saja nyeri terjadi diluar dari distribusi syaraf trigeminal, kelumpuhan nerfus fasialis, atau gejala lain yang menyertai tanda gejala pada lesi pontine. MS-related trigeminal neuralgia memberikan respon terhadap pengobatan dengan prostaglandin E analog. Ketulian Mendadak atau serangan akut vertigo dapat menyerupai suatu krisis vestibular akut, bisa juga merupakan tanda dari multipel sklerosis yang kurang sering terjadi. 4,5</p>
<p>3.	Gejala gangguan serebelar<br />
Tanda dan gejala serebelar terdapat pada ¾ kasus. Gerakan ataksia sering kali merupakan tanda yang menonjol yang terutama mengenai gaya berjalan pasien, yang tidak hanya spesifik tetapi juga ataksik. Yang terutama berkesan dan sangat karakteristik pada multipel sklerosis adalah tremor intensi yang menyertai gerakan volunter misalnya tes jari-hidung. Tremor menunjukan suatu lesi dari nukleus dentatus yang mengenai serabut-serabut eferennya. Disdiadokokinesia dan dismetria pada gerakan dapat ditemukan, biasanya disertai oleh tanda-tanda spastisitas dan refleks di tendon yang meningkat. Gangguan bicara dideskripsikan sebagai irama yang tidak beraturan dan eksplosif.4,5</p>
<p>4.	Gejala ekstrapiramidal<br />
Lebih dari 80% dari pasien multipel sklerosis menderita gejala kejang paraparesis dengan gejala bilateral traktus piramidal dan hiperrefleksi. Jika gejala kejang paraparesis muncul dalam waktu yang lama, diagnosis dari multipel sklerosis harus dipertanyakan. Paraparesis progresif mungkin saja hanya satu-satunya gejala multipel sklerosis, terutama sekali didalam onset akhir penyakit, dan cenderung menjadi progresif dalam beberapa kasus. Tidak adanya refleks kulit abdominal dapat menjadi tanda dari kejang paraparesis. Hal ini tidak memiliki nilai informatif sebagai satu temuan terisolasi, refleks ini tidak dimiliki oleh 20% orang dewasa normal, tetapi menjadi signifikan jika muncul bersama dengan refleks dinding abdominal yang berlebihan. 4,5</p>
<p>5.	Fenomena mirip bangkitan<br />
Timbulnya serangan epileptik pada multipel sklerosis sudah berulang-ulang diajukan dan diabaikan. Pengarang menemukan pada kelompok pasien multipel sklerosis yang diteliti ternyata epilepsi 4 kali lebih sering dibandingkan populasi umum. Serangan batang otak paroksismal harus membangkitkan kecurigaan adanya multipel sklerosis terutama pada pasien muda. Kelainan ini dapat terjadi sebagai tanda penyakit yang timbul, dengan cara yang sama seperti serangan berupa kehilangan tonus otot yang menyebabkan pasien jatuh atau seperti distonia paroksismal. Sebagian serangan berulang yang berlangsung selama 15-45 detik, disertai oleh disartria paroksismal dan ataksia.4,5</p>
<p>6.	Gangguan mental<br />
Pasien dengan mutipel sklerosis tidak jarang memperlihatkan euforia yang tidak sesuai kurangnya menyadari penyakitnya. Makin lama perjalanan penyakitnya, makin mungkin timbul perubahan psikoorganik yang terutama pada kasus-kasus dengan perjalanan penyakit yang panjang, dapat menimbulkan demensia pada ¼ pasien. Gangguan mental dapat merupakan gejala dari MS, biasanya berkaitan dengan kelainan batang otak; tentu saja, gambaran psikotik dapat merupakan tanda dini dari penyakit ini. Pada stadium yang lebih dini, tanda kelainan mental dapat ditemukan pada kira-kira 3% kasus.4,5</p>
<p>7.	Gangguan miksi<br />
Pada saat pertama kali masuk rumah sakit, sekitar 20% pasien memperlihatkan gangguan ini. Yang paling sering adalah dorongan yang tidak terkontrol untuk miksi, yang dapat menimbulkan ngompol. Bentuk lain dari inkontinensia kurang sering ditemukan.4,5</p>
<p>8.	Gangguan Sensorimotorik<br />
Manifestasi sensorik dan motorik umumnya menunjukkan lesi pada medula spinalis atau hemisfer serebri. Contohnya, pasien mengalami paraparesis spastik asimetris dan atau parestesia, anestesia suhu, dan disestesia pada anggota gerak. Lesi pada kolumna posterior medula spinalis servikal dapat menyebabkan gejala yang hampir patognomonik yaitu sensasi kesemutan yang menjalar ke lengan atau tungkai saat fleksi leher (Fenomena Lhermitte). Pada beberapa pasien, gejala motorik, sensorik, atau visual terkadang lebih buruk setelah mandi air panas ( Fenomena Uhthoff ).2,3,4,5<br />
Gangguan sensorik terdapat kira-kira pada 50% pasien-pasien dengan penyakit yang dini. Kadang-kadang gejala yang timbul berupa sensasi yang spontan abnormal (parestesia) atau sebagai perasaan abnormal setelah menggores kulit dari ekstremitas (disestesia). Tangan kadang-kadang dapat memperlihatkan astereognosia yang berat.4,5</p>
<p>Perjalanan Penyakit<br />
Pada waktu evolusi gejala yang umum terjadi adalah gambaran klinis memburuk selama beberapa hari atau minggu, mencapai plateu dan kemudian membaik secara bertahap, sebagian atau total, selama beberapa minggu atau bulan. Kemudian dapat terjadi rekurensi pada interval yang tidak dapat diperkirakan, yang mengenai bagian yang sama atau berbeda dari SSP. Peran cedera fisik, infeksi, kehamilan, dan stres emosional dalam menyebabkan relaps masih kontroversial.3</p>
<p>Dapat terjadi resolusi simtomatik total atau hampir total, khususnya dengan episode – episode awal ( penyakit relaps – remisi, kurang lebih pada 80% pasien ). Akan tetapi, episode demielinisasi berikutnya dapat menyebabkan ketidakmampuan residu, sehingga pasien memasuki fase sekunder progresi stabil tanpa resolusi ( penyakit progresif sekunder ). Beberapa pasien ( kira – kira 10% ), terutama pada kasus paraparesis spastik di usia pertengahan, tidak akan mengalami relaps dan remisi yang jelas ( penyakit progresif primer ).3<br />
Perjalanan alamiah multipel sklerosis pada tiap pasien amat bervariasi. Beberapa pasien dapat mengalami satu atau lebih episode inisial kemudian tidak ada gejala untuk bertahun – tahun ( pola jinak terjadi pada 10% kasus ).Sebagian akan mengalami akumulasi disabilitas, walaupun tetap mampu bekerja selama bertahun – tahun. Akan tetapi, sekelompok pasien ( hingga sepertiga kasus ) terkenanya lebih parah. Saat ini belum dapat diprediksi prognosis setiap pasien, walaupun biasanya keterlibatan motorik dan serebelar mempunyai prognosis lebih buruk.3<br />
Gejala klinis pasien usia muda dengan multipel sklerosis lanjut, sangat membebani keluarga dan orang yang merawat. Kadang – kadang penyakit bersifat hiperakut, dan terjadi kematian dalam beberapa bulan, tetapi harapan hidup rata – rata pasien dengan penyakit progresif adalah lebih dari 25 tahun setelah onset. Pasien dengan penyakit progresif primer dapat mengalami akumulasi disabilitas perlahan – lahan walau dari definisi berarti tanpa ada remisi; sehingga prognosis jangka panjang biasanya buruk.3</p>
<p>Subtipe-subtipe dari multipel sklerosis:<br />
•	Relapsing remitting multiple sclerosa<br />
Ini adalah tipe multipel sklerosis klasik dengan gejala klinis ditandai oleh eksaserbasi, dengan peningkatan jumlah variasi antar serangan. Relapsing-remitting menggambarkan keadaan awal 85% sampai 90% dari pasien dengan multipel sklerosis. Ini adalah subtipe yang ditandai oleh serangan yang tidak dapat diramalkan ( relaps ) diikuti oleh periode remisi dari beberapa bulan sampai beberapa tahun dengan atau tanpa gejala baru dari aktivitas penyakit. Gejala neurologis selama serangan mungkin dapat menghilang atau mungkin saja menjadi permanen. Jika gejala neurologis selalu menghilang antar serangan, hal inilah yang disebut sebagai &#8220;benign&#8221; multipel sklerosis.1,8</p>
<p>•	Secondary progressive multiple sclerosa<br />
Sekitar 80 persen kasus relapsing remitting multipel sklerosis berkembang menjadi satu pola penyakit secondary progresif, secara perlahan-lahan dan progresif meningkatkan serangan tanpa adanya suatu episode remisi kurang lebih 20 tahun setelah serangan pertama. Hal ini menggambarkan suatu bentuk dari relapsing remitting multipel sklerosis pada satu varian terpisah, walaupun tidak semua relapsing remitting multiple sclerosa berlanjut menjadi secondary progressive multiple sclerosa.1,8</p>
<p>•	Primary progressive multiple sclerosa<br />
Penyakit ini mempunyai pola serangan yang lambat, biasanya terjadi setelah umur 40 tahun, dan dimulai dengan suatu kelainan yang samar dan progresive terutama pada medula spinalis tanpa eksaserbasi ataupun remisi. Tidak seperti penyakit eksaserbasi-remitting, dimana dua per tiga dari kasus adalah wanita, primary progressive multiple sclerosis hanyalah sedikit lebih umum terjadi pada para wanita dengan perbandingan sekitar 1.3:1. MRI otak dalam kasus ini kadang-kadang normal, dan MRI medula spinalis dapat hanya memperlihatkan suatu penghentian pertumbuhan medula spinalis. Secondary progressive adalah jenis paling umum dari multiple sklerosis dan menyebabkan jumlah kecacatan terbesar.1,8</p>
<p>•	Progressive relapsing multiple sclerosa<br />
Progresif relapsing menggambarkan pasien dari serangan multipel sklerosis, yang mempunyai suatu kemunduran neurologis yang menetap tetapi juga menderita serangan yang bertingkat-tingkat dan subtipe yang paling sedikit terjadi dari semua subtipe.1</p>
<p>•	Devic syndrome (Neuromyelitis optica)<br />
Devic Syndrome adalah suatu kelainan akut dimana neuritis optik dan radang saraf tulang belakang yang terjadi dalam waktu yang singkat, dengan sedikit atau tidak ada keterlibatan dari bagian-bagian lain sistem syaraf pusat. Hal ini secara umum diperkirakan sebagai suatu penyakit monofasik tanpa kekambuhan setelah serangan; bagaimanapun, banyak kasus yang dimulai dengan neuritis optik dan radang saraf tulang belakang berkembang menjadi suatu bentuk relapsing-remitting serupa dengan bentuk relapsing-remitting multiple sclerosis, tetapi dengan gejala sisa yang lebih berat dari serangan. MRI didalam kasus ini menunjukan tidak ada lesi di dalam otak tetapi secara umum memperlihatkan bukti adanya peradangan dari saraf tulang belakang biasanya tiga atau lebih segmen. Apakah hal ini adalah suatu varian dari multipel sklerosis atau satu penyakit yang berbeda masih menjadi suatu kontroversi. Mungkin saja suatu bentuk penyakit yang berbeda, atau tingkat dan perbedaan intensitas yang dapat dihubungkan lebih kepada bentuk genetik dari pasien dibandingkan pada etiologi.8</p>
<p>•	Marburg disease (Acute multiple sclerosis)<br />
Adalah suatu kelainan akut dan fulminan demielinisasi yang pertama kali digambarkan oleh Otto Marburg pada tahun 1906. Adalah suatu bentuk yang berat dari suatu penyakit progresif demielinisasi yang secara tipikal dapat menyebabkan kematian dalam beberapa bulan atau dalam satu tahun.8</p>
<p>•	Balo concentric sclerosis<br />
Kemungkinan ini adalah suatu varian agresif yang biasanya berlanjut ke arah kematian dalam beberapa minggu sampai beberapa bulan. Bentuk ini ditandai oleh plak besar dari demielinisasi dengan bentuk lapisan konsentris dari regenerasi mielin. Plak ini kadang-kadang bisa terlihat di dalam MRI. Bukti-bukti yang ada saat ini, dari beberapa kasus dengan Balo-like lesion pada gambaran MRI mempunyai satu bentuk tipikal dari relapsing-remitting multiple sclerosis. Mungkin saja bahwa like Balo-lesion adalah satu macam bentuk dari beberapa multipel sklerosis dini yang dengan sangat aktif mengalami remielinisasi, bentuk lesi yang menghilang ketika perkembangan penyakit berjalan sedemikian rupa sehingga lesi konsentris hanya dapat diamati secara patologis dalam individu yang meninggal segera setelah serangan dari penyakit.8</p>
<p>•	Diffuse Sclerosis (Schilder&#8217;s Disease)<br />
Anak-anak dengan penyakit ini menderita suatu kemunduran mental yang cepat dan kemunduran neurologis oleh karena ekstensif, simetris demielinisasi terutama mempengaruhi pusat semiovale. Penyakit diperkirakan suatu jenis dari leukodistrofi.5</p>
<p>•	Disseminated Acut Encephalomyelitis (ADEM)<br />
Penyakit ini diperkirakan menjadi suatu varian yang akut progresif dari multipel sklerosis. Seperti di multipel sklerosis, ada fokus dari demielinisasi dalam otak dan saraf tulang belakang dengan destruksi aksonal dan infiltrasi perivaskular limfositik . Gejala mulai dengan akut, sering dengan gejala demam, leukositosis, dan CSF pleositosis sampai 300 sel-sel setiap milimeter kubik, dan mungkin dapat secara simultan mencakup sistem saraf perifer juga. Pembentukan yang tidak sempurna dari protein dasar mielin tampaknya berperan penting dalam patogenesis ADEM. Penyakit ini kemajuannya sering terjadi dengan cepat, mendorong ke arah kematian di dalam beberapa minggu, tetapi juga bisa terjadi pemulihan sempurna.8</p>
<p>Diagnosis<br />
Selama bertahun – tahun, diagnosis multipel sklerosis ditegakkan berdasarkan gejala klinis, timbulnya paling sedikit dua lesi SSP dengan karakteristik klinis yang tepat, terpisah waktu dan ruang. Saat ini sudah ada pemeriksaan spesialistik dan pemeriksaan laboratorium untuk menunjang diagnosis. Tujuan pemeriksaan pasien dengan kecurigaan multipel sklerosis adalah:<br />
•	mengumpulkan bukti anatomis lesi yang terpisah pada SSP,<br />
•	mendapatkan bukti gangguan imun SSP,<br />
•	menyingkirkan kemungkinan diagnosis lainnya.3</p>
<p>Sehubungan dengan luasnya ruang lingkup dan gejala, maka multipel sklerosis tidak boleh didiagnosis hanya setelah beberapa bulan sampai 1 tahun setelah serangan gejala. Dokter, terutama sekali ahli saraf, harus mencatat secara rinci perjalanan penyakit dan melakukan pemeriksaan fisik dan neurologis.2,9<br />
Diagnosis dari multipel sklerosis biasanya dibuat pada pasien dewasa muda dengan gejala relapsing-remitting yang dapat dijadikan acuan ke berbagai area dari substansi alba dari sistem saraf pusat. Diagnosis lebih sulit dilakukan pada pasien saat sedang mengalami keluhan neurologis atau pada bentuk klinis progresif primer.9<br />
Pemeriksaan laboratorium meliputi pemeriksaan darah untuk menyingkirkan penyakit vaskuler kolagen, infeksi (Penyakit Lyme, sipilis,dll), kelainan endokrin, kekurangan vitamin B-12, sarcoidosis, dan vaskulitis. Pemeriksaan dari cairan cerebrospinal (CSS) digunakan untuk mendukung diagnosis dari multipel sklerosis. Adanya protein dasar mielin di dalam CSS pasien multipel sklerosis mungkin saja benar-benar petunjuk aktivitas proses multipel sklerosis, tetapi ketidakhadirannya tidak mengesampingkan aktivitas penyakit.9<br />
Sebuah teknik neuroimaging terbaru, Magnetic Resonance Spechtroscopy (MRS), bermanfaat dalam mengamati jumlah NAA (N-acetyl-aspartate) pada pasien dengan multipel sklerosis. NAA adalah suatu asam amino yang ditemukan di dalam neuron dan aksons otak. Pada pasien dengan relapsing-remitting multiple sclerosis, jumlah NAA menurun, menandakan adanya kerusakan axonal; bagaimanapun, pada pasien dengan secondary progresive multiple sclerosis dengan banyak kelainan, jumlah NAA berkurang secara signifikan. Pada fakta, pasien dengan multipel sklerosis mempunyai jumlah yang lebih rendah NAA bahkan di area otak sebelumnya secara alami, ketika dibandingkan dengan jumlah NAA di dalam orang normal.9</p>
<p>Pemeriksaan penunjang yang penting adalah:<br />
• CT scan dapat memperlihatkan plak-plak yang menunjukan peningkatan yang abnormal setelah suntikan larutan yodium. MRI scan lebih sensitif memperlihatkan lebih banyak plak daripada CT scan, begitu juga lesi-lesi sampai sekecil 4&#215;3 mm.1<br />
MRI otak dan medula spinalis, yang dapat menunjukkan lesi plak demielinisasi. Akan tetapi, gambaran ini tidak spesifik untuk multipel sklerosis ( penyakit pembuluh darah kecil juga dapat menunjukkan gambaran serupa ) dan beberapa pasien sklerosis multipel mungkin mengalami negatif palsu pada MRI. Walaupun demikian, saat ini telah dibuat suatu kriteria yang memungkinkan diagnosis multipel sklerosis setelah serangan klinis pertama, berdasarkan gambaran MRI tertentu.3</p>
<p>• Potensial bangkitan visual ( visual evoked potentials ), yang dapat menunjukkan perlambatan konduksi sentral jalur visual, misalnya akibat neuritis optik subklinis sebelumnya. 3<br />
• Pemeriksaan cairan serebrospinal, yang dapat menunjukkan perubahan nonspesifik termasuk limfositosis dengan penyakit aktif, dan peningkatan protein ( terutama imunoglobulin ). Pemeriksaan cairan serebrospinal yang lebih teliti untuk mendiagnosis multipel sklerosis adalah deteksi pita oligoklonal dengan elektroforesis yang menunjukkan sintesis lokal imunoglobulin dalam SSP. Akan tetapi, tes ini masih dapat menunjukkan positif palsu pada keadaan imunologis atau infeksi lainnnya, dan pasien multipel sklerosis jarang mengalami negatif palsu.3<br />
•	Pemeriksaan tambahan<br />
Beberapa pemeriksaan penunjang lainnya biasa juga dilakukan. Elektroensefalografi pada minimal sepertiga kasus memperlihatkan abnormalitas yang tidak spesifik yang tidak memiliki korelasi dengan gambaran status mental pasien. Serum darah memperlihatkan kadar gamaglobulin yang meningkat dan perubahan imunoelektroforetik hanya selama serangan akut. Tes serologik tidak banyak gunanya pada saat diagnosa klinis ditegakkan walaupun kenyataan bahwa antibodi otak yang bersirkulasi dapat diperlihatkan pada seperempat sampai sepertiga pasien. Sayangnya antibodi-antibodi ini adalah tidak spesifik, dapat ditemukan pada penyakit-penyakit lain yang mana terjadi kerusakan jaringan otak. Sebagian besar dari pasien dengan multipel sklerosis memperlihatkan titer antibodi yang tinggi terhadap virus campak daripada yang ditemukan pada populasi umum. Limfosit dari pasien-pasien ini lebih sering memperlihatkan pengelompokan roset daripada sel-sel epitelial yang disuntik dengan virus campak.4</p>
<p>Karena pemeriksaan diatas tidak ada yang 100% sensitif atau spesifik untuk multipel sklerosis, maka pemeriksaan ini harus dipertimbangkan dan dinilai dengan baik. Pada pasien dengan gejala sensorik minor, biasanya pemeriksaan penunjang diatas dapat ditunda dulu. Jika tidak ada tanda fisik yang definitif, pasien dapat mengalami gejala tersebut dan khawatir akan kemungkinan dirinya mengalami multipel sklerosis padahal tidak ada penyakit neurologis yang berarti. Selain itu, jika gejala mengarah multipel sklerosis tanpa adanya keterbatasan fungsi, maka pemeriksaan dapat ditunda dulu, terutama karena hingga saat ini belum ada terapi kuratif.3<br />
Pemeriksaan penunjang lebih penting dilakukan pada pasien dengan penyakit primer progresif dimana kriteria klasik diagnosis klinis tidak dapat digunakan. Pada pasien ini biasanya timbul gejala paraparesis spastik progresif. Pemeriksaan penunjang kasus ini adalah pencitraan medula spinalis dengan MRI untuk menyingkirkan lesi yang menekan medula spinalis ( misalnya tumor ), suatu diagnosis banding utama yang dapat diterapi.3</p>
<p>Diagnosis Banding<br />
Diagnosa banding utama untuk menjadi pertimbangan tergantung pada manifestasi neurologis dalam kasus:<br />
• Defisit saraf kranial mungkin saja berhubungan dengan berbagai jenis lesi fokal, seperti sebuah tumor dermoid basis kranii, suatu tumor dari serebelopontine angel, suatu tumor di foramen magnum, suatu optik glioma atau sphenoid wing meningioma dengan atrofi saraf optik, suatu brainstem astrocytoma, brainstem encephalitis, dan lain-lain.<br />
•	Suatu hemiplegia mungkin saja berhubungan dengan suatu tumor otak atau stroke<br />
•	Kejang paraparesis mungkin saja berhubungan dengan suatu tumor saraf tulang belakang atau cervical spondylotic myelopathy.<br />
•	Paraparesis berulang mungkin saja berhubungan dengan suatu malformasi vaskular pada saraf tulang belakang.<br />
• Gejala dari serebellar dan traktus piramidal, dan mungkin juga gejala dari batang otak, mungkin saja berhubungan dengan suatu massa atau bentuk malformasi batang otak atau craniocervical junction. Beberapa gejala sering misdiagnosed sebagai multipel sklerosis. Bentuk malformasi vaskuler batang otak, juga dapat menyebabkan gejala neurologis yang berubah-ubah dengan onset usia pertengahan atau usia tua.<br />
• Keterlibatan dari berbagai area dari sistem saraf pusat mungkin saja berhubungan dengan penyakit sistemik seperti sistemik lupus erythematosus, sarcoidosis, penyakit vaskuler, toxic encephalomyelopathy, hypothyroidism, atau funicular myelosis.<br />
• Keterlibatan mata dan sistem saraf pusat mungkin saja berhubungan dengan suatu vaskulitis atau intoksikasi. Uveitis ditemukan bersama-sama dengan kelainan neurologis dalam uveoencephalomyelitis ( Vogt-Koyanagi-Harada syndrom ), suatu hal yang jarang, kiranya adalah sindrom virus dimana terjadi uveitis, gangguan gaya berjalan, leukodermia, munculnya uban, encephalitis, dan tanda meningeal yang berubah-ubah.<br />
• Behcet&#8217;s disease dapat menyebabkan apththous ulcer, manifestasi okular, dan manifestasi saraf pusat, terutama brainstem encephalitis.5</p>
<p>Penatalaksanaan<br />
Secara umum, bila diagnosis sklerosis multipel telah dipastikan, maka pasien harus diberitahu. Beberapa pasien akan menanyakan apakah mereka mengalami multipel sklerosis setelah suatu episode tunggal, ketika diagnosis multipel sklerosis masih berupa kemungkinan. Pada keadaan ini, yang terbaik dilakukan adalah diskusi yang menyeluruh. Walaupun kemungkinan multipel sklerosis tidak dapat disangkal, tetapi pasien harus disadarkan bahwa mungkin penyakit yang dideritanya merupakan penyakit tunggal yang tidak akan relaps. Pasien dapat memperoleh keuntungan dengan membaca mengenai multipel sklerosis atau kontak dengan kelompok pendukung. Akan tetapi, dokter memiliki peran edukatif yang bersinambung, terutama dalam mengarahkan pasien dalam terapi yang mahal tetapi belum tentu efektif, seperti manipulasi diet dan penggunaan oksigen hiperbarik.3<br />
Pengobatan yang diakui terbaik, disamping pengobatan nonfarmakologik, saat ini adalah dengan interferon beta berupa injeksi Betaseron 250 mcg subkutan selang sehari. Penelitian Benefit yang dilaporkan awal oktober 2005 menunjukan, bahwa selama lima tahun terjadi penurunan angka kejadian multipel sklerosis hingga 50% dengan dua tahun pengobatan pada kasus yang sebelumnya adalah kemungkinan multipel sklerosis.10<br />
Walaupun belum ada terapi kuratif untuk multiple sklerosis, namun terdapat tiga aspek penting dalam tatalaksana:<br />
•	tatalaksana relaps akut,<br />
•	modifikasi perjalanan penyakit,<br />
•	kontrol gejala.3</p>
<p>Tatalaksana Relaps Akut<br />
Relaps pada seorang pasien yang cukup berat dan mengakibatkan keterbatasan fungsi, misalnya karena kelemahan anggota gerak atau gangguan visual, dapat diterapi dengan kortikosteroid. Saat ini kortikosteroid diberikan dalam bentuk metilprednisolon dosis tinggi baik secara intravena maupun oral ( 500 mg – 1 g per hari selama 3 &#8211; 5 hari ). Pengobatan ini dapat memperbaiki penyembuhan tetapi bukan derajat penyembuhan dari eksaserbasi. Steroid jangka panjang belum terbukti mempengaruhi keadaan perjalanan penyakit alamiah.3</p>
<p>Modifikasi Perjalanan Penyakit<br />
Bukti adanya dasar autoimun pada multipel sklerosis telah menarik uji klinis obat–obat imunosupresan, seperti azatioprin, metotreksat, dan siklofosfamit, yang mencoba mengubah prognosis jangka panjang penyakit. Akan tetapi, efek samping dari obat ini lebih banyak daripada keuntungannya. Sekarang mulai digunakan obat imunoterapi yang lebih baru dengan tujuan mengubah kecepatan progresivitas multipel sklerosis, atau setidaknya mengurangi kecepatan relaps, tanpa efek samping yang berat, misalnya interferon beta dan glatiramer asetat. Obat tersebut memberi harapan untuk memberikan proteksi terhadap relaps ( setidaknya reduksi frekuensi relaps sampai 30% ) dan sedikit penurunan kecepatan progresi penyakit.3</p>
<p>Kontrol Gejala<br />
Terapi simtomatik dengan obat untuk komplikasi multipel sklerosis adalah sebagai berikut :<br />
• Spastisitas, spasme fleksor – baklofen ( oral atau intratekal ), dantrolen, tizanidin, diazepam, walaupun obat – obat dapat meningkatkan kelemahan dan menyebabkan rasa kantuk. Pendekatan lain meliputi injeksi toksin botulinum pada otot yang terkena.<br />
•	Tremor serebelar – jika ringan dapat berespons dengan pemberian klonazepam, isoniazid, atau gabapentin.<br />
•	Fatique ( sering terjadi bersamaan dengan relaps ) – amantadin,selegilin, atau obat antinarkolepsi modafinil.<br />
• Gangguan kandung kemih – obat antikolinergik, misalnya oksibutinin atau tolterodin; pasien harus pula dilatih untuk melakukan kateterisasi intermiten mandiri. Infeksi saluran kemih harus ditangani segera.<br />
• Depresi – obat trisiklik dan kelompoknya dalam dosis kecil, misalnya amitriptilin atau dotiepin;selective serotonin reuptake inhibitor ( SSRI ), misalnya sertralin.<br />
• Impotensi – inhibitor fosfodiesterase tipe 5, misalnya sildenafil, papaverin intrakavernosa, atau prostaglandin. Prostaglandin dapat pula diberikan secara topikal melalui uretra.<br />
• Nyeri, gejala paroksismal termasuk kejang – karbamazepin, gabapentin. Peran kanabis dalam tatalaksana nyeri dan spastisitas pada multipel sklerosis masih kontroversial.3</p>
<p>Eksaserbasi bisa adalah didefinisikan sebagai episode serangan gejala sementara, kadang-kadang disebut juga sebagai serangan atau kambuh lagi. Sebagian besar episode relaps menunjukan suatu derajat pemulihan secara spontan, tetapi pengobatan adalah ditujukan untuk episode relaps yang mempunyai suatu dampak parah terhadap fungsi. Steroid merupakan pengobatan pilihan untuk episode relaps, biasanya metil-prednisolon diberikan dengan oral atau intravena. Sebelumnya steroid diberikan, infeksi harus disingkirkan karena steroid mempunyai efek imunosupresan dan bisa memperburuk infeksi.2<br />
Modifikasi pengobatan penyakit adalah bertujuan untuk memperlambat progresivitas penyakit. Dua jenis imunomodulator agen yang saat ini digunakan sebagai suatu pengobatan lini pertama adalah beta interferon dan glatiramer asetat. Beta Interferon sudah dibuktikan efektif untuk Relapsing-Remitting multiple sclerosa dan Secondary Progressive multiple sclerosa. Saat ini tidak ada bukti untuk peningkatan hasil pengobatan terhadap Primary Progresive multiple sclerosa. Penghentian pengobatan mungkin saja diperlukan oleh karena intoleran pada efek samping, seperti saat suatu kehamilan direncanakan, atau ketika tidak lagi efektif. Glatiramer adalah pengobatan yang sesuai untuk mengurangi frekuensi relaps pada pasien dengan Relapsing-Remitting multiple sclerosa dan tidak digunakan untuk Primary Progresive Multiple Sclerosa dan Secondary Progressive Multiple Sclerosa. Kriteria untuk menghentikan glatiramer adalah sama seperti beta interferon.2<br />
Sejumlah pengobatan tersedia untuk menangani gejala-gejala dan komplikasi multipel sklerosis kronis, masing-masing dengan obat-obatan yang spesifik. Tentu saja, pengobatan gejala, bersama-sama dengan pengobatan suportif dan rehabilitasi, adalah satu kesatuan bagian terbesar penanganan multipel sklerosis.2</p>
<p>Interferon<br />
Sejak 1993, pengobatan yang mempengaruhi sistem kekebalan, terutama interferon, digunakan untuk penatalaksanaan multipel sklerosis. Interferon adalah suatu protein yang membawa pesan ke tempat dimana sel-sel dari sistem kekebalan dibentuk dan untuk berkomunikasi satu sama lain. Terdapat berbagai jenis yang berbeda dari interferon, seperti alfa, beta, dan gamma. Semua interferon mempunyai kemampuan untuk mengatur sistem kekebalan dan memainkan suatu peranan penting dalam melindungi tubuh dari infeksi virus. Setiap interferon bekerja dengan cara yang berbeda, tetapi memiliki fungsi yang hampir sama. Beta interferon ditemukan bermanfaat dalam penanganan dari multipel sklerosis. Interferon beta-1b (Betaseron®) adalah interferon pertama disetujui untuk mengelola Relapsing Remitting Multiple Sclerosa pada tahun 1993. Pada tahun 1996, interferon beta-1a (Avonex®) mendapatkan persetujuan dari FDA untuk Relapsing Remitting Multiple Sclerosa.</p>
<p>Secara keseluruhan, pasien yang diterapi dengan interferon mengalami lebih sedikit relaps atau suatu interval yang lebih panjang dari relaps. Uji klinis juga telah memperlihatkan efek terhadap memperlambat akumulasi kerusakan. Efek samping paling umum adalah suatu sindrom menyerupai-influensa meliputi demam, kelelahan, kelemahan, dan gangguan fungsi otot. Sindrom ini cenderung menurun seiring dengan berjalannya terapi. Efek samping umum yang lain adalah reaksi lokal tempat injeksi, perubahan dalam jumlah sel darah, dan kelainan dari fungsi hati. Test fungsi hati dan hitung jumlah sel darah direkomendasikan untuk pasien yang menerima interferon beta-1b.</p>
<p>Uji klinis dari obat beta interferon pada pasien dengan serangan pertama dari multipel sklerosis menunjukkan bahwa dalam populasi pasien ini, obat-obatan ini dapat menunda dari serangan kedua. Avonex® diberikan secara intramuskuler sekali seminggu, Betaseron® diberikan secara subkutan setiap selang sehari, dan Rebif® diberikan secara subkutan tiga kali setiap minggunya.</p>
<p>Interferon beta yang ada meliputi:<br />
• Interferon beta-1b (Betaseron®) digunakan untuk penatalaksanaan bentuk relaps dari multipel sklerosis, untuk mengurangi frekuensi dari relaps klinis. Pasien dengan multipel sklerosis yang telah menunjukan efektifitas meliputi pasien yang telah memiliki satu episode klinis pertama dan yang mempunyai gambaran MRI yang konsisten dengan multipel sklerosis.<br />
• Interferon beta -1a(Rebif®) digunakan untuk penatalaksanaan pasien dengan bentuk relaps dari multipel sklerosis untuk mengurangi frekuensi klinis dari relaps dan menghambat akumulasi kerusakan fisik. Keefektifan dari Rebif® dalam kronis progresif multipel sklerosis belum dapat dibuktikan.<br />
• IFN beta-1a (Avonex®) digunakan untuk penanganan pasien dengan bentuk relaps dari multipel sklerosis untuk memperlambat akumulasi kerusakan fisik dan mengurangi frekuensi klinis dari relaps. Pasien dengan multipel sklerosis yang telah dibuktikan efektivitasnya adalah meliputi pasien yang telah mengalami suatu episode klinis pertama dan mempunyai gambaran MRI konsisten dengan multipel sklerosis. Keamanan dan efektivitas pada pasien dengan kronis progresif multipel sklerosis belum dapat ditetapkan.9</p>
<p>Glatiramer Asetat<br />
Glatiramer Asetat (Copaxone) adalah suatu obat yang bertujuan untuk mengurangi frekuensi relaps dalam Relapsing Remitting Multiple Sclerosis. Glatiramer Asetat adalah suatu bahan sintetis campuran asam amino yang menyerupai suatu komponen protein dari myelin. Hal ini kemungkinan bahwa reaksi sistem imunologi yang merusak myelin dalam multipel sklerosa dapat diblok oleh glatiramer asetat. Sebuah reaksi dapat terjadi dengan segera setelah injeksi dari glatiramer asetat, dapat terjadi pada satu dari 10 pasien. Reaksi tersebut dapat meliputi kemerahan, nyeri dada atau sesak, jantung berdebar-debar, kecemasan, hipoventilasi. Reaksi biasanya muncul dalam 30 menit dan tidak memerlukan penanganan. Beberapa pasien mungkin saja berhadapan dengan resiko lipoatrophi, inflamasi dan destruksi jaringan di bawah kulit di tempat injeksi. Glatiramer Asetat adalah digunakan untuk mengurangi frekuensi dari relaps pada pasien dengan Relapsing-Remitting Multiple Sclerosa.9<br />
Natalizumab<br />
Natalizumab (Tysabri®) adalah suatu obat yang sudah disetujui oleh FDA untuk pengobatan multipel sklerosis. Natalizumab adalah satu antibodi monoklonal yang melawan VLA-4, suatu molekul yang memerlukan sel-sel imun untuk melekat pada sel-sel lain, menembus sawar darah otak dan memasuki otak. Proses ini terjadi melalui pembuluh darah dalam waktu bulanan. Ini memberikan suatu tanda peringatan untuk suatu penyakit yang berpotensi berakibat fatal, Progresive Multifocal Leukoencephalopathy (PML), suatu infeksi virus dari otak yang biasanya menyebabkan kematian atau cacat yang berat. Untuk alasan inilah hanya pasien yang telah menandatangani inform konsen untuk pengobatan dengan program pengobatan ini yang boleh menjalani pengobatan ini.</p>
<p>Natalizumab digunakan sebagai monoterapi untuk pengobatan dari pasien dengan relaps multipel sklerosis untuk mencegah progresifitas penyakit dan mengurangi frekuensi relaps klinis. Keamanan dan efektifitas natalizumab pada penggunaan lebih dari dua tahun tidak diketahui. Karena natalizumab meningkatkan resiko dari PML, maka dari itu secara umum hanya direkomendasikan untuk pasien yang tidak merespon, atau tidak mampu mentoleransi efek samping bentuk pengobatan lain dari multipel sklerosis.9</p>
<p>Mitoxantrone<br />
Mitoxantrone ( Novantrone® ) juga disetujui oleh FDA untuk pengobatan dari multipel sklerosis. Mitoxantrone adalah suatu obat kemoterapi yang memiliki resiko dari efek samping yang berhubungan dengan jantung atau kanker berat. Oleh karena efek samping serius ini, dokter cenderung untuk mencadangkan penggunaannya hanya untuk kasus yang buruk dari multipel sklerosis.</p>
<p>Mitoxantrone adalah digunakan untuk mengurangi kerusakan saraf dan frekuensi relaps klinis pada pasien dengan secondary, progresif, progresif relapsing, atau Relapsing-Remitting Multiple sclerosa yang mengalami perburukan keadaan ( sebagai contoh, pasien yang status sarafnya secara signifikan abnormal atau sering relaps ). Mitoxantrone tidak digunakan dalam penanganan dari pasien dengan primer progresif multiple sclerosa.9</p>
<p>Pasien dengan multipel sklerosis tahap lanjut mungkin membutuhkan keterlibatan tim neurorehabilitasi. Pasien dengan penyakit yang berat membutuhkan penanganan menyeluruh yang sesuai untuk pasien paraplegia, terutama perawatan yang teliti pada daerah yang mengalami tekanan. Perburukan gangguan berkemih mungkin memerlukan kateterisasi uretra atau suprapubik.3<br />
Tim dari berbagai multidisiplin biasanya meliputi spesialis penyakit saraf, urologi, ilmu pengobatan mata, neuropsikologi, dan pekerjaan sosial.2<br />
Perlunya pembedahan pada kasus ekstrem yaitu:<br />
•	Tenotomi untuk terapi spastisitas dan spasme fleksor<br />
•	Stimulasi kolumna dorsalis untuk rasa nyeri<br />
•	Talamotomi stereotaktil untuk ataksia serebelar berat.3</p>
<p>Prognosis<br />
Prognosis untuk seseorang dengan multipel sklerosis tergantung pada subtipe penyakit; jenis kelamin individu, ras, umur, gejala awal, dan derajat kerusakan. Harapan hidup dari penderita multipel sklerosis, untuk tahun-tahun awal, saat ini hampir sama halnya dari pada orang normal. Hal ini disebabkan terutama karena peningkatkan metoda dari pencegahan progresif penyakit, seperti fisioterapi dan terapi bicara, bersama-sama dengan penanganan yang menangani komplikasi umum, seperti radang paru-paru dan infeksi saluran kemih. Meskipun demikian, setengah kematian dari pasien dengan multipel sklerosis adalah secara langsung berhubungan dengan komplikasi dari penyakit, sementara 15% lebih berhubungan dengan bunuh diri.1<br />
Secara umum sangatlah sulit untuk meramalkan prognosis multipel sklerosis. Setiap individu memiliki variasi kelainan, tetapi sebagian besar pasien dengan multipel sklerosis bisa mengharapkan 95% harapan hidup normal. Beberapa penelitian telah menunjukankan pasien yang mempunyai sedikit serangan di tahun pertama setelah diagnosis, interval yang lama antar serangan, pemulihan sempurna dari serangan, dan serangan yang berhubungan dengan saraf sensoris ( misalnya., baal atau perasaan geli) cenderung untuk memiliki prognosis yang lebih baik. Pasien yang sejak awal memiliki gejala tremor, kesukaran dalam berjalan, atau yang mempunyai serangan sering dengan pemulihan yang tidak sempurna, atau lebih banyak lesi yang terlihat oleh MRI scan sejak dini, cenderung untuk mempunyai suatu tingkat penyakit yang lebih progresif.2</p>
<p>RINGKASAN</p>
<p>Multipel sklerosis adalah satu kondisi autoimun dimana sistem kekebalan tubuh menyerang sistem saraf pusat (SSP), mendorong ke arah terjadinya demielinisasi. Penyakit ini menyebabkan luka-luka pada sarung pelindung mielin ( lemak yang melingkupi akson sel-sel syaraf ), oligodendrosit ( sel-sel yang menghasilkan mielin ), akson dan sel-sel saraf. Gejala dari multipel sklerosis bervariasi, tergantung pada lokasi dari plak ( daerah dari jaringan parut ) di dalam sistem saraf pusat.<br />
Menurut National Multiple Sclerosis Society, kira-kira 400,000 orang Amerika tercatat menderita MS, dan pada setiap minggunya sekitar 200 orang didiagnosis MS. Di seluruh dunia, MS mungkin diderita 2.5 juta individu. MS terjadi lebih sering pada wanita dibandingkan laki-laki, dengan perbandingan adalah kira-kira 2:1.<br />
Penyakit ini terutama mengenai substansia alba otak dan medulla spinalis, serta nervus optikus. Ditemukan sel inflamasi kronik dan kerusakan mielin dengan akson yang relatif masih baik. Pada substansia alba terdapat daerah yang relatif tampak normal yang berselang – seling dengan fokus inflamasi dan demielinisasi yang disebut juga plak. Lesi inflamasi lebih lanjut yang terletak dekat lokasi kerusakan yang sudah ada sebelumnya akan menyebabkan akumulasi defisit neurologis. Plak tidak harus berhubungan dengan kejadian klinis spesifik, misalnya jika plak hanya kecil dan terletak pada area SSP yang relatif tenang.<br />
Penyebab dari multiple sklerosis tetap tidak diketahui, walaupun kegiatan penalitian dibidang ini sudah banyak dilakukan. Penelitian eksperimental mendukung teori dari infeksi slow virus atau reaksi autoimun. Peran mekanisme imun pada patogenesis sklerosis multipel didukung beberapa temuan, seperti adanya sel inflamasi kronik pada plak aktif dan hubungan kondisi ini dengan gen spesifik pada kompleks histokompatibilitas mayor ( major histocompatibility, MHC ). Tanda patologik multipel sklerosis adalah multisentrik, inflamasi SSP multifasik dan demielinisasi. Pada mulanya, setiap luka multipel sklerosis kemungkinan melalui suatu peristiwa dari demielinisasi dan remielinisasi menuju ke plak kronik dengan preserfasi relatif dari akson serta gliosis.<br />
Manifestasi yang sering terjadi pada multipel sklerosis adalah gangguan visual, gejala dari gangguan batang otak, gejala gangguan serebelar, gejala ekstrapiramidal, fenomena mirip bangkitan, gangguan mental, gangguan miksi, gangguan sensorimotorik. Pada waktu evolusi gejala yang umum terjadi adalah gambaran klinis memburuk selama beberapa hari atau minggu, mencapai plateu dan kemudian membaik secara bertahap, sebagian atau total, selama beberapa minggu atau bulan. Perjalanan alamiah multipel sklerosis pada tiap pasien amat bervariasi. Beberapa pasien dapat mengalami satu atau lebih episode inisial kemudian tidak ada gejala untuk bertahun – tahun. Subtipe dari multipel sklerosis antara lain adalah relapsing remitting multiple sclerosa, secondary progressive multiple sclerosa, primary progressive multiple sclerosa, progeressive relapsing multiple sclerosa, devic syndrome, marburg disease, balo concentric sclerosa, diffuse sclerosa, disseminated acute encephalomyelitis.<br />
Selama bertahun – tahun, diagnosis multipel sklerosis ditegakkan berdasarkan gejala klinis, timbulnya paling sedikit dua lesi SSP dengan karakteristik klinis yang tepat, terpisah waktu dan ruang. Sehubungan dengan luasnya ruang lingkup dan gejala, maka multipel sklerosis tidak boleh didiagnosis hanya setelah beberapa bulan sampai 1 tahun setelah serangan gejala. Pemeriksaan penunjang yang penting adalah CT scan, VEP, pemeriksaan cairan cerebrospinal, elektroensefalografi, serum darah. Karena pemeriksaan diatas tidak ada yang 100% sensitif atau spesifik untuk multipel sklerosis, maka pemeriksaan ini harus dipertimbangkan dan dinilai dengan baik. Pada pasien dengan gejala sensorik minor, biasanya pemeriksaan penunjang diatas dapat ditunda dulu.<br />
Walaupun belum ada terapi kuratif untuk multipel sklerosis, namun terdapat tiga aspek penting dalam tatalaksana adalah tatalaksana relaps akut, modifikasi perjalanan penyakit,dan kontrol gejala. Sejumlah pengobatan tersedia untuk menangani gejala-gejala dan komplikasi multipel sklerosis kronis, masing-masing dengan obat-obatan yang spesifik. Beberapa jenis obat yang sering digunakan pada pasien multipel sklerosis adalah interferon, glatiramer asetat, natalizumab, mitoxantron dan lain-lain.<br />
Prognosis untuk seseorang dengan multipel sklerosis tergantung pada subtipe penyakit; jenis kelamin individu, ras, umur, gejala awal, dan derajat kerusakan. Harapan hidup dari penderita multipel sklerosis, untuk tahun-tahun awal, saat ini hampir sama halnya dari pada orang normal. Secara umum sangatlah sulit untuk meramalkan prognosis multipel sklerosis karena setiap individu memiliki variasi kelainan.<br />
DAFTAR PUSTAKA</p>
<p>1.	<a title="http://en.wikipedia.org/wiki/Multiple_sclerosis" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Multiple_sclerosis">http://en.wikipedia.org/wiki/Multiple_sclerosis</a>. Autoimmune diseases | Neurological disorders | Neurobiological brain disorder | Multiple sclerosis. 10 june 2008. Diakses tanggal 11 Juni 2008<br />
2.	Chamberlin, Stacey L. Narins, Bringham. The Gale Encyclopedia of Neurological Disorders vol.2. Detroit: Thompson Gale. 2005.<br />
3.	Ginsberg, Lionel. Lecture Notes Neurologi edisi ke-8. Jakarta: Erlangga Medical Series.2005.<br />
4.	Ali, Wendra. NEUROLOGI jilid 1. Jakarta: Binarupa Aksara.1995.<br />
5.	Mumenthaler, Mark. Mattle, Heinrich. Taub, Elsan. Neurology fourth edition. Switzerland: Thieme.2004.<br />
6. Cook, D Stuart. Handbook of Multiple Sclerosis Fourth edition. New Jersey: University of Medicine and Dentistry of New Jersey. 2006.<br />
7.	<a title="http://www.emedicine.com" href="http://www.emedicine.com/">http://www.emedicine.com</a>. eMedicine Specialties &gt;Emergency Medicine &gt; NEUROLOGY. Multiple Sclerosis. 3 March 2008. Diakses tanggal 5 Juni 2008<br />
8.	M. Herdon, M.D, Robert. Multiple Sclerosis Immunology, Pathology, and Pathophysiology. New York: Demos.2002.<br />
9.	<a title="http://www.medicineNet.com" href="http://www.medicinenet.com/">http://www.medicineNet.com</a>. Home&gt;Multiple Sclerosis index&gt;Multiple Sclerosis. Article.2 June 2008. Diakses tanggal 5 Juni 2008<br />
10.	<a title="http://www.kompascybermedia.com/kesehatan/multipel_sklerosis" href="http://www.kompascybermedia.com/kesehatan/multipel_sklerosis">http://www.kompascybermedia.com/kesehatan/multipel_sklerosis</a>.</p>
<br />Posted in Uncategorized  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kadaverboy.wordpress.com/90/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kadaverboy.wordpress.com/90/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kadaverboy.wordpress.com/90/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kadaverboy.wordpress.com/90/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/kadaverboy.wordpress.com/90/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/kadaverboy.wordpress.com/90/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/kadaverboy.wordpress.com/90/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/kadaverboy.wordpress.com/90/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kadaverboy.wordpress.com/90/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kadaverboy.wordpress.com/90/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kadaverboy.wordpress.com/90/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kadaverboy.wordpress.com/90/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kadaverboy.wordpress.com/90/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kadaverboy.wordpress.com/90/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kadaverboy.wordpress.com&amp;blog=10509290&amp;post=90&amp;subd=kadaverboy&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kadaverboy.wordpress.com/2009/11/22/multiple-sklerosis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/79101c68fd37f3d533c67a75acf4af69?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">kadaverboy</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>PENYAKIT KELENJAR PARATIROID</title>
		<link>http://kadaverboy.wordpress.com/2009/11/22/penyakit-kelenjar-paratiroid/</link>
		<comments>http://kadaverboy.wordpress.com/2009/11/22/penyakit-kelenjar-paratiroid/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 22 Nov 2009 14:41:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kadaverboy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Interna]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kadaverboy.wordpress.com/2009/11/22/penyakit-kelenjar-paratiroid/</guid>
		<description><![CDATA[&#160; I. KELENJAR PARATIROID I.1 ANATOMI Secara normal ada empat buah kelenjar paratiroid pada manusia, yang terletak tepat dibelakang kelenjar tiroid, dua tertanam di kutub superior kelenjar tiroid dan dua di kutub inferiornya (Gbr. I.1). Namun, letak masing-masing paratiroid dan jumlahnya dapat cukup bervariasi, jaringan paratiroid kadang-kadang ditemukan di mediastinum. Gambar I.1 Setiap kelenjar paratiroid [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kadaverboy.wordpress.com&amp;blog=10509290&amp;post=89&amp;subd=kadaverboy&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>
<p>&nbsp;</p>
<p>I.	KELENJAR PARATIROID</p>
<p>I.1	ANATOMI<br />
Secara normal ada empat buah kelenjar paratiroid pada manusia, yang terletak tepat dibelakang kelenjar tiroid, dua tertanam di kutub superior kelenjar tiroid dan dua di kutub inferiornya (Gbr. I.1). Namun, letak masing-masing paratiroid dan jumlahnya dapat cukup bervariasi, jaringan paratiroid kadang-kadang ditemukan di mediastinum.</p>
<p>Gambar I.1</p>
<p>Setiap kelenjar paratiroid panjangnya kira-kira 6 milimeter, lebar 3 milimeter, dan tebalnya dua millimeter dan memiliki gambaran makroskopik lemak coklat kehitaman. Kelenjar paratiroid sulit untuk ditemukan selama operasi tiroid karena kelenjar paratiroid sering tampak sebagai lobulusyang lain dari kelenjar tiroid. Dengan alasan ini, sebelum manfaat dari kelenjar ini diketahui, pada tiroidektomi total atau subtotals sering berakhir dengan pengangkatan kelenjar paratiroid juga.<br />
Pengangkatan setengah bagian kelenjr paratiroid biasanya menyebabkan sedikit kelainan fisiologik. Akan tetapi, pengangkatan pengangkatan tiga atau empat kelenjar normal biasanya akan menyebabkan hipoparatiroidisme sementara. Tetapi bahkan sejumlah kecil dari jaringan paratiroidyang tinggal biasanya sudah mampu mengalami hipertrofi dengan cukup memuaskan sehingga dapat melakukan fungsi semua kelenjar.<br />
Kelenjar paratiroid orang dewasa terutama terutama mengandung sel utama (chief cell) yang mengandung apparatus Golgi yang mencolok plus retikulum endoplasma dan granula sekretorik yang mensintesis dan mensekresi hormon paratiroid (PTH). Sel oksifil yang lebih sedikit namun lebih besar mengandung granula oksifil dan sejumlah besar mitokondria dalam sitoplasmanya (Gbr. I.2). Pada manusia, sebelum pubertas hanya sedikit dijumpai, dan setelah itu jumlah sel ini meningkat seiring usia, tetapi pada sebagianbesar binatang dan manusia muda, sel oksifil ini tidak ditemukan.<br />
Fungsi sel oksifil masih belum jelas, sel-sel ini mungkin merupakan modifikasi atau sisa sel utama yang tidak lagi mensekresi sejumlah hormon.</p>
<p>Sel darah merah                  Sel oksifil		Sel utama (chief cell)</p>
<p>Gambar I.2</p>
<p>I.2	SINTESIS DAN METABOLISME HORMON PARATIROID (PTH)<br />
Hormon paratiroid (PTH) manusia adalah suatu polipeptida linear dengan berat molekul 9500 yang mengandung 84 residu asam amino (Gbr. I.3). Strukturnya sangat mirip dengan PTH sapi dan babi. PTH disintesis sebagai bagian dari suatu molekul yang lebih besar yang mengandung 115 residu asam amino (prapo-PTH). Setelah prapo-PTH masuk ke dalam retikulum endoplasma, maka leader sequence yang terdiri dari 25 residu asam amino dikeluarkan dari terminal N untuk membentuk polipeptida pro-PTH yang terdiri dari 90 asam amino. Enam residu asam amino lainnya juga dikeluarkan dari terminal N pro-PTH di apparatus Golgi, dan produk sekretorik utama chief cells adalah polipeptida PTH yang terdiri dari 84 asam amino.<br />
Kadar normal PTH utuh dalam plasma adalah 10-55 pg/mL. Waktu paruh PTH kurang dari 20 menit, dan polipeptida yang disekresikan ini cepat diuraikan oleh sel-sel Kupffer di hati menjadi 2 polipeptida, sebuah fragmen terminal C yang tidak aktif secara biologis dengan berat molekul 2500.</p>
<p>Gambar I.3</p>
<p>I.3	EFEK HORMON PARATIROID<br />
PTH bekerja langsung pada tulang untuk meningkatkan resorpsi tulang dan memobilisasi Ca2+. Selain meningkatkan Ca2+ plasma dan menurunkan fosfat plasma, PTH meningkatkan ekskresi fosfat dalam urin. Efek fosfaturik ini disebabkan oleh penurunan reabsorpsi fosfat di tubulus proksimal. PTHjuga meningkatkan reabsorpsi Ca2+ di tubulus distal, walaupun ekskresi Ca2+ biasanya meningkat pada hiperparatiroidisme karena terjadi peningkatan jumlahyang difiltrasi yang melebihi efek reabsorpsi. PTH juga meningkatkan pembentukan 1,25 dihidroksikolekalsiferol, metabolit vitamin D yang secara fisiologis aktif. Hormon ini meningkatkan absorpsi Ca2+ dari usus, tetapi efek ini tampaknya disebabkan hanya akibat stimulasi pembentukan 1,25 dihidroksikolekalsiferol.</p>
<p>Gambar I.4</p>
<p>Efek hormon paratiroid terhadap konsentrasi kalsium dan fosfat dalam cairan ekstraselular<br />
Naiknya konsentrasi kalsium terutama disebabkan oleh dua efek berikut ini: (1) efek hormon paratiroid yang menyebabkan terjadinya absorpsi kalsium dan fosfat dari tulang, dan (2) efek yang cepat dari hormon paratiroid dalam mengurangi ekskresi kalsium oleh ginjal. Sebaliknya berkurangnya konsentrasi fosfat disebabkan oleh efek yang sangat kuat dari hormon paratiroid terhadap ginjal dalam menyebabkan timbulnya ekskresi fosfat dari ginjal secara berlebihan, yang merupakan suatu efek yang cukup besar untuk mengatasi peningkatan absorpsi fosfat dri tulang.</p>
<p>Absorpsi Kalsium dan Fosfat dari tulang yang disebabkan oleh hormon paratiroid<br />
Hormon paratiroid mempunyai dua efek pada tulang dalam menimbulkan absorpsi kalsium dan fosfat. Pertama merupakan suatu tahap cepatyang dimulai dalam waktu beberapa menit dan meningkat secara progresif dalam beberapa jam. Tahap ini diyakini disebabkan oleh aktivasi sel-sel tulangyang sudah ada (terutama osteosit) untuk meningkatkan absorpsi kalsium dan fosfat. Tahap yang kedua adalah tahap yang lebih lambat, dan membutuhkan waktu beberapa hari atau bahkan beberapa minggu untuk menjadi berkembang penuh; fase ini disebabkan oleh adanya proses proliferasi osteoklas,yang diikuti dengan sangat meningkatnya reabsorpsi osteoklastik pada tulang sendiri, jadi bukan hanya absorpsi garam fosfat kalsium dari tulang.</p>
<p>Fase cepat absorpsi kalsium dan fosfat (osteolisis)	Bila disuntikan sejumlah besar hormon paratiroid, maka dalam waktu beberapa menit konsentrasi ion kalsium dalam darah akan meningkat, jauh sebelum setiap sel tulangyang baru dapat terbentuk. Hormon paratiroid dapat menyebabkan pemindahan garam-garam tulang dari dua tempat didalam tulang:<br />
Gambar I.5</p>
<p>(1) dari matriks tulang disekitar osteosit yang terletak didalam tulangnya sendiri dan (2) disekitar osteoblas yang terletak disepanjang permukaan tulang. Pada membran sel osteoblas dan osteosit memiliki protein reseptor (Gbr I.4) untuk mengikat hormon paratiroid. Hormon paratiroid dapan mengaktifkan pompa kalsium dengan kuat, sehingga menyebabkan pemindahan garam-garam kalsium fosfat dengan cepat dari kristal tulang amorfyang terletak dekat dengan sel. Hormon paratiroid diyakini merangsang pompa ini dengan meningkatkan permeabilitas ion kalsium pada sisi cairan tulang dari membran osteositik, sehingga mempermudah difusi ion kalsium ke dalam membran sel cairan tulang. Selanjutnya pompa kalsium di sisi lain dari membran sel memindahkan ion kalsiumyang tersisa tadi kedalam cairan ekstraselular.</p>
<p>Fase lambat absorpsi tulang dan pelepasan kalsium dan fofat (aktivasi osteoklas)<br />
Suatu efek hormon paratiroid yang lebih banyak dikenal dan yang penjelasannya lebih baik adalah aktivasi hormon paratiroid terhadap osteoklas. Namun osteoklas sendiri tidak memiliki protein reseptor membran untuk hormon paratiroid. Sebaliknya diyakini bahwa osteoblas dan osteosit teraktivasi mengirimkan suatu sinyal sekunder tetapi tidak dikenali ke osteoklas, menyebabkan osteoklas memulai kerjanyayang biasa, yaitu melahap tulang dalam waktu berminggu-minggu atau berbulan-bulan.<br />
Aktivasi sistem osteoklastik terjadi dalam dua tahap: (1) aktivasi yang berlangsung dari semua osteoklas yang sudah terbentuk, dan (2) pembentukan osteoklas yang baru. Kelebihan hormon paratiroid selama beberapa hari biasanya menyebabkan sistem osteoklastikberkembang dengan baik, tetapikarena pengaruh rangsangan hormon paratiroidyang kuat, pertumbuhan ini berlangsung terus selama berbulan-bulan. Setelah beberapa bulan, resorpsi osteoklastik tulang dapat menyebabkan lemahnya tulang dan menyebabkan rangsangan sekunder pada osteoblasyang mencoba memperbaiki keadaan tulang yang lemah. Oleh karena itu, efek yang terakhir dari hormon paratiroid yang sebenarnya adalah untuk meningkatkan aktivitas dari osteoblastik dan osteoklastik. Namun, bahkan pada tahap akhir, masih terjadi lebih banyak absorpsi tulang daripada pengendapan tulang dengan adanya kelebihan hormon paratiroidyang terus menerus.<br />
Bila dibandingkan dengan jumlah total kalsium dalam cairan ekstraselular (yang besarnya kira-kira 1000 kali), ternyata tulang mengandung banyak sekali kalsium, bahkan bila hormon paratiroid menyebabkan peningkatan konsentrasi kalsium yang sangat besar dalam cairan ekstraselular, tidaklah mungkin untuk memperhatikan adanya efek yang berlangsung dengan segera pada tulang. Pemberian atau sekresi hormon paratiroid yang diperlama (dalam waktu beberapa bulan atau tahun) akhirnya menyebabkan absorpsi seluruh tulang yang sangat nyata dengan disertai pembentukan rongga-rongga yang besar yang terisi dengan osteoklas besar berinti banyak.</p>
<p>Efek hormon paratiroid terhadap ekskresi fosfat dan kalsium oleh ginjal<br />
Pemberian hormon paratiroid menyebabkan pelepasan fosfat dengan segera dan cepat masuk kedalam urin karena efek dari hormon paratiroid yng menyebabkan berkurangnya reabsorpsi ion fosfat pada tubulus proksimal.<br />
Hormon paratiroid juga meningkatkan reabsorpsi tubulus terhadap kalsium pada waktu yang sama dengan berkurangnya reabsorpsi fosfat oleh hormon paratiroid. Selain itu, hormon ini juga menyebabkan meningkatnya kecepatan reabsorpsi ion magnesium dan ion hydrogen, sewaktu hormon ini mengurangi reabsorpsi ion natrium, kalium dan asam amino dengan cara yang sangat mirip seperti hormon paratiroid mempengaruhi fosfat. Peningkatan absorpsi kalsium terutama terjadi di bagian akhir tubulus distal, duktus koligentes, dan bagian awal duktus koligentes.<br />
Bila bukn oleh karena efek hormon paratiroid pada ginjal yang meningkatkan reabsorpsi kalsium, pelepasan kalsium yang berlangsung terus menerus pada akhirnya akan menghabiskan mineral tulang ini dari cairan ekstraselular dan tulang.</p>
<p>Efek hormon paratiroid pada absorpsi kalsium dan fosfat dalm usus<br />
Hormon paratiroid sangat berperan dalam meningktkan absorpsi kalsium dan fosfat dari usus dengan cara meningkatkan pembentikan 1,25 dihidroksikolekalsiferol dari vitamin D.</p>
<p>Efek vitamin D pada tulang serta hubungannya dengan aktivitas hormon paratiroid<br />
Vitamin D memegang peranan penting pada absorpsi tulang dan pengendapan tulang. Pemberian vitamin D yang banyak sekali menyebabkan absorpsitulang yang sangat mirip dengan pemberian hormo paratiroid. Juga, bila tidak ada vitamin D, maka efek hormon paratiroid dalam menyebabkan absorpsi tulang sangat berkurang atau malahan dihambat. Mekanisme kerja vitamin D ini belum diketahui, tetapi diyakini merupakan hasil dari efek 1,25 dihidroksikalsiferol (yang merupakan produk utama dari vitamin D) dalam meningkatkan pengangkutan kalsium melewati membran sel.<br />
Vitamin D dalam jumlah yang lebih kecil meningkatkan kalsifikasi tulang. Salah satu cara yang dapat dipakai untuk meningkatkan kalsifikasi adalah dengan cara meningkatkan absorpsi kalsium dan fosfat dari usus. Akan tetapi, bahkan bila tidak ada peningkatan, absorpsi akan tetap meningkatkan proses mineralisasi tulang. Sekali lagi, mekanisme terjadinya efek ini tidak diketahui, tetapi mungkin disebabkan oleh kemampuan 1,25 dihidroksikolekalsiferol untuk menyebabkan timbulnya pengangkutan ion kalsium melewati membran sel.<br />
Sebagian besar efek hormon paratiroid pada organ sasarannya diperentarai oleh siklik adenosin monofosfat (cAMP) yang bekerja sebagai mekanisme second messenger. Dalam waktu beberapa menit setelah pemberian hormon paratiroid, konsentrasi cAMP di dalam osteosit, osteoklas, dan sel-sel sasaran lainnya meningkat. Selanjutnya, cAMP mungkin bertanggung jawab terhadap beberapa fungsi osteoklas seperti sekresi enzim dan asam-asam sehingga terjadi reabsorpsi tulang, pembentukan 1,25 dihidroksikolekalsiferol di dalam ginjal dan sebagainya. Mungkin masih ada efek-efek langsung lain dari hormon paratiroid yang efeknya tidak bergantung pada mekanisme second messenger.</p>
<p>Pengaturan sekresi paratiroid oleh konsentrasi ion kalsium<br />
Bahkan penurunan konsentrasi ion kalsium yang paling sedikit pun dalm cairan ekstraselular akan menyebabkan kelenjar paratiroid meningkatkan kecepatan sekresinya dalam waktu beberapa menit; bila penurunak konsentrasi ion kalsium menetap, kelenjar paratiroid akan menjadi hipertrofi, sering lim kali atau lebih. Contohnya, kelenjar paratiroid akan menjadi sangat besar pada Rikets, dimana kadar kalsium biasanya hanya tertekan sedikit; juga, kelenjar akan menjadi sangat besar saat hamil, walaupun penurunan konsentrasi ion kalsium pada cairan ekstraselular ibu sangat sulit diukur; dan kelenjar sangat membesar selama laktasi karena kalsium digunakan untuk pembentukan air susu ibu. Sebaliknya, setiap keadaan yang meningkatkan konsentrasi ion kalsium diatas nilai normal akan menyebabkan berkurangnya aktivitas dan ukuran kelenjar paratiroid. Beberapa keadaan tersebut meliputi: (1) jumlah kalsium yang berlebihan dalam diet, (2) meningkatnya vitamin D dalam diet, dan (3) absorpsi tulang yang disebabkan oleh faktor-faktor yang berbeda dengan hormon paratiroid (contohnya absorpsi tulang yang disebabkan oleh tidak digunakannya tulang itu).</p>
<p>Gambar I.6</p>
<p>Gambar I.7<br />
Kontrol dari hormon Paratiroid<br />
Sekresi dari hormon paratiroid tergantung dari suatu negative feed-back mechanism yang diatur oleh kadar ion kalsium dalam plasma. Juga ada hormon lain yang ikut mengatur kadar kalsium dalam serum yaitu calcitonin atau thyrocalcitonin. Hormon ini diproduksi oleh kelenjar tiroid.<br />
Beberapa observasi menunjukan bahwa ada hubungan antara paratiroid dengan kelenjar-kelenjar endokrin lain. Umpamanya pernah didapat hiperplasia kelenjar paratiroid pada akromegali, sindrom Cushing, dan penyakit Addison. Hipofisektomi (pada binatang) menyebabkan involutiodari kelenjar-kelenjar paratiroid, sedangkan pemberian hormon pertumbuhan (GH), adrenokortikotropin (ACTH), ekstrak lobus anterior hipofisis dan steroid-steroid adrenal mengakibatkan hiperplasia dari kelenjar-kelenjar paratiroid. Tetapi mungkin pula bahwa perubahan kelenjar-kelenjar paratiroid adalah sekunder akibat perubahan kadar fosfat dalam serum yang disebabkan oleh hormon-hormon tersebut.<br />
Hiperplasia dari kelenjar-kelenjar paratiroid terdapat dalam keadaan-keadaan dimana ada tendens dari ion kalsium untuk menurun, umpamanya pada penyakit Rachitis (atau Osteomalacia), kehamilan, hilangnya kalsium dalam darah dan insufisiensi ginjal yang disertai retensi fosfor.</p>
<p>I.4	Laboratorium<br />
Menentukan jumlah hormon paratiroid dalamdarah dukar sekali. Karena itu aktivitas dari paratiroid dihitung dengn memeriksa perubahan-perubahan metabolisme dari zat-zat yang dipengaruhinya, yang terpenting adalah kalsium, fosfat dan fosfatase alakali.</p>
<p>1)	Percobaan Sulkowitch:<br />
Dengan memakai reagens dari Sulkowitch kita dapat memeriksa apakah jumlah kalsium dalam urin berubah. Pemeriksaan kuantitas ini penting untuk mengevaluasi sekresi kalsium oleh urin dan dengan demikian aktivitas dari paratiroid.</p>
<p>Jika pada percobaan Sulkowitch:<br />
a)	Tidak terdapat endapan maka kadar kalsium dalam plasma diperkirakan antara 5-7,5 mgr%.<br />
b)	Endapan yang sedikit (menyerupai fine white cloud) menunjukan bahwa kadar kalsium dalam darah normal.<br />
c)	Endapan yang banyak menunjukan adanya hiperkalsemia.</p>
<p>2)	Percobaan Ellsworth-Howard:<br />
Percobaan ini berdasarkan diuresis fosfor yang dipengaruhi oleh hormon paratiroid (baik yang endogen maupun yang eksogen) serta mekanisme reabsorpsi fosfor dalam tubuli ginjal.<br />
Pada percobaan ini hormon paratiroid disuntikan intravena dan kemudian diperiksa diuresis fosfat. Evaluasi adalah sebagai berikut:<br />
a)	Hipoparatiroidisme:<br />
Diuresis fosfat bertambah sampai 5-6 kali biasa.<br />
b)	Pseudohipoparatiroidisme:<br />
Diuresis fosfat bertambah hanya sedikit, paling banyak sampai 2 kali biasa. Ini disebabkan karena tubuli ginjal refrakter terhadap hormon paratiroid.<br />
c)	Hiperparatiroidisme:<br />
Diuresis fosfat tidak nyata bertambah.</p>
<p>3)	Percobaan kalsium intravena:<br />
Berdasarkan anggapan bahwa bertambahnya kadar kalsium serum mensupresi pembuatan hormon paratiroid. Evaluasi adalah sebagai berikut:<br />
a)	Normal:<br />
Kalsium serum meninggi dan diuresis kalsium berkurang.<br />
b)	Hipoparatiroidisme:<br />
Kalsium serum hampir tidak berubah tetapi diuresis kalsium bertambah.<br />
c)	Hiperparatiroidisme:<br />
Kalsium seru dan diuresis kalsium tidak berubah.</p>
<p>4)	Indeks aktivitas paratiroid:<br />
Prinsip indeks ini berdasarkan reabsorpsi tubuler dari fosfat anorganik yang diatur oleh hormon paratiroid. Karena itu rasio reabsorpsi tubuler dan filtrasi glomerulus dari fosfat akan menghasilkan suatu indeks dari aktivitas paratiroid. Evaluasi:<br />
a)	Normal:<br />
Indeks antara 0,5-0,75<br />
b)	Hipoparatiroidisme:<br />
Indeks = -1<br />
c)	Hiperparatiroidisme:<br />
Indeks = 0</p>
<p>II.	HIPOPARATIROIDISME</p>
<p>II.1	PENDAHULUAN<br />
Hipoparatiroid adalah gabungan gejala dari produksi hormon paratiroid yang tidak adekuat. Keadaan ini jarang sekali ditemukan dan umumnya sering sering disebabkan oleh kerusakan atau pengangkatan kelenjar paratiroid pada saat operasi paratiroid atau tiroid, dan yang lebih jarang lagi ialah tidak adanya kelenjar paratiroid (secara congenital). Kadang-kadang penyebab spesifik tidak dapat diketahui.</p>
<p>II.2	PREVALENSI<br />
Di luar negeri, terutama di Amerika Serikat kasus ini agak jarang ditemukan. Kira-kira 1000 kasus setahun yang dapat ditemukan menderita penyakit ini.<br />
Di Indonesia, penyakit ini juga agak jarang ditemukan. Kira-kira 100 kasus dalam setahun yang dapat diketahui.<br />
Wanita mempunyai resiko untuk terkena hipoparatiroidisme lebih besar dari pria.</p>
<p>II.3	ETIOLOGI<br />
Jarang sekali terjadi hipoparatiroidisme primer, dan jika ada biasanya terdapat pada anak-anak dibawah umur 16 tahun. Ada tiga kategori dari hipoparatiroidisme:<br />
1)	Defisiensi sekresi hormon paratiroid, ada dua penyebab utama:<br />
o	Post operasi pengangkatan kelenjar partiroid dan total tiroidektomi.<br />
o	Idiopatik, penyakit ini jarang dan dapat kongenital atau didapat (acquired).<br />
2)	Hipomagnesemia.<br />
3)	Sekresi hormon paratiroid yang tidak aktif.<br />
4)	Resistensi terhadap hormon paratiroid (pseudohipoparatiroidisme)</p>
<p>II.4	PATOFISIOLOGI<br />
Pada hipoparatiroidisme terdapat gangguan dari metabolisme kalsium dan fosfat, yakni kalsium serum menurun (bisa sampai 5 mgr%) dan fosfat serum meninggi (bisa sampai 9,5-12,5 mgr%).<br />
Pada yang post operasi disebabkan tidak adekuat produksi hormon paratiroid karena pengangkatan kelenjar paratiroid pada saat operasi. Operasi yang pertama adalah untuk mengatasi keadaan hiperparatiroid dengan mengangkat kelenjar paratiroid. Tujuannya adalah untuk mengatasi sekresi hormon paratiroid yang berlebihan, tetapi biasanya terlalu banyak jaringan yang diangkat. Operasi kedua berhubungan dengan operasi total tiroidektomi. Hal ini disebabkan karena letak anatomi kelenjar tiroid dan paratiroid yang dekat (diperdarahi oleh pembuluh darah yang sama) sehingga kelenjar paratiroid dapat terkena sayatan atau terangkat. Hal ini sangat jarang dan biasanya kurang dari 1 % pada operasi tiroid. Pada banyak pasien tidak adekuatnya produksi sekresi hormon paratiroid bersifat sementara sesudah operasi kelenjar tiroid atau kelenjar paratiroid, jadi diagnosis tidak dapat dibuat segera sesudah operasi.<br />
Pada pseudohipoparatiroidisme timbul gejala dan tanda hipoparatiroidisme tetapi kadar PTH dalam darah normal atau meningkat. Karena jaringan tidak berespons terhadap hormon, maka penyakit ini adalah penyakit reseptor. Terdapat dua bentuk: (1) pada bentuk yang lebih sering, terjadi pengurangan congenital aktivitas Gs sebesar 50 %, dan PTH tidak dapat meningkatkan secara normal konsentrasi AMP siklik, (2) pada bentuk yang lebih jarang, respons AMP siklik normal tetapi efek fosfaturik hormon terganggu.</p>
<p>II.5	MANIFESTASI KLINIK<br />
Gejala-gejala utama adalah reaksi-reaksi neuromuscular yang berlebihan yang disebabkan oleh kalsium serum yang sangat rendah. Keluhan-keluhan dari penderita (70 %) adalah tetani atau tetanic aequivalent.<br />
Tetani menjadi manifestasi sebagai spasmus corpopedal dimana tangan berada dalam keadaan fleksi sedangkan ibu jari dalam adduksi dan jari-jari lain dalam keadaan ekstensi. Juga sering didapatkan articulatio cubitti dalam keadaan fleksi dan tungkai bawah dan kaki dalam keadaan ekstensi.<br />
Dalam titanic aequivalent:<br />
1)	Konvulsi-konvulsi yang tonis atau klonis<br />
2)	Stridor laryngeal (spasme ) yang bisa menyebabkan kematian<br />
3)	Parestesia<br />
4)	Hipestesia<br />
5)	Disfagia dan disartria<br />
6)	Kelumpuhan otot-otot<br />
7)	Aritmia jantung<br />
Pada pemeriksaan kita bisa menemukan beberapa refleks patologis:<br />
1)	Erb’s sign:<br />
Dengan stimulasi listrik kurang dari 5 milli-ampere sudah ada kontraksi dari otot (normal pada 6 milli-ampere)<br />
2)	Chvostek’s sign:<br />
Ketokan ringan pada nervus fasialis (didepan telinga tempat keluarnya dari foramen sylomastoideus) menyebabkan kontraksi dari otot-otot muka<br />
3)	Trousseau’s sign:<br />
Jika sirkulasi darah dilengan ditutup dengan manset (lebih dari tekanan sistolik) maka dalam tiga menit tangan mengambil posisi sebagaipada spasme carpopedal<br />
4)	Peroneal sign:<br />
Dengan mengetok bagian lateral fibula di bawah kepalanya akan terjadi dorsofleksi dan adduksi dari kaki<br />
Pada ± 40 % dari penderita-penderita kita mencurigai adanya hipoparatiroidisme karena ada kejang-kejang epileptik. Sering pula terdapat keadaan psikis yang berubah, diantaranya psikosis. Kadang-kadang terdapat pula perubahan-perubahan trofik pada ectoderm:<br />
•	Rambut	: tumbuhnya bisa jarang dan lekas putih.<br />
•	Kulit	: kering dan permukaan kasar, mungkin terdapat pula<br />
vesikula dan bulla.<br />
•	Kuku	: tipis dan kadang-kadang ada deformitas.<br />
Pada anak-anak badan tumbuh kurang sempurna, tumbuhnya gigi-gigi tidak baik dan keadaan mental bisa tidak sempurna. Juga agak sering terdapat katarak pada hipoparatiroidisme.</p>
<p>II.6	DIAGNOSTIK<br />
?	Laboratorium:<br />
o	Kalsium serum rendah<br />
o	Fosfat anorganik dalam serum tinggi<br />
o	Fosfatase alkali normal atau rendah<br />
?	Foto Rontgen:<br />
o	Sering terdapat kalsifikasi yang bilateral pada ganglion basalis di tengkorak<br />
o	Kadang-kadang terdapat pula kalsifikasi di serebellum dan pleksus koroid<br />
o	Density dari tulang bisa bertambah<br />
?	EKG: biasanya QT-interval lebih panjang</p>
<p>II.7.	DIFERENSIAL DIAGNOSIS<br />
?	Hipokalsemia.<br />
Keadaan klinis yang disebabkan oleh kadar kalsium serum kurang dari 9 mg/100ml. Kedaan ini mungkin disebabkan oleh terangkatnya kelenjar paratiroid waktu pembedahan atau sebagai akibat destruksi autoimun dari kelenjar-kelenjar tersebut.<br />
Manifestasi klinik adalah tetani, serangan kejang, gangguan mental dan lesi ektodermal. Tetani dapat menyerang ekstremitas atas dan bawah, sehingga dapat terjadi spasme karpopedal, parestesia, dan terkadang stridor laringeal.kalau otot-otot pernapasan yang terkena maka dapat bermanifestasi sebagai gangguan pernapasan.<br />
Penderita hipokalsemia biasanya mengeluh mengalami beberapa gangguan jiwa, seperti: mudah tersinggung, emosi tak stabil, gangguan ingatan dan perasaan kacau.<br />
Hipoparatiroidisme idiopatik yang mengakibatkan hipokalsemia berkelanjutan dapat menimbulkan perubahan-perubahan pada kulit rambut, kuku, gigi, dan lensa. Kuku menjadi kasar, kering dan bersisik, dan dapat timbul alopesia dan rambut alis dan bulu mata yang berbecak atau hilang. Kuku menjadi tipis dan rapuh disertai alur transveral. Erupsi gigi terlambat dan tampak hipoplastik. Dapat timbul katarak dalam waktu beberpa tahun pada hipokalsemia yang tidak diobati.<br />
?	Insufisiensi ginjal kronik<br />
Pada keadaan ini kalsium serum rendah, fosfor serum sangat tinggi, karena retensi dari fosfor dan ureum kreatinin darah meninggi. Hal ini disebabkan tidak adanya kerja hormon paratiroid yang diakibatkan oleh keadaan seperti diatas (etiologi).</p>
<p>II.8	TERAPI<br />
Vitamin D dan suplemen kalsium merupakan terapi primer untuk penyakit ini tanpa mempedulikan penyebabnya. Kecuali jika penyebabnya adalah hipomagnesemia yang diterapi dengan suplemen magnesium.</p>
<p>III.	HIPERPARATIROIDISME</p>
<p>III.1.	PENDAHULUAN<br />
Hiperparatiroidisme adalah suatu keadaan dimana kelenjar-kelenjar paratiroid memproduksi lebih banyak hormon paratiroid dari biasanya. Pada pasien dengan hiperparatiroid, satu dari keempat kelenjar paratiroid yang tidak normal dapat membuat kadar hormon paratiroid tinggi tanpa mempedulikan kadar kalsium. dengan kata lain satu dari keempat terus mensekresi hormon paratiroid yang banyak walaupun kadar kalsium dalam darah normal atau meningkat.<br />
Gambar III.1</p>
<p>Jika jumlah hormon paratiroid yang disekresi lebih banyak daripada yang dibutuhkan maka ini kita sebut hiperparatiroidisme primer. Jika jumlah yang disekresi lebih banyak karena kebutuhan dari tubuh maka keadaan ini disebut hiperparatiroidisme sekunder.</p>
<p>III.2.	PREVALENSI<br />
Di Amerika Serikat sekitar 100.000 orang diketahui terkena penyakit ini tiap tahun. Perbandingan wanita dan pria sekitar 2 banding 1. Pada wanita yang berumur 60 tahun keatas sekitar 2 dari 10000 bisa terkena hiperparatiroidisme.<br />
Di Indonesia sendiri kira-kira sekitar 1000 orang diketahui terkena hiperparatiroidisme tiap tahun. Wanita yang berumur 50 tahun keatas mempunyai resiko yang lebih besar 2 kali dari pria.</p>
<p>III.3	ETIOLOGI<br />
Adenoma soliter (penyakit von Recklinghausen).Penyebab hiperparatiroidisme ini merupakan salah satu dari banyak hiperfungsi kelenjar.Secara umum bahwa kelainan kelenjar yang biasanya tunggal ditemukan ± 80 % dari pasien. Kelainan pada kelenjar biasanya neoplasma yang benigna atau adenoma dan yang sangat jarang adalah paratiroid karsinoma. Beberapa ahli bedah dan ahli patologis melaporkan bahwa pembesaran dari kelenjar yang multiple umumnya jenis adenoma yang ganda. Pada ± 15 % pasien semua kelenjar hiperfungsi; chief cell parathyroid hyperplasia, biasanya herediter dan frekuensinya berhubungan dengan kelainan endokrin lainnya.<br />
Multiple Endocrine Neoplasia (MEN). Hiperparatiroidisme yang herediter dapat terjadi tanpa kelainan endokrin lainnya tetapi biasanya bagian dari Multiple Endocrine Neoplasia syndrome. MEN 1 (Wermer’s syndrome) terdiri dari hiperparatiroidisme dan tumor dari pituitary dan pancreas, juga berhubungan dengan hipersekresi gaster dan ulkus peptikum (Zollinger-Ellison syndrome).</p>
<p>III. 4. 	PATOFISIOLOGI<br />
Adenoma adalah yang sering terdapat pada lobus inferior kelenjar paratiroid, tetapi hanya kira-kira 6-10 % kasus. Adenoma paratiroid bisa terdapat di thymus, tiroid, pericardium, esophagus bagian belakang. Adenoma biasa beratnya 0,5-5 gram tapi bisa juga beratnya 10-20 gram. Chief cells sering dominan pada hiperplasia atau adenoma. Adenoma kadang-kadang encapsulated berbentuk lingkaran dengan jaringan sekitar.Dengan hiperplasia chief cell, pembesaran bisa asimetrik yang terlihat sangat nyata.<br />
Karsinoma paratiroid biasanya karakternya tidak agresif. Daya hidup jangka panjang tanpa rekurens jika operasi yang dilakukan dalammengangkat kelenjar tanpa menimbulkan rupture dari kapsul. Karsinoma paratiroid yang rekuren biasanya tumbuhnya lambat dengan penyebarannya ke leher, dan operasi untuk koreksi ulang mungkin dapat dilakukan. Karsinoma paratiroid akan lebih agresif jika ada metastasis (ke paru, hepar, dan tulang) ditemukan pada saat permulaan operasi. Jika kadar kalsium antara 3,5-3,7 mmol / L (14-15 mg / dL) merupakan tanda awal adanya karsinoma dan tindakan yang harus dilakukan adalah mengangkat kelenjar yang abnormal dengan perhatian akan rupturnya capsul.<br />
Pada heperparatiroidisme, kelebihan jumlah sekresi PTH menyebabkan hiperkalsemia yang langsung bisa menimbulkan efek pada reseptor di tulang, traktus intestinal, dan ginjal. Secara fisiologis sekresi PTH dihambat dengan tingginya ion kalsium serum. Mekanisme ini tidak aktif pada keadaan adenoma, atau hiperplasia kelenjar, dimana hipersekresi PTH berlangsung bersamaan dengan hiperkalsemia. Resorpsi kalsium dari tulang dan peningkatan absorpsi dari usus merupakan efek langsung dari peningkatan PTH.<br />
Dalam non hiperparatiroid hiperkalsemia, tidak ada kompensasi ginjal dan traktus intestinal pada kalsium yang normal. Mekanisme ini tidak berlaku pada saat peningkatan PTH bersamaan dengan hiperkalsemia. Pada saat kadar kalsium serum mendekati 12 mg/dL, tubular ginjal mereabsorpsi kalsium secara berlebihan sehingga terjadi keadaan hiperkalsiuria. Hal ini dapat meningkatkan insidens nefrolithiasis, yang mana dapt menimbulkan penurunan kreanini klearens dan gagal ginjal. Peningkatan kadar kalsium ekstraselular dapat mengendap pada jaringan halus. Rasa sakit timbul akibat kalsifikasi berbentuk nodul pada kulit, jaringan subkutis, tendon (kalsifikasi tendonitis), dan kartilago (khondrokalsinosis).<br />
Vitamin D memainkan peranan penting dalam metabolisme kalsium sebab dibutuhkan oleh PTH untuk bekerja di target organ. Kadar vitamin D dalam tubuh dapat berkurang pada keadaan hiperparatiroid, yang mungkin mengurangi kadar kalsium dalam sirkulasi. Metabolisme vitamin D dapat menjadi gangguan pada gagal ginjal kronik, yang mana menghambat absorpsi kalsium dari traktus gastrointestinal. Penipisan kadar kalsium yang progressive dari tulang oleh PTH dan penurunan absorpsi gastrointestinal dari usus mengarah ke osteomalasia dan osteitis fibrosa cystica tahap lanjut ( sangat jarang dijumpai sekarang).<br />
Peranan fosfat serum juga sangt penting. Reabsorpsi tubular ginjal untuk fosfat berkurang karena PTH, awal untuk hiperfosfaturia dan penurunan kadar fosfat serum. Hipofosfatemia sebenarnya dapat memperburuk hiperkalsemia dengan meningkatkan sekresi bentuk aktif vitamin D di ginjal.</p>
<p>Gambar III.1</p>
<p>III.5. 	MANIFESTASI KLINIK<br />
Kebanyakan pasien dengan hiperparatiroidisme adalah asimtomatik. Manifestasi utama dari hiperparatiroidisme terutama pada ginjal dan tulang. Kelainan pada ginjal terutama akibat deposit kalsium pada parenkim ginjalatau nefrolitiasis yang rekuren. Dengan deteksi dini, komplikasi ke ginjal dapat berkurang pada ± 20 % pasien. Batu ginjal biasanya terdiri dari kalsium oksalat atau kalsium fosfat. Pada kebanyakan pasien episode berulang dari nefrolitiasis atau pembesaran kalikuli ginjal dapat mengawali obstruksi traktus urinarius, infeksi, gagal fungsi ginjal. Nefrolitiasis juga menyebabkan penurunan fungsi ginjal dan retensi fosfat.<br />
Manifestasi ke tulang dari hiperparatiroidisme adalah osteitis fibrosa cystica. Osteitis fibrosa cystica sangat jarang terjadi pada hiperparatiroidisme primer. Secara histologis, gambran patognomonik adalah peningkatan giant multinukleal osteoklas pada lakuna Howship dan penggantian sel normal dan sumsum tulang dengan jaringan fibrotik.<br />
Pada pasien disertai dengan gejala disfungsi sistem saraf pusat, nervis dan otot perifer, traktus gastrointestinal, dan sendi.<br />
Manifestasi dari neuromuscular termasuk tenaga otot berkurang (paroxysmal muscular weakness), mudah lelah, dan atrofi otot yang mungkin menyolok adalah tanda kelainan neuromuscular primer.<br />
Manifestasi pada traktus gastrointestinal kadang-kadang ringan dan termasuk kelainan abdominal yang agak susah didiagnosis, kelainan lambung dan pancreas. Pada MEN 1 pasien dengan hiperparatiroidisme ulkus duodenum mungkin akibat dari tumor pancreas yang meningkatkan jumlah gastrin<br />
Khondrokalcinosis dan pseudogout frekuensinya kurang pada hiperparatiroidisme yang di skrining dari beberapa pasien.<br />
Efek dari hiperkalsemia adalah sebagai berikut:<br />
•	Sistem saraf pusat:<br />
Perubahan mental, penurunan daya ingat, emosional tidak stabil, depresi, gangguan tidur, koma.<br />
•	Neuromuscular:<br />
Tenaga otot berkurang (paroxysmal muscular weakness), rasa sakit pada sendi dan otot akibat penimbunan kalsium, pruritus, dan pergerakan tangan yang abnormal pada saat tidur.<br />
•	Gastrointestinal:<br />
Ulkus peptikum, pankreatitis, nausea, vomiting, reflux, dan kehilangan nafsu makan.<br />
•	Kardiovaskular:<br />
Hipertensi.</p>
<p>•	Mata:<br />
Konjunctivitis, keratopathy.<br />
•	Kulit:<br />
Pruritus.</p>
<p>III.6.	DIAGNOSTIK<br />
?	Laboratorium:<br />
o	Kalsium serum meninggi<br />
o	Fosfat serum rendah<br />
o	Fosfatase alkali meninggi<br />
o	Kalsium dan fosfat dalam urin bertambah<br />
?	Foto Rontgen:<br />
o	Tulang menjadi tipis, ada dekalsifikasi<br />
o	Cystic-cystic dalam tulang<br />
o	Trabeculae di tulang<br />
?	PA: osteoklas, osteoblast, dan jaringan fibreus bertambah</p>
<p>III.7.	DIFERENSIAL DIAGNOSIS<br />
?	Hiperkalsemia<br />
Hiperkalsemia didefinisikan sebagai kadar kalsium darah lebih dari 10,5 mg/100ml. Banyak keadaan yang dapat menyebabkan hiperkalsemia, tetapi hiperparatiroid merupakan penyabab paling utama.<br />
Sekresi hormon paratiroid yang berlebihan menyebabkan terjadinya hiperklasemia, hipofosfatemia, dan peningkatan resorbsi tulang.<br />
?	Gagal ginjal kronik (Osteodistrofi ginjal)<br />
Pada ginjal akibat tingginya sekresi hormon paratiroid dapat mengakibatkan nefrokalsinosis yang akhirnya gagal ginjal kronik.<br />
Retensi fosfat menyebabkan penurunan kadar kalsium serum. Keadaan azotemia juga mengganggu pengaktivan vitamin D oleh ginjal, yang diperlukan untuk absorpsi kalsium dari usus. Kedua faktor tersebut cenderung mengakibatkan hipokalsemia. Hipokalsemia merangsang kelenjar paratiroid untuk mensekresi lebih banyak hormon paratiroid, yang mengakibatkan resorpsi kalsium dan fosfat tulang, meningkatkan ekskresi fosfat dan mengaktifkan vitamin D oleh ginjal. Akibatnya terjadi peningkatan demineralisasi otot rangka. Tempat-tempat yang sering mengalami endapan kalsium adalah didalam dan disekitar sendi mengakibatkan arthritis yang menimbulkan nyeri, didalam ginjal (nefrokalsinosis) mengakibatkan obstruksi</p>
<p>III.8.	HIPERPARATIROIDISME SEKUNDER<br />
Pada penyakit ini terdapat hiperplasia dan hiperfungsi dari kelenjar paratiroid. Sebab primer adalah keadaan hipokalsemia kronik yang disebabkan di antaranya oleh:<br />
?	Penyakit ginjal kronik karena<br />
?	Glomerulonefritis<br />
?	Pielonefritis<br />
?	Kongenital dari traktus urinarius pada anak-anak<br />
?	Kurang efektifnya PTH pada beberapa penyakit, yaitu pada:<br />
?	Defisiensi vitamin D<br />
?	Defek herediter darimetabolisme vitamin D<br />
?	Kelainan-kelainan gastrointestinal<br />
Penyakit-penyakit lain dapat juga menyebabkan hipokalsemia dan kemudian hiperparatiroidisme sekunder, misalnya:<br />
?	Osteogenesis imperfecta<br />
?	Paget’s disease<br />
?	Mieloma multiple<br />
?	Karsinoma dengan metastasis di tulang</p>
<p>III.9.	TERAPI<br />
?	Kausal:<br />
Tindakan bedah, ekstirpasi tumor.</p>
<p>?	Simptomatis:<br />
o	Hiperkalsemia ringan (12 mgr % atau 3 mmol / L):<br />
o	Hidrasi dengan infus<br />
?	Sodium chloride per os<br />
?	Dosis-dosis kecil diuretika (furosemide)<br />
o	Hiperkalsemia berat (&gt; 15 mgr % atau 3,75 mmol / L):<br />
?	Koreksi (rehidrasi) cepat per infus<br />
?	Forced diuresis dengan furosemide<br />
?	Plicamycin (mitramcin) 25 ug / kg BB sebagai bolus atau infus perlahn-lahan (1-2 kali seminggu)<br />
?	Fosfat secara intravena (kalau ada indikasi)<br />
?	Dialysis peritoneal, kalau ada insufisiensi ginjal.</p>
<p>Gambar III.3</p>
<p>DAFTAR PUSTAKA</p>
<p>? Ranakusuma Boedisantoso, Soewondo Pradana; Gangguan Metabolisme Kalsium; dalam Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam jilid I. Ed ke-3. Balai penerbit FKUI Jakarta 1999.<br />
? Ganong. F. William; Buku Ajar Fisiologi Kedokteran, alih bahasa: dr. M. Djauhari. W, et al. Editor: dr. M .Djauhari.W, Ed 17, Penerbit EGC, Jakarta 1999.<br />
?	Guyton  A. C, Hall J.E; Textbook Of Medical Physiology, Ed 9. W.B.Saunders Company, Philadelphia, Pennslyvania 1996.<br />
? Holick M. F, Krane S. M; Introduction To Bone And Mineral Metabolism, in Harrison&#8217;s Principles Of Internal Medicine, Ed.15. McGraw-Hill Companies.<br />
?	Haznam W.M; Endokrinologi, Ed. 4. Percetakan angkasa offset, Bandung 1991.<br />
?	Lawrence M. T. Jr, Stephen J. McP, Maxine A. P; Current Medical Diagnosis And Treatment, McGraw-Hill Companies Inc. 2001.<br />
?	Price. S. A, Wilson. L. M; Pathophysiology. Clinical Concepts Of Disease Processes, Ed.4. Mosby Year Book, Inc.<br />
? Robins S. L, Kumar V, Buku Ajar Patologi II, alih bahasa: Staf Pengajar Laboratorium Patologi Anatomi FK Airlangga, -Ed. 4-. Surabaya: EGC.<br />
?	<a title="http://arbl.cvmbs.colostate.edu/hbooks/pathphys/endocrine/thyroid/pth.html" href="http://arbl.cvmbs.colostate.edu/hbooks/pathphys/endocrine/thyroid/pth.html">http://arbl.cvmbs.colostate.edu/hbooks/pathphys/endocrine/thyroid/pth.ht&#8230;</a><br />
?	<a title="http://www.endocrineweb.com/hyperpara.html" href="http://www.endocrineweb.com/hyperpara.html">http://www.endocrineweb.com/hyperpara.html</a><br />
?	<a title="http://www.endocrineweb.com/hypopara.html" href="http://www.endocrineweb.com/hypopara.html">http://www.endocrineweb.com/hypopara.html</a><br />
?	<a title="http://www.niddk.nih.gov/health/endo/hyper.html" href="http://www.niddk.nih.gov/health/endo/hyper.html">http://www.niddk.nih.gov/health/endo/hyper.html</a></p>
</div>
<br />Posted in Interna  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kadaverboy.wordpress.com/89/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kadaverboy.wordpress.com/89/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kadaverboy.wordpress.com/89/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kadaverboy.wordpress.com/89/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/kadaverboy.wordpress.com/89/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/kadaverboy.wordpress.com/89/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/kadaverboy.wordpress.com/89/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/kadaverboy.wordpress.com/89/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kadaverboy.wordpress.com/89/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kadaverboy.wordpress.com/89/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kadaverboy.wordpress.com/89/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kadaverboy.wordpress.com/89/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kadaverboy.wordpress.com/89/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kadaverboy.wordpress.com/89/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kadaverboy.wordpress.com&amp;blog=10509290&amp;post=89&amp;subd=kadaverboy&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kadaverboy.wordpress.com/2009/11/22/penyakit-kelenjar-paratiroid/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/79101c68fd37f3d533c67a75acf4af69?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">kadaverboy</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Penyakit-Penyakit Autoimmune</title>
		<link>http://kadaverboy.wordpress.com/2009/11/22/penyakit-penyakit-autoimmune/</link>
		<comments>http://kadaverboy.wordpress.com/2009/11/22/penyakit-penyakit-autoimmune/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 22 Nov 2009 14:36:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kadaverboy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kadaverboy.wordpress.com/?p=87</guid>
		<description><![CDATA[Penyakit Addison Sinonim Insufisiensi adrenal, hipofungsi kelenjar adrenocortical, defisiensi adrenocortical primer 2,4 Insiden Insufisiensi adrenocortical primer cukup sering terjadi. Berdasarkan penelitian yang dilakukan secara global didapatkan hasil bahwa insiden terjadinya penyakit ini adalah 1 dari setiap 100,000 orang populasi di dunia. Penyakit ini dapat menyerang semua umur dan pada semua kelompok jenis kelamin. 5 Definisi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kadaverboy.wordpress.com&amp;blog=10509290&amp;post=87&amp;subd=kadaverboy&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Penyakit Addison</p>
<p>Sinonim<br />
Insufisiensi adrenal, hipofungsi kelenjar adrenocortical, defisiensi adrenocortical primer 2,4</p>
<p>Insiden<br />
Insufisiensi adrenocortical primer cukup sering terjadi. Berdasarkan penelitian yang dilakukan secara global didapatkan hasil bahwa insiden terjadinya penyakit ini adalah 1 dari setiap 100,000 orang populasi di dunia. Penyakit ini dapat menyerang semua umur dan pada semua kelompok jenis kelamin. 5</p>
<p>Definisi<br />
Kegagalan kelenjar adrenal untuk memproduksi hormone dalam jumlah yang adekuat sehingga akan mempengaruhi kerja tubuh dalam menekan dan meregulasi tekanan darah serta mengatur keseimbangan air dan garam. 2</p>
<p>Etiologi<br />
Penyakit ini dapat disebabkan oleh penyakit tuberculosis, histoplasmosis. Tetapi penyebab yang tersering adalah kesalahan sistem imun sehingga menyerang organ fisiologis dalam tubuh, dalam hal ini adalah kelenjar adrenal. 2,3</p>
<p>Patofisiologi<br />
Antigen adrenal spesifik yang autoantibodinya meliputi 21-hidroksilase (CYP21A2) dan enzim pemecah rantai mungkin bertanggung jawab atas serangkaian proses yang menyebabkan insufisiensi meskipun tidak diketahui apakah antibody ini secara signifikan dapat menyebabkan insufisiensi kelenjar adrenal. Beberapa antibody menyebabkan insufisiensi adrenal dengan memblok proses pengikatan ACTH dengan reseptornya. 4</p>
<p>Gejala klinis<br />
Berbagai manifestasi klinis yang dapat ditimbulkan akibat adanya insufisiensi adrenal adalah adanya keluhan perasaan tidak nyaman dan kelelahan pada tubuh, kelemahan otot, nafsu makan menurun sampai tidak ada, mual dan muntah, penurunan berat badan, nyeri perut, pigmentasi kulit dan mukosa, peningkatan kebutuhan garam, , hipotensi, sakit kepala, diare.2,3</p>
<p>Pemeriksaan Penunjang<br />
Tes skrining terbaik yang dapat dilakukan adalah dengan menguji respon kortisol dengan pemaparan 250 ?g ACTH secara IV atau IM lalu dinilai setelah 60 menit. Hasil penilaiannya adalah level kortisol harus lebih dari 18 ?g /dl setelah 30-60 menit pemaparan. 3<br />
Pemeriksaan lain yang dapat dilakukan adalah memeriksa kadar ACTH plasma atau aldosteron plasma untuk membedakan apakah insufisiensi tersebut primer atau sekunder.4</p>
<p>Diagnosis<br />
Dapat ditegakkan dengan menemukan symptom yang tertera diatas, ditunjang dengan uji respon kortisol dan pemeriksaan kadar ACTH atau aldosteron plasma.</p>
<p>Diagnosis Diferensial<br />
Destruksi kelenjar adrenal, perdarahan kelenjar adrenal<br />
Penatalaksanaan<br />
Prinsip penatalaksaan penyakit Addison adalah dengan mengganti kekurangan kortisol dalam tubuh. Mula-mula dapat diberikan kortison dosis tinggi. Pada terapi jangka lama dosis yang tepat adalah kira-kira 25 mg pagi hari dan 12,5 mg sore hari peroral untuk mencapai produksi dan ritme normal. Diperlukan tambahan mineralokortikoid dan biasanya dipakai fludrokortison 100 ?g setiap hari. Mungkin diperlukan penyesuaian dosis untuk memberikan perasaan sehat, tekanan darah dan berat badan normal tanpa edema. 1<br />
Perlu juga dilakukan edukasi pada pasien bahwa penyakitnya ini adalah permanent dan perlu diberikan pengobatan secara berkesinambungan, dan penambahan dosis pada keadaan stress. Pasien dihimbau untuk membawa steroid card setiap hari.</p>
<p>Prognosis<br />
Kesehatan dan usia hidup pasien biasanya normal, kecuali bila terjadi krisi adrenal biasanya prognosanya akan menjadi lebih buruk. Sedangkan pigmentasi bisa menetap.</p>
<p>Penyakit Crohn</p>
<p>Sinonim<br />
Enteritis, ileitis 2</p>
<p>Insiden<br />
Insiden penyakit ini di Indonesia bervariasi antara 1-10 per 100.000 penduduk. Cenderung terjadi pada usia muda antara 25-30 tahun dan menyerang berbagai kelompok jenis kelamin. Prevalensi di Eropa Utara lebih tinggi daripada di selatan. Di Amerika, orang kulit putih jauh lebih banyak terkena dibandingkan kulit hitam. Dari segi ras, penyakit ini lebih banyak terdapat pada orang Yahudi. Penyakit ini juga lebih sering ditemui pada kelompok social ekonomi tinggi, bukan perokok, pemakai kontrasepsi oral dan diet rendah serat. 1</p>
<p>Definisi<br />
Penyakit yang menyebabkan inflamasi pada dinding saluran cerna, seringkali mengenai saluran cerna bagian bawah yaitu ileum. 2,4</p>
<p>Etiologi<br />
Secara pasti belum diketahui, tetapi faktor genetic dan respon imun berperan besar dalam timbulnya penyakit ini.</p>
<p>Patofisiologi<br />
Sistem imun mukosa usus normal adalah salah satu penghambat respon imun terhadap isi lumen usus dan merupakan toleransi oral yang terdapat pada individu normal. Ketika antigen yang dapat diserap diberikan secara oral, maka itu akan merangsang non-responsif antigen spesifik. Berbagai mekanisme terjadi yang berakibat pada aktivasi CD 4 dan sel T yang menekan inflamasi usus melalui sekresi sitokin inhibitor (IL-10, TGF-?). Toleransi oral mungkin bertanggung jawab atas tercetusnya respon imun terhadap antigen yang termakan dan flora komensal di lumen usus. 4</p>
<p>Gejala klinis<br />
Manifestasi klinis yang dapat ditimbulkan oleh penyakit ini dapat berupa diare kronik dengan atau tanpa darah, nyeri perut, adanya massa intraabdomen, terjadinya fistula, timbul striktur atau stenosis usus, keterlibatan usus halus, manifestasi ekstraintestinal.1</p>
<p>Pemeriksaan Penunjang<br />
Pemeriksaan laboratorium yang dapat dilakukan sampai saat ini belum ada yang spesifik sebagai dasar diagnosis penyakit ini. Tetapi banyak data laboratorium digunakan untuk menilai derajat aktivitas penyakit dan dampaknya pada status nutrisi pasien. Parameter yang banyak dipakai adalah kadar haemoglobin, hematokrit, kadar besi serum untuk menilai kehilangan darah dalam usus, laju endap darah untuk menilai aktivitas inflamasi serta kadar albumin serum untuk status nutrisi, serta C reactive protein yang dapat dipakai juga sebagai parameter aktivitas penyakit.1<br />
Endoskopi dapat dilakukan untuk membantu mendiagnosa penyakit ini. Akurasi kolonoskopi pada penyakit ini mencapai 89% yang memberi gambaran berupa penyakit yang bersifat transmural, segmental dan dapat terjadi di saluran cerna bagian atas, usus halus maupun kolon. 3<br />
Pemeriksaan radiology dengan kontras merupakan pemeriksaan yang saling melengkapi dengan endoskopi pada penyakit ini. Barium kontras ganda dapat memperlihatkan striktur, fistulasi, mukosa yang irregular, gambaran ulkus dan polip, ataupun perubahan distensibilitas lumen kolon berupa penebalan dinding usus dan hilangnya haustrae.<br />
Pemeriksaan dengan CT scan ditujukan untuk mendeteksi adanya abses ataupun fistula.<br />
Pemeriksaan histopatologi dilakukan dengan mengambil specimen yang berasal dari usus yang sakit. Specimen yang diambil melalui tindakan operatif lebih mempunyai nilai diagnostic daripada yang diambil secara biopsy per-endoskopik. Gambaran khas untuk penyakit ini adalah adanya granuloma tuberkuloid di samping adanya infiltrasi sel makrofag dan limfosit di lamina propria serta ulserasi yang dalam.1</p>
<p>Diagnosis<br />
Diagnosis penyakit ini dapat ditegakkan dengan menemukan gejala klinis dan melakukan pemeriksaan endoskopi atau pemeriksaan radiology dan histopatologi.</p>
<p>Diagnosis Diferensial<br />
Enterokolitis infeksius, appendicitis, diverticulitis.3</p>
<p>Terapi<br />
Karena etiologi penyakit ini belum diketahui secara jelas, maka pengobatan lebih diarahkan kepada penghambatan proses inflamasi dan mengobati symptom yang muncul apabila memang tidak dapat dihilangkan sama sekali.<br />
Dengan dugaan adanya agen seperti bakteri yang mencetuskan respon imun seperti diatas, maka pengobatan dengan antibiotic dianggap perlu. Dalam kasus ini dapat dipakai metronidazol 500 mg per oral. Untuk antiinflamasi dapat dipakai 5 amino salicylic acid (5-ASA) 2-4 gram per hari. Selain terapi medikamentosa, terapi pembedahan juga dapat dilakukan biasanya pada kasus yang sudah gagal dengan terapi konservatif atau yang sudah terjadi komplikasi. 1</p>
<p>Komplikasi<br />
Dalam perjalanan penyakit ini, dapat timbul komplikasi seperti perforasi usus, terjadinya stenosis usus akibat proses fibrosis, megakolon toksik, perdarahan saluran cerna, degenerasi maligna. Diperkirakan besarnya resiko terjadinya kanker pada penyakit ini lebih kurang 13 % setelah 20 tahun menderita penyakit ini.1</p>
<p>Prognosis<br />
Pada dasarnya penyakit ini merupakan penyakit yang bersifat remisi dan eksaserbasi. Cukup banyak dilaporkan adanya remisi yang bersifat spontan dan dalam jangka waktu yang lama. Prognosis banyak dipengaruhi oleh ada tidaknya komplikasi dan perjalanan klinis yang resisten terhadap penatalaksanaan konservatif dan membutuhkan intervensi surgical. Dilaporkan antara 60-70% kasus ini membutuhkan intervensi surgical dalam perjalanan penyakitnya. 1,3</p>
<p>Sindrom Cushing</p>
<p>Sinonim<br />
Hiperadrenokortikal 1</p>
<p>Insiden<br />
Penyakit ini cukup tinggi angka kejadiannya di masyarakat. Dalam penelitian secara global didapat hasil sedikitnya 1 dari tiap 5 orang populasi dunia berkemungkinan terkena kelainan ini tanpa membedakan jenis kelamin.</p>
<p>Definisi<br />
Gangguan yang timbul karena tingginya kadar kortisol di dalam darah oleh karena berbagai sebab. 2</p>
<p>Etiologi<br />
Penyebab tersering adalah hiperplasi adrenal bilateral yang berakibat hipersekresi dari ACTH oleh pituitary atau dari sebab seperti small cell carcinoma paru, medullary carcinoma thyroid atau tumor timus, pancreas atau ovarium.</p>
<p>Patofisiologi<br />
Hipotalamus menghasilkan CRH (Corticotrophin Releasing Hormone) yang merangsang kelenjar pituitary memproduksi ACTH. ACTH masuk ke dalam darah menuju ke kelenjar adrenal dan menstimuli adrenal menghasilkan kortisol. Kortisol disekresi oleh korteks adrenal dari area yang disebut zona fasciculate. Normalnya kadar kortisol dalam jumlah tertentu akan memberi negative feedback kepada kelenjar pituitary sehingga mengurangi sekresi ACTH. Pada sindrom Cushing terjadi kegagalan pengaturan kadar kortisol dalam darah oleh karena berbagai sebab. Misalnya sindrom Cushing yang disebabkan oleh adenoma pada korteks adrenal. Adenoma ini menyebabkan sekresi kortisol menjadi tinggi dan terus menerus sehingga negative feedback yang diberikan kepada kelenjar pituitary menjadi terlalu banyak sehingga kadar ACTH menjadi sangat rendah. 2</p>
<p>Gejala klinis<br />
Beberapa manifestasi klinis yang sering muncul berupa obesitas, hipertensi, osteoporosis, gangguan psikologis, jerawat, amenorrhea, dan diabetes mellitus meskipun relative tidak spesifik. Manifestasi klinis diatas dapat disertai dengan gejala sakit punggung, perdarahan bawah kulit, striae, hirsutisme sering juga perubahan mental sampai psikosis. Pasien-pasien dengan penyakit ini juga kelihatan kemerahan pada wajahnya, disertai kegemukan sedang sampai berat, wajah bulat dan merah (moon face). Kondisi otot jelek dan distribusi lemak bawah kulit abnormal, di punggung relative lebih tebal dan di tungkai lebih tipis. Bantalan lemak ini paling jelas di punggung atas dan di atas klavikula (buffalo hump). Kulit menipis, mudah berdarah dan striae merah muda. Striae cenderung terletak menyilang garis kulit, tampak pada sisi abdomen, payudara, bokong, pinggul, paha dan lipatan ketiak. Dapat dijumpai juga pertumbuhan berlebihan bulu rambut tubuh dan wajah. Bisa terjadi sedikit pembesaran klitoris. Tekanan darah meninggi dan adanya komplikasi hipertensi.1</p>
<p>Pemeriksaan Penunjang<br />
Pemeriksaan yang dapat dilakukan untuk skrining adalah pengukuran kadar kortisol plasma. Lalu dilanjutkan dengan tes supresi deksametason untuk menilai respon kortisol, baru dilanjutkan dengan mengukur kadar ACTH plasma. Pemeriksaan pencitraan seperti CT scan juga dapat dilakukan dan terbukti dapat membantu evaluasi massa di kelenjar adrenal yang tidak menimbulkan gejala.3</p>
<p>Diagnosis<br />
Dapat dilakukan dengan mencari tanda-tanda klinis kelebihan steroid dalam tubuh, ditunjang dengan pemeriksaan skrining, tes supresi deksametason dan pengukuran kadar ACTH plasma. Dapat juga dilengkapi dengan pemeriksaan CT scan.4</p>
<p>Diagnosis diferensial<br />
Penyakit ini biasanya dibedakan menurut etiologinya.</p>
<p>Terapi<br />
Terapi dilakukan berdasarkan etiologinya. Jika disebabkan oleh karena tumor adrenal, maka harus dilakukan tindakan operatif untuk pengangkatan tumor tersebut, hanya saja sisa kelenjar adrenal akan mengalami atrofi. Terapi substitusi kortikosteroid dibutuhkan selama berbulan-bulan dan diperlukan penghentian secara bertahap untuk mengembalikan fungsi adrenal ke normal.<br />
Tumor hipofisis harus diobati dengan radiasi eksternal, implantasi atau hipofisektomi transfenoidal. Adrenalektomi total merupakan pengobatan yang sering dilakukan tetapi bisa terjadi renjatan postoperasi, sepsis dan penyembuhan yang lambat. Pada pasien yang menjalani adrenalektomi total diperlukan kortikosteroid permanent. Ada 3 jenis obat yang digunakan untuk menekan sekresi kortisol karsinoma diantaranya metyrapone, amino gluthemide dan p-DDD. Dapat digunakan untuk mengendalikan sindrom Cushing (dan untuk mengurangi resiko operasi) sebelum pengobatan radikal atau sebagai alternative jika tindakan bedah merupakan kontraindikasi.1</p>
<p>Komplikasi<br />
Komplikasi yang dapat timbul adalah sindrom Nelson, disebabkan oleh pembesaran kelenjar hipofisis. Biasanya dengan pegmentasi kulit yang hebat bertahun-tahun setelah adrenalektomi total. Pengobatan alternatifnya dengan merusak hipofisis melalui berbagai cara. Penyembuhan kurang pasti tetapi lebih aman dan terhindar dari resiko sindrom Nelson. 1</p>
<p>Prognosis<br />
Sindrom Cushing yang tidak diobati akan fatal dalam beberapa tahun oleh karena gangguan kardiovaskular dan sepsis. Setelah pengobatan radikal kelihatan membaik, bergantung kepada apakah gangguan kerusakan kardiovaskular irreversible.<br />
Pengobatan substitusi permanent memberikan resiko pada waktu pasien mengalami stress dan diperlukan perawatan khusus. Karsinoma adrenal atau yang lainnya cepat menjadi fatal oleh karena kakeksia dan/atau metastasis.1</p>
<p>Diabetes mellitus</p>
<p>Sinonim<br />
Diabetes</p>
<p>Insiden<br />
o	Meningkat cepat dalam 12 tahun (RS koja ? 1,6%)<br />
o	Th 1998 ? kelurahan kayu putih ? 5,7%<br />
o	Di daerah Depok = 12,7% (2002)<br />
o	1 orang tiap 10 penderita<br />
o	Tempat di daerah Manado (12 tahun yang lalu sudah 6,6%) ? oleh karena dekat dengan filipina 7,9%<br />
o	Suku Indian ? 14,5%<br />
o	Dekat Selandia Baru ? 35%<br />
o	Singapura 12%<br />
o	Jepang 18%<br />
o	USA 18% (kulit putih)<br />
o	Indonesia tidak terlalu tinggi<br />
o	Finlandia 21%</p>
<p>Definisi<br />
Suatu penyakit dimana kadar glukosa (gula sederhana) di dalam darah tinggi karena tubuh tidak dapat melepaskan atau menggunakan insulin secara adekuat. Kadar gula darah sepanjang hari bervariasi, meningkat setelah makan dan kembali normal dalam waktu 2 jam.<br />
Kadar gula darah yang normal pada pagi hari setelah malam sebelumnya berpuasa adalah 70-110 mg/dL darah. Kadar gula darah biasanya kurang dari 120-140 mg/dL pada 2 jam setelah makan atau minum cairan yang mengandung gula maupun karbohidrat lainnya. Kadar gula darah yang normal cenderung meningkat secara ringan tetapi progresif setelah usia 50 tahun, terutama pada orang-orang yang tidak aktif.<br />
Insulin adalah hormon yang dilepaskan oleh pankreas, merupakan zat utama yang bertanggungjawab dalam mempertahankan kadar gula darah yang tepat. Insulin menyebabkan gula berpindah ke dalam sel sehingga bisa menghasilkan energi atau disimpan sebagai cadangan energi. Peningkatan kadar gula darah setelah makan atau minum merangsang pankreas untuk menghasilkan insulin sehingga mencegah kenaikan kadar gula darah yang lebih lanjut dan menyebabkan kadar gula darah menurun secara perlahan. Pada saat melakukan aktivitas fisik kadar gula darah juga bisa menurun karena otot menggunakan glukosa untuk energi.<br />
ETIOLOGI<br />
Diabetes terjadi jika tubuh tidak menghasilkan insulin yang cukup untuk mempertahankan kadar gula darah yang normal atau jika sel tidak memberikan respon yang tepat terhadap insulin.<br />
Penderita diabetes mellitus tipe I (diabetes yang tergantung kepada insulin) menghasilkan sedikit insulin atau sama sekali tidak menghasilkan insulin. Sebagian besar diabetes mellitus tipe I terjadi sebelum usia 30 tahun. Para ilmuwan percaya bahwa faktor lingkungan (mungkin berupa infeksi virus atau faktor gizi pada masa kanak-kanak atau dewasa awal) menyebabkan sistem kekebalan menghancurkan sel penghasil insulin di pankreas. Untuk terjadinya hal ini diperlukan kecenderungan genetik. Pada diabetes tipe I, 90% sel penghasil insulin (sel beta) mengalami kerusakan permanen. Terjadi kekurangan insulin yang berat dan penderita harus mendapatkan suntikan insulin secara teratur.<br />
Diabetes mellitus tipe II (diabetes yang tidak tergantung kepada insulin, NIDDM), pankreas tetap menghasilkan insulin, kadang kadarnya lebih tinggi dari normal. Tetapi tubuh membentuk kekebalan terhadap efeknya, sehingga terjadi kekurangan insulin relatif. Diabetes tipe II bisa terjadi pada anak-anak dan dewasa, tetapi biasanya terjadi setelah usia 30 tahun. Faktor resiko untuk diabetes tipe II adalah obesitas,/I&gt;, 80-90% penderita mengalami obesitas. Diabetes tipe II juga cenderung diturunkan.<br />
Diabetes Tipe 3 (diabetes bentuk lain)<br />
o	Kegagalan pankreas eksokrin : pankreatitis, pankreatektomi, kerusakan (karsinoma, fibrosis kistik, hemokromatosis)<br />
o	Penyakit endokrin : sindrom Cushing, akromegali, glukagonoma, feokromositoma.<br />
o	Diabetes mellitus akibat malnutrisi : ditemukan pada negara berkembang<br />
o	Penyebab genetik : jarang  ditemuka. Dabetes pada usia muda berkaitan dengan gangguan fungsi sel beta pankreas.</p>
<p>Diabetes  Tipe 4 (Diabetes gestasional)<br />
Diabetes pada kehamilan. Biasanya terjadi pada trimester terakhir kehamilan dan memiliki patofisiologi yang mirip dengan diabetes tipe 2. 30 – 50% penderita dengan diabetes pada kehamilan akan menjadi penderita diabetes mellitus tipe 2 dalam kurun waktu 10 tahun.<br />
Penyebab diabetes lainnya adalah:<br />
1.	Kadar kortikosteroid yang tinggi<br />
2.	Obat-obatan<br />
3.	Racun yang mempengaruhi pembentukan atau efek dari insulin<br />
GEJALA<br />
Gejala awalnya berhubungan dengan efek langsung dari kadar gula darah yang tinggi. Jika kadar gula darah sampai diatas 160-180 mg/dL, maka glukosa akan sampai ke air kemih. Jika kadarnya lebih tinggi lagi, ginjal akan membuang air tambahan untuk mengencerkan sejumlah besar glukosa yang hilang. Karena ginjal menghasilkan air kemih dalam jumlah yang berlebihan, maka penderita sering berkemih dalam jumlah yang banyak (poliuri).<br />
Akibat poliuri maka penderita merasakan haus yang berlebihan sehingga banyak minum (polidipsi). Sejumlah besar kalori hilang ke dalam air kemih, penderita mengalami penurunan berat badan. Untuk mengkompensasikan hal ini penderita seringkali merasakan lapar yang luar biasa sehingga banyak makan (polifagi). Gejala lainnya adalah pandangan kabur, pusing, mual dan berkurangnya ketahanan selama melakukan olahraga. Penderita diabetes yang kurang terkontrol lebih peka terhadap infeksi. Karena kekurangan insulin yang berat, maka sebelum menjalani pengobatan penderita diabetes tipe I hampir selalu mengalami penurunan berat badan. Sebagian besar penderita diabetes tipe II tidak mengalami penurunan berat badan.<br />
Pada penderita diabetes tipe I, gejalanya timbul secara tiba-tiba dan bisa berkembang dengan cepat ke dalam suatu keadaan yang disebut dengan ketoasidosis diabetikum. Kadar gula di dalam darah adalah tinggi tetapi karena sebagian besar sel tidak dapat menggunakan gula tanpa insulin, maka sel-sel ini mengambil energi dari sumber yang lain. Sel lemak dipecah dan menghasilkan keton, yang merupakan senyawa kimia beracun yang bisa menyebabkan darah menjadi asam (ketoasidosis). Gejala awal dari ketoasidosis diabetikum adalah rasa haus dan berkemih yang berlebihan, mual, muntah, lelah dan nyeri perut (terutama pada anak-anak).<br />
Pernafasan menjadi dalam dan cepat karena tubuh berusaha untuk memperbaiki keasaman darah. Bau nafas penderita tercium seperti bau aseton. Tanpa pengobatan, ketoasidosis diabetikum bisa berkembang menjadi koma, kadang dalam waktu hanya beberapa jam. Bahkan setelah mulai menjalani terapi insulin, penderita diabetes tipe I bisa mengalami ketoasidosis jika mereka melewatkan satu kali penyuntikan insulin atau mengalami stres akibat infeksi, kecelakann atau penyakit yang serius.<br />
Penderita diabetes tipe II bisa tidak menunjukkan gejala-gejala selama beberapa tahun. Jika kekurangan insulin semakin parah, maka timbullah gejala yang berupa sering berkemih dan sering merasa haus. Jarang terjadi ketoasidosis. Jika kadar gula darah sangat tinggi (sampai lebih dari 1.000 mg/dL, biasanya terjadi akibat stres-misalnya infeksi atau obat-obatan), maka penderita akan mengalami dehidrasi berat, yang bisa menyebabkan kebingungan mental, pusing, kejang dan suatu keadaan yang disebut koma hiperglikemik &#8211; hiperosmolar non-ketotik.<br />
KOMPLIKASI<br />
Lama-lama peningkatan kadar gula darah bisa merusak pembuluh darah, saraf dan struktur internal lainnya. Terbentuk zat kompleks yang terdiri dari gula di dalam dinding pembuluh darah, sehingga pembuluh darah menebal dan mengalami kebocoran. Akibat penebalan ini maka aliran darah akan berkurang, terutama yang menuju ke kulit dan saraf. Kadar gula darah yang tidak terkontrol juga cenderung menyebabkan kadar zat<br />
berlemak dalam darah meningkat, sehingga mempercepat terjadinya aterosklerosis (penimbunan plak di dalam pembuluh darah). Aterosklerosis ini 2-6 kali lebih sering terjadi pada penderita diabetes. Sirkulasi yang jelek melalui pembuluh darah besar dan kecil bisa melukai jantung, otak, tungkai, mata, ginjal, saraf dan kulit dan memperlambat penyembuhan luka.Karena hal tersebut diatas, maka penderita diabetes bisa mengalami berbagai komplikasi jangka panjang yang serius. Yang lebih sering terjadi adalah serangan jantung dan stroke. Kerusakan pembuluh darah mata bisa menyebabkan gangguan penglihatan ( retinopati diabetikum). Kelainan fungsi ginjal menyebabkan gagal ginjal sehingga penderita harus menjalani dialisa.<br />
Gangguan pada saraf dapat bermanifestasi dalam beberapa bentuk. Jika satu saraf mengalami kelainan fungsi (mononeuropati), maka sebuah lengan atau tungkai biasa secara tiba-tiba menjadi lemah. Jika saraf yang menuju ke tangan, tungkai dan kaki mengalami kerusakan ( polineuropati diabetikum), maka pada lengan dan tungkai bisa dirasakan kesemutan atau nyeri seperti terbakar dan kelemahan. Kerusakan pada saraf menyebabkan kulit lebih sering mengalami cedera karena penderita tidak dapat meredakan perubahan tekanan maupun suhu.<br />
Berkurangnya aliran darah ke kulit juga bisa menyebabkan ulkus (borok) dan semua penyembuhan luka berjalan lambat. Ulkus di kaki bisa sangat dalam dan mengalami infeksi serta masa penyembuhannya lama sehingga sebagian tungkai harus diamputasi.<br />
DIAGNOSA<br />
Tes Toleransi Glukosa Oral dilakukan untuk menegakkan diagnosis<br />
Untuk screening ? pemeriksaan gula darah sewaktu ? TTGO<br />
Kadar gula darah sewaktu dan puasa digunakan sebagai patokan untuk menegakkan diagnosis:<br />
1.	Dikatakan DM bila kadar gula darah ? 200 mg% (plasma vena ataupun darah kapiler)<br />
2.	Belum pasti DM<br />
a.	Plasma vena ? gula darah 110 – 199 mg%<br />
b.	Darah kapiler ? gula darah 90 –199 mg%<br />
3.	Dpt dipastikan bukan DM<br />
a.	Plasma vena ? &lt; 100 mg%<br />
b.	Darah kapiler ? &lt; 90 mg%<br />
Bila dengan pemeriksaan gula darah sewaktu &amp; puasa msh ragu dpt dilanjutkan dengan TTGO dan dikatakan DM bila :<br />
1.	Bila kadar GDS ? 200 mg%<br />
2.	Kadar GDP ? 126 mg%<br />
3.	Telah dilakukan TTGO, kadar 2 jam ? 200 mg%</p>
<p>Diabetes melitus ditandai oleh kadar glukosa darah yang meningkat secara kronis.<br />
Bukan DM	Belum pasti DM		DM<br />
Kadar glukosa darah 		Vena		&lt;110			110 – 199		?200<br />
Sewaktu (mg/dL)		kapiler		&lt;90			  90 – 199		?200<br />
Kadar glukosa darah		Vena		&lt;110			110 – 125		?126<br />
Puasa (mg/dL)		Kapiler		&lt;90			   90 – 109		?110<br />
Penatalaksanaan TTGO sesuai dengan konsensus PERKENI (tahun 1998 atau 2002).</p>
<p>Alasan pemeriksaan TTGO :<br />
-	Bila penderita yang sudah diperiksa kadar GDS meragukan<br />
-	Ada faktor resiko</p>
<p>Cara:<br />
1.	Puasa 8 – 10 jam malam hari sebelum pemeriksaan, hanya boleh minum air putih<br />
2.	Diperiksa GDP<br />
3. Diberi minum 75 gr glukosa yang dilarutkan dalam 250 cc air, minum jangan ditunda-tunda, paling lama 15 menit sudah harus habis. Setelah itu periksa gula darahnya langsung</p>
<p>Pemeriksaan gula darah:<br />
-	Puasa 8 – 10 jam<br />
-	Periksa setelah 2 jam PP<br />
Untuk memantau pasien, periksa gula darah PP</p>
<p>Kriteria pengendalian gula darah :<br />
1.	terkendali baik<br />
2.	terkendali sedang<br />
3.	terkendali buruk</p>
<p>Diagnosis diabetes ditegakkan berdasarkan gejala- gejalanya (polidipsi, polifagi, poliuri) dan hasil pemeriksaan darah yang menunjukkan kadar gula darah yang tinggi.<br />
Untuk mengukur kadar gula darah, contoh darah biasanya diambil setelah penderita berpuasa selama 8 jam atau bisa juga diambil setelah makan. Pada usia diatas 65 tahun, paling baik jika pemeriksaan dilakukan setelah berpuasa karena setelah makan, usia lanjut memiliki peningkatan gula darah yang lebih tinggi.<br />
PENGOBATAN<br />
Penatalaksanaan DM<br />
1.	Edukasi<br />
2.	Perencanaan makan<br />
3.	Latihan jasmani<br />
4.	Pemberian obat-obatan hiperglikemi (OHO) atau insulin<br />
Penyuluhan/ edukasi<br />
-	tenaga ahli<br />
-	Edukator (perawat, ahli gizi)<br />
-	Senam DM<br />
-	Sarana informasi<br />
-	Mengenai perencanaan makan (bukan diet)<br />
-	Penyuluhan tentang masalah komplikasi DM – hipoglikemi<br />
-	Tentang hubungan pekerjaan dengan DM<br />
-	Masalah klo puasa<br />
o	Harus dihitung kalori<br />
?	Aktivitasnya<br />
?	Ibu menyusui/ tidak<br />
Latihan Jasmani<br />
Keuntungan:<br />
1.	mengurangi pemakaian obat<br />
2.	untuk kesegaran jasmani<br />
3.	mencegah komplikasi saraf pada perifer<br />
4.	perbaiki sistem kardiovaskuler<br />
5.	scr biomolekuler, perbaiki resistensi insulin di jaringan perifer<br />
Prinsip pada olahraga = CRIPI (Continue, Ritmis, Interval, Progressive, Indurance)<br />
-	Continue : berkelanjutan, terus-menerus<br />
-	Ritmis: teratur, berirama<br />
-	Interval: kadang cepat, kadang lambat<br />
-	Progressive: lama-lama meningkat<br />
-	Indurance : meningkatkan ketahanan jasmani<br />
Target nadi : 78 – 80% dari denyut nadi maksimal dikali 200 dikurangi umur</p>
<p>GD usia muda sebelum latihan dikurangi setelah latihan = 150 mg%<br />
Tapi sebelum latihan tidak boleh lebih dari 140 mmHg sistolik dan setelah latihan tidak boleh lebih dari 180 mmHg sistolik<br />
Aerobic yang dilakukan adalah aerobic LOW IMPACT (jogging, senam Disco)<br />
Perencanaan makan<br />
-	BB ideal Wanita = TB – 110<br />
-	BB ideal Pria = TB – 100<br />
-	Laki-laki dewasa (basal) =  BB ideal x 30 kalori<br />
-	Wanita dewasa (basal) = BB ideal x 25 kalori<br />
Kebutuhan tergantung :<br />
a.	berat badan<br />
b.	infeksi<br />
c.	aktifitas<br />
d.	umur (berkurang bila sudah tua)<br />
e.	menyusui/ tidak<br />
Aktifitas<br />
1.	Ringan (+) 15% dari kalori basal<br />
2.	Sedang (+) 25% dari kalori basal<br />
3.	Berat (+) 30% dari kalori basal<br />
Infeksi ? utk 10 ditambah 10% dari kalori basal<br />
Dihitung untuk setiap orang :<br />
-	KH = 60%<br />
-	Protein = 20 – 25%<br />
-	Lemak = 10 – 15%<br />
Kesibukan :<br />
1.	Ringan = BB ideal (+) 1700 kalori<br />
2.	Sedang = BB ideal (+) 1900 kalori<br />
3.	Berat = BB ideal (+) 2100 kalori<br />
Penderita obesitas diberi : 900, 1100, 1300, 1500 kalori<br />
Penderita kronis diberi : 1500 – 2500 kalor<br />
Tujuan utama dari pengobatan diabetes adalah untuk mempertahankan kadar gula darah dalam kisaran yang normal. Kadar gula darah yang benar-benar normal sulit untuk dipertahankan, tetapi semakin mendekati kisaran yang normal, maka kemungkinan terjadinya komplikasi sementara maupun jangka panjang adalah semakin berkurang.<br />
Pengobatan diabetes meliputi pengendalian berat badan, olah raga dan diet. Seseorang yang obesitas yang menderita diabetes tipe II tidak akan memerlukan pengobatan jika mereka menurunkan berat badannya dan berolah raga secara teratur. Tetapi kebanyakan penderita merasa kesulitan menurunkan berat badan dan melakukan olah raga yang teratur. Karena itu biasanya diberikan terapi sulih insulin atau obat hipoglikemik per-oral.<br />
Pengaturan diet sangat penting. Biasanya penderita tidak boleh terlalu banyak makan makanan manis dan harus makan dalam jadwal yang teratur. Penderita diabetes cenderung memiliki kadar kolesterol yang tinggi, karena itu dianjurkan untuk membatasi jumlah lemak jenuh dalam makanannya. Tetapi cara terbaik untuk menurunkan kadar kolesterol adalah mengontrol kadar gula darah dan berat badan.<br />
Semua penderita hendaknya memahami bagaimana menjalani diet dan olah raga untuk mengontrol penyakitnya. Mereka harus memahami bagaimana cara menghindari terjadinya komplikasi. Mereka juga harus memberikan perhatian khusus terhadap infeksi kaki dan kukunya harus dipotong secara teratur. Penting untuk memeriksakan matanya supaya bisa diketahui perubahan yang terjadi pada pembuluh darah di mata.<br />
Terapi Insulin<br />
Pada diabetes tipe I, pankreas tidak dapat menghasilkan insulin sehingga harus diberikan insulin pengganti. Pemberian insulin hanya dapat dilakukan melalui suntikan, insulin dihancurkan di dalam lambung sehingga tidak dapat diberikan per-oral (ditelan). Bentuk insulin yang baru (semprot hidung) sedang dalam penelitian. Pada saat ini, bentuk insulin yang baru ini belum dapat bekerja dengan baik karena laju penyerapannya yang berbeda menimbulkan masalah dalam penentuan dosisnya.<br />
Insulin disuntikkan dibawah kulit ke dalam lapisan lemak, biasanya dilengan, paha atau dinding perut. Digunakan jarum yang sangat kecil agar tidak terasa terlalu nyeri.<br />
Insulin terdapat dalam 3 bentuk dasar, masing-masing memiliki kecepatan dan lama kerja yang berbeda:<br />
Insulin kerja cepat Contohnya adalah insulin reguler, yang bekerja paling cepat dan paling sebentar. Insulin ini seringkali mulai menurunkan kadar gula dalam waktu 20 menit, mencapai puncaknya dalam waktu 2-4 jam dan bekerja selama 6-8 jam. Insulin kerja cepat seringkali digunakan oleh penderita yang menjalani beberapa kali suntikan setiap harinya dan disutikkan 15-20 menit sebelum makan.<br />
Insulin kerja sedang Contohnya adalah insulin suspensi seng atau suspensi insulin isofan. Mulai bekerja dalam waktu 1-3 jam, mencapai puncak maksimun dalam waktu 6-10 jam dan bekerja selama 18-26 jam. Insulin ini bisa disuntikkan pada pagi hari untuk memenuhi kebutuhan selama sehari dan dapat disuntikkan pada malam hari untuk memenuhi kebutuhan sepanjang malam.<br />
Insulin kerja lama Contohnya adalah insulin suspensi seng yang telah dikembangkan. Efeknya baru timbul setelah 6 jam dan bekerja selama 28-36 jam. Sediaan insulin stabil dalam suhu ruangan selama berbulan-bulan sehingga bisa dibawa kemana-mana.<br />
Pemilihan insulin yang akan digunakan tergantung kepada:<br />
1.	Keinginan penderita untuk mengontrol diabetesnya<br />
2.	Keinginan penderita untuk memantau kadar gula darah dan menyesuaikan dosisnya<br />
3.	Aktivitas harian penderita<br />
4.	Kecekatan penderita dalam mempelajari dan memahami penyakitnya<br />
5.	Kestabilan kadar gula darah sepanjang hari dan dari hari ke hari.<br />
Sediaan yang paling mudah digunakan adalah suntikan sehari sekali dari insulin kerja sedang. Tetapi sediaan ini memberikan kontrol gula darah yang paling minimal. Kontrol yang lebih ketat bisa diperoleh dengan menggabungkan 2 jenis insulin, yaitu insulin kerja cepat dan insulin kerja sedang. Suntikan kedua diberikan pada saat makan malam atau ketika hendak tidur malam. Kontrol yang paling ketat diperoleh dengan menyuntikkan insulin kerja cepat dan insulin kerja sedang pada pagi dan malam hari disertai suntikan insulin kerja cepat tambahan pada siang hari.<br />
Beberapa penderita usia lanjut memerlukan sejumlah insulin yang sama setiap harinya; penderita lainnya perlu menyesuaikan dosis insulinnya tergantung kepada makanan, olah raga dan pola kadar gula darahnya. Kebutuhan akan insulin bervariasi sesuai dengan perubahan dalam makanan dan olah raga.<br />
Beberapa penderita mengalami resistensi terhadap insulin. Insulin tidak sepenuhnya sama dengan insulin yang dihasilkan oleh tubuh, karena itu tubuh bisa membentuk antibodi terhadap insulin pengganti. Antibodi ini mempengaruhi aktivitas insulin sehingga penderita dengan resistansi terhadap insulin harus meningkatkan dosisnya.<br />
Penyuntikan insulin dapat mempengaruhi kulit dan jaringan dibawahnya pada tempat suntikan. Kadang terjadi reaksi alergi yang menyebabkan nyeri dan rasa terbakar, diikuti kemerahan, gatal dan pembengkakan di sekitar tempat penyuntikan selama beberapa jam. Suntikan sering menyebabkan terbentuknya endapan lemak (sehingga kulit tampak berbenjol-benjol) atau merusak lemak (sehingga kulit berlekuk-lekuk). Komplikasi tersebut bisa dicegah dengan cara mengganti tempat penyuntikan dan mengganti jenis insulin. Pada pemakaian insulin manusia sintetis jarang terjadi resistensi dan alergi.<br />
Obat-obat hipoglikemik per-oral<br />
Golongan sulfonilurea seringkali dapat menurunkan kadar gula darah secara adekuat pada penderita diabetes tipe II, tetapi tidak efektif pada diabetes tipe I. Contohnya adalah glipizid, gliburid, tolbutamid dan klorpropamid.<br />
Obat ini menurunkan kadar gula darh dengan cara merangsang pelepasan insulin oleh pankreas dan meningkatkan efektivitasnya.<br />
Obat lainnya, yaitu metformin, tidak mempengaruhi pelepasan insulin tetapi meningkatkan respon tubuh terhadap insulinnya sendiri. Akarbos bekerja dengan cara menunda penyerapan glukosa di dalam usus. Obat hipoglikemik per-oral biasanya diberikan pada penderita diabetes tipe II jika diet dan oleh raga gagal menurunkan kadar gula darah secara adekuat. Obat ini kadang bisa diberikan hanya satu kali (pagi hari), meskipun beberapa penderita memerlukan 2-3 kali pemberian. Jika obat hipoglikemik per-oral tidak dapat mengontrol kadar gula darah dengan baik, mungkin perlu diberikan suntikan insulin.<br />
Pemantauan Pengobatan<br />
Pemantauan kadar gula darah merupakan bagian yang penting dari pengobatan diabetes. Adanya glukosa bisa diketahui dari air kemih; tetap pemerisaan air kemih bukan merupakan cara yang baik untuk memantau pengobatan atau menyesuaikan dosis pengobatan. Saat ini kadar gula darah dapat diukur sendiri dengan mudah oleh penderita di rumah. Penderita diabetes harus mencatat kadar gula darah mereka dan melaporkannya kepada dokter agar dosis insulin atau obat hipoglikemiknya dapat disesuaikan.<br />
Mengatasi Komplikasi<br />
Insulin maupun obat hipoglikemik per-oral bisa terlalu banyak menurunkan kadar gula darah sehingga terjadi hipoglikemia. Hipoglikemia juga bisa terjadi jika penderita kurang makan atau tidak makan pada waktunya atau melakukan olah raga yang terlalu berat tanpa makan. Jika kadar gula darah terlalu rendah, organ pertama yang terkena pengaruhnya adalah otak. Untuk melindungi otak, tubuh segera mulai membuat glukosa dari glikogen yang tersimpan di hati. Proses ini melibatkan pelepasan epinefrin ( adrenalin), yang cenderung menyebabkan rasa lapar, kecemasan, meningkatnya kesiagaan dan gemetaran. Berkurangnya kadar glukosa darah ke otak bisa menyebabkan sakit kepala.<br />
Hipoglikemia harus segera diatasi karena dalam beberapa menit bisa menjadi berat, menyebabkan koma dan kadang cedera otak menetap. Jika terdapat tanda hipoglikemia, penderita harus segera makan gula. Karena<br />
itu penderita diabetes harus selalu membawa permen, gula atau tablet glukosa untuk menghadapi serangan hipoglikemia. Atau penderita segera minum segelas susu, air gula atau jus buah, sepotong kue, buah-buahan atau makanan manis lainnya. Penderita diabetes tipe I harus selalu membawa glukagon, yang bisa disuntikkan jika mereka tidak dapat memakan makanan yang mengandung gula.<br />
Gejala-gejala dari kadar gula darah rendah<br />
1.	Rasa lapar yang timbul secara tiba-tiba<br />
2.	Sakit kepala<br />
3.	Kecemasan yang timbul secara tiba-tiba<br />
4.	Badan gemetaran<br />
5.	Berkeringat<br />
6.	Bingung<br />
7.	Penurunan kesadaran, koma.<br />
Ketoasidosis diabetikum merupakan suatu keadaan darurat. Tanpa pengobatan yang tepat dan cepat, bisa terjadi koma dan kematian. Penderita harus dirawat di unit perawatan intensif. Diberikan sejumlah besar cairan intravena dan elektrolit (natrium, kalium, klorida, fosfat) untuk menggantikan yang hilang melalui air kemih yang berlebihan. Insulin diberikan melalui intravena sehingga bisa bekerja dengan segera dan dosisnya disesuaikan. Kadar glukosa, keton dan elektrolit darah diukur setiap beberapa jam, sehingga pengobatan yang diberikan bisa disesuaikan. Contoh darah arteri diambil untuk mengetahui keasamannya. Pengendalian kadar gula darah dan penggantian elektrolit biasanya bisa mengembalikan keseimbangan asam basa, tetapi kadang perlu diberikan pengobatan tambahan untuk mengoreksi keasaman darah.<br />
Pengobatan untuk koma hiperglikemik-hiperosmolar non-ketotik sama dengan pengobatan untuk ketoasidosis diabetikum. Diberikan cairan dan elektrolit pengganti. Kadar gula darah harus dikembalikan secara bertahap untuk mencegah perpindahan cairan ke dalam otak. Kadar gula darah cenderung lebih mudah dikontrol dan keasaman darahnya tidak terlalu berat. Jika kadar gula darah tidak terkontrol, sebagian besar komplikasi jangka panjang berkembang secara progresif. Retinopati diabetik dapat diobati secara langsung dengan pembedahan laser untuk menyumbat kebocoran pembuluh darah mata sehingga bisa mencegah kerusakan retina yang menetap. Terapi laser dini bisa membantu mencegah atau memperlambat hilangnya penglihatan.</p>
<p>Penyakit Grave</p>
<p>Sinonim<br />
Hipertiroidisme Grave</p>
<p>Insiden<br />
Prevalensi hipertiroidisme pada praktek umum dapat mengenai 25-30 dalam 10.000 wanita, sedang di rumah sakit didapatkan 3 kasus dalam 10.000 pasien. Di USA 3 kasus dari 10.000 wanita. Perbandingan antara wanita dengan pria adalah 10:1.</p>
<p>Definisi<br />
Gangguan tiroid yang disebabkan karena antibody yang memediasi reaksi autoimmune dengan gejala seperti hipertiroid, eksophtalmus, dan kulit seperti kulit jeruk.</p>
<p>Etiologi<br />
Penyebab pastinya belum diketahui. Kemungkinan faktor genetic berperan dalam penyakit ini. Tetapi dewasa ini, viral atau bakteri infeksi dipercaya sebagai salah satu pemicu timbulnya reaksi autoimun tersebut.</p>
<p>Patofisiologi<br />
Penyakit Grave adalah penyakit autoimun dimana tubuh menghasilkan antibody terhadap reseptor hormone TSH. Antibody ini menyebabkan hipertiroid oleh karena mereka berikatan dengan reseptor TSH dan menstimulasinya secara kronis. Reseptor TSH diekspresikan di sel follicular pada kelenjar tiroid dan hasil dari stimulasi kronis tersebut adalah produksi T3 dan T4 secara berlebihan. Ini yang menyebabkan munculnya symptom klinis hipertiroidisme dan pembesaran kelenjar tiroid yang dikenal dengan istilah goiter.</p>
<p>Ada 3 tipe autoantibody terhadap reseptor TSH yang dapat dikenali:<br />
? TSI, thyroid stimulating immunoglobulins. Antibody ini (sebagian besar IgG) bertindak sebagai LATS ( Long Acting Thyroid Stimulants), mengaktivasi sel dengan cara yang lebih panjang dan lambat daripada TSH, menyebabkan peningkatan produksi hormone tiroid.<br />
? TGI, thyroid growth immunoglobulins. Antibody ini terikat secara langsung ke reseptor TSH dan berimplikasi dalam pertumbuhan folikel tiroid.<br />
? TB II, thyrotrophin Binding-Inhibiting Immunoglobulins. Antibody ini menghambat ikatan normal TSH dengan reseptornya. Sebagian akan bertindak seperti TSH yang terikat pada reseptor dan menginduksi fungsi tiroid. Tipe lain mungkin tidak menstimulasi kelenjar tiroid, tapi akan mencegah TSI dan TSH dari ikatan dan menstimulasi reseptornya.2</p>
<p>Gejala klinis<br />
Manifestasi klinis yang paling sering muncul adalah penurunan berat badan meskipun nafsu makan bertambah, kelelahan, tremor, gugup, berkeringat banyak, tidak tahan panas, palpitasi dan pembesaran tiroid, penonjolan bola mata, kulit seperti kulit jeruk. Hipertiroidisme pada usia lanjut memerlukan perhatian khusus sebab gajala dan tanda sistem kardiovaskular sangat menonjol dan kadang-kadang berdiri sendiri. Pada beberapa kasus ditemukan adanya payah jantung, sedangkan tanda-tanda kelainan tiroid sebagai penyebabnya hanya sedikit. Payah jantung yang tidak dapat diterangkan pada umur pertengahan harus dipikirkan hipertiroidisme, terutama bila ditemukan juga curah jantung yang tinggi atau atrium fibrilasi yang tidak dapat diterangkan.<br />
Pada umur lebih dari 75 tahun, gejala-gejala peningkatan hormone tiroid sangat sedikit malahan dapat asimtomatik, sehingga ada baiknya pada umur sedemikian ini dilakukan pemeriksaan rutin secara berkala kadar tiroksin dalam darah. Hipertiroidisme pada usia lanjut, kadang-kadang gejala klinisnya tersembunyi yang dikenal sebagai aphatetic hyperthyroidism, dengan gejala klasik seperti : pasien tampak tenang, apatis, depresi ataupun letargi, dengan struma yang kecil.<br />
Hipertiroidisme pada anak menyebabkan gangguan pertumbuhan, peningkatan tinggi badan serta biasanya disertai dengan pematangan tulang yan gcepat. Manifestasi klinis pada anak sering ditemukan sampai beberapa tahun sebelum diagnosis ditegakkan. Rata-rata waktu antara timbulnya gejala pertama sampai diagnosis ditegakkan sekitar 1 tahun. Pada anak dapat ditemukan pergerakan koreoatetoid.</p>
<p>Pemeriksaan Penunjang<br />
Pemeriksaan serum TSH adalah marker paling sensitive untuk membuktikan tirotoksikosis tersebut disebabkan oleh penyakit Grave. Selain itu pemeriksaan FT3 dan FT4 juga dapat dilakukan.</p>
<p>Diagnosis<br />
Manifestasi klinis hipertiroidisme umumnya mudah ditemukan , sehingga mudah dalam menegakkan diagnosis. Namun pada kasus yang subklinis dan orang usia lanjut perlu pemeriksaan laboratorium yang cermat untuk membantu menetapkan diagnosis hipertiroidisme. Diagnosis pada wanita hamil agak sulit karena perubahan fisiologis pada kehamilan seperti pembesaran tiroid serta manifestasi hipermetabolik, sama seperti pada tirotoksikosis. Kebanyakan pasien memberikan gambaran klini yang jelas sehingga tidak ada kesulitan dalam menegakkan diagnosis. Meskipun diagnosis sudah jelas, namun pemeriksaan laboratorium untuk hipertiroidisme perlu dikerjakan untuk lebih menguatkan diagnosis.</p>
<p>Diagnosis diferensial<br />
Multinodular goiter, toxic adenoma</p>
<p>Terapi<br />
Tujuan pengobatan hipertiroidisme adalah membatasi produksi hormone tiroid yang berlebihan dengan cara menekan produksi (dengan obat anti tiroid) atau merusak jaringan tiroid (yodium radioaktif, tiroidektomi subtotal).<br />
Obat anti tiroid diberikan atas indikasi:<br />
? sebagai terapi yang bertujuan memperpanjang remisi atau mendapatkan remisi yang menetap, pada pasien muda dengan struma ringan sampai sedang dan tirotoksikosis<br />
? sebagai obat untuk kontrol tirotoksikosis pada fase sebelum pengobatan atau sesudah pengobatan pada pasien yang mendapat yodium radioaktif<br />
?	sebagai persiapan untuk tiroidektomi<br />
?	untuk pengobatan pasien hamil dan orang lanjut umur<br />
?	pasien dengan krisis tiroid<br />
Obat anti tiroid umumnya diberi dengan dosis besar pada mulanya sampai eutiroid tercapai, baru kemudian diberi dosis maintenance untuk mempertahankan eutiroid tersebut. Beberapa obat yang dapat dipakai adalah karbimazol dengan dosis awal 30-60 mg/hari diteruskan dengan 5-20 mg/hari, metimazol 30-60 mg/hari diteruskan dengan 5-20 mg/hari, propiltiourasil 300-600 mg/hari diteruskan 50-200 mg/hari. Ketiga obat ini bersifat imunosupresif, dapat menurunkan konsentrasi thyroid stimulating antibody (TSAb) yang bekerja pada sel tiroid.<br />
Pengobatan dengan yodium radioaktif dapat diberikan atas indikasi :<br />
?	pasien umur 35 tahun atau lebih<br />
?	hipertiroidisme yang kambuh sesudah dioperasi<br />
?	gagal mencapai remisi sesudah pemberian OAT<br />
?	tidak mampu atau tidak mau pengobatan dengan OAT<br />
?	adenoma toksik, goiter multinodular toksik<br />
Dengan yodium radioaktif kemungkinan terjadi hipotiroidisme cukup besar.<br />
Pengobatan dengan metode operatif dilakukan atas indikasi :<br />
?	pasien umur muda dengan struma yang besar serta tidak mempan dengna OAT<br />
?	wanita hamil (trimester kedua) yang memerlukan OAT dosis besar<br />
?	alergi terhadap OAT, pasien tidak dapat menerima yodium radioaktif<br />
?	adenoma toksik atau struma multinodular toksik<br />
?	pada penyakit Grave yang berhubungan dengan satu atau lebih nodul<br />
Pengobatan tambahan dapat diberikan untuk mengatasi symptom yang timbul seperti pemberian sekat beta adrenergic untuk mengatasi tanda seperti palpitasi, tremor, dll akibat rangsangan reseptor beta adrenergic. Dapat juga diberikan yodium untuk persiapan operasi dan pada krisis tiroid.</p>
<p>Tiroiditis Hashimoto</p>
<p>Sinonim<br />
Chronic lymphocytic thyroiditis</p>
<p>Insiden<br />
Dari hasil penelitian di Amerika, didapat prevalensi penyakit ini mengenai wanita adalah 10:1 daripada pria dengan usia tersering antara 45-65 tahun.</p>
<p>Definisi<br />
Penyakit autoimun yang disebabkan oleh karena tubuh membentuk antibody yang menyerang sel-sel kelenjar tiroid.</p>
<p>Etiologi<br />
Belum diketahui, tetapi dapat disebabkan oleh renjatan kelenjar tiroid atau defisiensi hormone oleh hipotalamus atau pituitary.</p>
<p>Patogenesis<br />
Pada penyakit ini, terdapat infiltrasi limfositik tiroid dengan susunan mula-mula pada bagian tengah,atrofi folikel disertai metaplasi oxyphilik, hilangnya koloid, dan fibrosis ringan sampai berat.</p>
<p>Gejala klinis<br />
Manifestasi klinis yang muncul seperti kelelahan, kelemahan, kulit kering, perasaan dingin, kerontokan rambut, sulit berkonsentrasi, gangguan memori, konstipasi, penurunan berat badan, dispneu, suara serak, menorrhagia, parestesia, gangguan pendengaran.</p>
<p>Pemeriksaan Penunjang<br />
Dapat dilakukan pemeriksaan seperti titer antibody yaitu titer untuk antibody mikrosomal atau untuk antibody tiroglobulin. Pemeriksaan histopatologi dapat memberi gambaran seperti infiltrasi limfosit yang difus, obliterasi folikel tiroid dan fibrosis.</p>
<p>Diagnosis<br />
Diagnosis hanya dapat ditegakkan dengan pasti secara histologis melalui biopsy. Sayangnya hasil biopsy sering tidak dapat dipercaya. Diagnosis presumptive dapat dibuat atas dasar gambaran klinis dan tingginya titer antibody yaitu lebih dari 1/32 untuk antibody mikrosomal atau 1/100 untuk antibody tiroglobulin.</p>
<p>Diagnosis diferensial<br />
Hipotiroidisme yang disebabkan oleh karena penyakit pada kelenjar pituitary.</p>
<p>Terapi<br />
Biasanya tidak diperlukan pengobatan karena strumanya kecil dan asimtomatik. Bila kelenjar tiroid sangat besar mungkin diperlukan tindakan pengangkatan, tetapi operasi ini sebaiknya ditunda karena kelenjar tiroid tersebut dapat mengecil sejalan dengan waktu. Pemberian tiroksin dapat mempercepat hal tersebut.<br />
Di samping itu, tiroksin juga dapat diberikan dalam keadaan hipotiroidisme. Hipotiroidisme dapat terjadi pada beberapa pasien tetapi prosesnya lambat. Bila terjadi hipertiroidisme dapat diberikan obat antitiroid. Pemberian glukokortikoid dapat menyebabkan regresi struma dan mengurangi titer antibody. Tetapi mengingat efek samping dan kenyataan bahwa aktivitas penyakit dapat kambuh kembali sesudah pengobatan dihentikan, maka pemakaian obat golongan ini tidak dianjurkan pada keadaan biasa.</p>
<p>Prognosis<br />
Umumnya baik dan dapat meregresi dengan sendirinya.</p>
<p>Lupus Erythematosus Syndrom</p>
<p>Sinonim<br />
Discoid lupus, Subacute cutaneous lupus, Systemic lupus erythematosus.</p>
<p>Insiden<br />
Pada penelitian di dunia didapat bahwa 90% kasus ini terjadi pada wanita muda. Penelitian di Amerika didapat prevalensi di daerah kota berkisar antara 15-50 per 100.000 populasi penduduk. Lebih sering menyerang orang kulit hitam daripada putih. Ras Hispanic dan Asia juga lebih rentan.</p>
<p>Definisi<br />
Suatu penyakit yang tidak diketahui sebabnya dimana jaringan dan sel rusak oleh karena autoantibodi patologis dan kompleks imun.</p>
<br />Posted in Uncategorized  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kadaverboy.wordpress.com/87/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kadaverboy.wordpress.com/87/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kadaverboy.wordpress.com/87/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kadaverboy.wordpress.com/87/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/kadaverboy.wordpress.com/87/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/kadaverboy.wordpress.com/87/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/kadaverboy.wordpress.com/87/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/kadaverboy.wordpress.com/87/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kadaverboy.wordpress.com/87/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kadaverboy.wordpress.com/87/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kadaverboy.wordpress.com/87/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kadaverboy.wordpress.com/87/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kadaverboy.wordpress.com/87/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kadaverboy.wordpress.com/87/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kadaverboy.wordpress.com&amp;blog=10509290&amp;post=87&amp;subd=kadaverboy&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kadaverboy.wordpress.com/2009/11/22/penyakit-penyakit-autoimmune/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/79101c68fd37f3d533c67a75acf4af69?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">kadaverboy</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>KARSINOMA NASOFARING</title>
		<link>http://kadaverboy.wordpress.com/2009/11/22/karsinoma-nasofaring/</link>
		<comments>http://kadaverboy.wordpress.com/2009/11/22/karsinoma-nasofaring/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 22 Nov 2009 14:17:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kadaverboy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kadaverboy.wordpress.com/?p=84</guid>
		<description><![CDATA[PENDAHULUAN Di Indonesia, karsinoma nasofaring ( KNF ) merupakan penyakit keganasan yang paling sering ditemukan di bidang penyakit Telinga Hidung Tenggorokan. Dalam urutan 5 besar tumor ganas dengan frekuensi tertinggi, ia menduduki tempat ke empat setelah kanker mulut rahim, payudara dan kulit. Namun penanggulangannya sampai saat ini masih merupakan masalah. Yang menjadi masalah adalah keterlambatan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kadaverboy.wordpress.com&amp;blog=10509290&amp;post=84&amp;subd=kadaverboy&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>
<p>PENDAHULUAN</p>
<p>Di Indonesia, karsinoma nasofaring ( KNF ) merupakan penyakit keganasan yang paling sering ditemukan di bidang penyakit Telinga Hidung Tenggorokan. Dalam urutan 5 besar tumor ganas dengan frekuensi tertinggi, ia menduduki tempat ke empat setelah kanker mulut rahim, payudara dan kulit.<br />
Namun penanggulangannya sampai saat ini masih merupakan masalah. Yang menjadi masalah adalah keterlambatan pasien untuk datang berobat. Sebagian besar pasien datang berobat ketika sudah dalam stadium yang lanjut, dimana tumor sudah meluas kejaringan sekitarnya. Hal ini merupakan penyulit terbesar untuk mendapatkan hasil pengobatan yang sempurna.<br />
Letak Nasofaring yang tersembunyi serta gejala dini yang tidak khas, inilah yang mengakibatkan diagnosis sering terlambat yang menyebabkan tingginya angka kematian.<br />
Seperti keganasan yang lain, penyebab penyakit ini belum dapat dipastikan, sehingga pencegahannya sulit. Yang perlu ditekankan adalah usaha kearahdiagnosis dini, yaitu dengan meningkatkan kewaspadaan para dokter serta memberikan penyuluhan kepada masyarakat mengenai penyakit ini, supaya masyarakat mengetahui tanda-tanda stadium awal penyakit dan kemana mereka harus pergi untuk mendapatkan pertolongan yang tepat dan cepat.<br />
Gangguan pendengaran merupakan salah satu gejal dini dari penyakit ini, disamping gejala dini lain yang berupa hidung buntu atau hidung keluar darah, tetapi gejala tersebut sering tidak terpikirkan oleh dokter pemeriksa bahwa penyebanya adalah tumor ganas di Nasofaring, sehingga baru di ketahui bila penyakit sudah dalam keadaan lanjut. Gangguan pengdengaran kadang-kadang disertai juga keluhan rasa penuh di telinga , telinga berbunyi atau rasa nyeri di telinga.<br />
Banyak penulis mengatakan, bahwa lokalokasi permulaan tumbuh TGN, tersering di fosa Rosemuller, sebab daerah tersebut merupakan daerah peralihan epitel.<br />
Dalam penyebarannya, tumor dapat mendesak Tuba Eustachius serta mengganggu pergerakan otot Levator Palatini., yang berfungsi menbuka tuba, sehingga fungsi tuba tergangu dan mengakibatkan gangguan pendengaran berupa menurunnya pendengaran tipe Konduksi yang bersifat Reversibel.<br />
Pada stadium awal penyakit, pengobatan dengan penyinaran saja sudah dapat memberikan angka penyembuhan yang cukup tinggi. Sedangkan pada stadium lanjut, diperlukan pengobatan tambahan yang memerlukan biaya yang tidak sedikit.<br />
Pada beberapa tempat terbapat timbunan jaringan Limfosid. Timbunan jaringan/ Limfosid yang terletak di bagian belakang atas Nasofaring, Disebut Tonsalia Faringea dari Luschka atau lebih dikenal dengan Adenoid.<br />
Di sekitar tuba Eustachius timbunan jaringan Limfosid ini disebut Tonsila Tubalis dari Gerlach.<br />
Foramen Laserum terletak 1½-2 senti meter tepat kranial dari fosa rosemullar, sehingga dengan mudah tumor dapat meluas melalui foramen ini kedalam intrakanial.</p>
<p>ANATOMI NASOFARING<br />
NASOFARING disebut juga Epifaring, Rinofaring. merupakan yang terletak dibelakang rongga hidung, diatas Palatum Molle dan di bawah dasar tengkorak.<br />
Bentuknya sebagai kotak yang tidak rata dan berdinding enam, dengan ukuran melintang 4 sentimeter, tinggi 4 sentimeter dan ukuran depan belakang 2-3 sentimeter.<br />
Batas-batasnya :<br />
- Dinding depan 	: Koane<br />
- Dinding belakang 	: Merupakan dinding melengkung setinggi<br />
Vertebra Sevikalis I dan II.<br />
- Dinding atas 		: Merupakan dasar tengkorak.<br />
- Dinding bawah 	: Permukaan atas palatum molle.<br />
- Dinding samping 	: di bentuk oleh tulang maksila dan sfenoid.<br />
Dinding samping ini berhubungan dengan<br />
ruang telinga tengah melalui tuba Eustachius.<br />
Bagian tulang rawan dari tuba Eustachius menonjol diatas ostium tuba yang disebut Torus Tubarius. Tepat di belakang Ostium Tuba. Terdapat cekungan kecil disebut Resesus Faringeus atau lebih di kenal dengan fosa Rosenmuller; yang merupakan banyak penulis merupakan lokalisasi permulaan tumbuhnya tumor ganas nasofaring.<br />
Tepi atas dari torus tubarius adalah tempat meletaknya oto levator veli velatini; bila otot ini berkontraksi, maka setium tuba meluasnya tumor, sehingga fungsinya untuk membuka ostium tuba juga terganggu.<br />
Dengan radiasi, diharapkan tumor primer dinasofaring dapat kecil atau menghilang. Dengan demikian pendengaran dapat menjadi lebih baik.<br />
Sebaliknya dengan radiasi dosis tinggi dan jangka waktu lama, kemungkinan akan memperburuk pendengaran oleh karena dapat terjadi proses degenerasi dan atropi dari koklea yang bersifat menetap, sehingga secara subjektif penderita masih mengeluh pendengaran tetap menurun.</p>
<p>ETIOLOGI<br />
Meskipun penyelidikan untuk mengetahui penyebab penyakit ini telah dilakukan di berbagai negara dan telah memakan biaya yang tidak sedikit, namun sampai sekarang belum berhasil. Dikatakan bahwa beberapa faktor saling berkaitan sehingga akhirnya disimpulkan bahwa penyebab penyakit ini adalah multifaktor.<br />
Kaitan antara suatu kuman yang di sebut sebagai virus Epstein-Barr dan konsumsi ikan asin dikatakan sebagai penyebab utama timbulnya penyakit ini.<br />
Virus tersebut dapat masuk ke dalam tubuh dan tetap tinggal di sana tanpa menyebabkan suatu kelainan dalam jangka waktu yang lama.<br />
Untuk mengaktifkan virus ini di butuhkan suatu mediator. Sebagai contoh, kebiasaan untuk mengkomsumsi ikan asin secara terus-menerus mulai dari masa kanak-kanak, merupakan mediator utama yang mendiator yang dapat mengaktifkan virus ini sehingga menimbulkan Karsinoma Nasofaring.<br />
Mediator yang dianggap berpengaruh untuk timbulnya karsinoma nasofaring ialah :<br />
1.	Zat Nitrosamin. Didalam ikan asin terdapat nitrosamin yang ternyata 	merupakan mediator penting. Nitrosamin juga ditemukan dalam ikan / 	makanan yang diawetkan di Greenland . juga pada ” Quadid ” yaitu 	daging kambing yang dikeringkan di tunisia, dan sayuran yang 	difermentasi ( asinan ) serta taoco di Cina.<br />
2. Keadaan sosial ekonomi yang rendah. Lingkungan dan kebiasaan hidup. Dikatakan bahwa udara yang penuh asap di rumah-rumah yang kurang baik ventilasinya di Cina,Indonesia dan Kenya, meningkatnya 	jumlah kasus KNF. Di  Hongkong, pembakaran dupa rumah-rumah 	juga dianggap berperan dalam menimbulkan KNF.<br />
3. Sering kontak dengan zat yang dianggap bersifat Karsinogen. Yaitu yang dapat menyebabkan kanker, antara lain Benzopyrene, Benzoathracene ( sejenis Hidrokarbon dalam arang batubara ), gas kimia, asap industri, asap kayu dan beberapa Ekstrak tumbuhan- tumbuhan.<br />
4. Ras dan keturunan. Ras kulit putih jarang terkena penyakit ini.Di Asia terbanyak adalah bangsa Cina, baik yang negara asalnya maupun yang perantauan. Ras melayu yaitu Malaysia dan Indonesia termasuk 	yang agak banyak kena.<br />
5. Radang Kronis di daerah nasofaring. Dianggap dengan adanya peradangan, mukosa nasofaring menjadi lebih rentan terhadapa karsinogen lingkungan.</p>
<p>HISTOLOGI NASOFARING<br />
Permukaan nasofaring berbenjol-benjol, karena dibawah epitel terdapat banyak jaringan limfosid, sehingga berbentuk seperti lipatan atau kripta. Hubungan antara epitel dengan jaringan limfosid ini sangat erat, sehigga sering disebut ” Limfoepitel ”.<br />
Bloom dan Fawcett ( 1965 ) membagi mukosa nasofaring atas empat macam 	epitel :<br />
1.	Epitek selapis torak bersilia ” Simple Columnar Cilated Epithelium ”<br />
2.	Epitel torak berlapis  “ Stratified Columnar Epithelium “.<br />
3.	Epitel torak berlapis bersilia “Stratified Columnar Ciliated Epithelium“<br />
4.	Epitel torak berlapis semu bersilia “ Pseudo-Stratifed Columnar 	Ciliated Epithelium ”.<br />
Mengenai distribusi epitel ini, masih belum ada kesepakatan diantara para hali.<br />
60 % persen dari mukosa nasofaring dilapisi oleh epitel berlapis gepeng “ Stratified Squamous Epithelium “, dan 80 % dari dinding posteroir nasofaring dilapisi oleh epitel ini, sedangkan pada dinding lateral dan depan dilapisi oleh</p>
<p>epitel transisional, yang meruapkan epitel peralihan antara epitel berlapis gepeng dan torak bersilia.<br />
Epitel berlapis gepeng ini umumnya dilapisi Keratin, kecuali pada Kripta yang dalam. Di pandang dari sudut embriologi, tempat pertemuan atau peralihan dua macam epitel adalah tempat yang subur untuk tumbuhnya suatu karsinoma.</p>
<p>KLASIFIKASI<br />
WHO 1978<br />
1.	Tipe. 1 : Karsinoma sel skuamosa dengan berkeratinisasi<br />
2.	Tipe  2 : Karsinoma sel skuamosa tanpa keratinisasi<br />
3.	Tipe  3 : Karsinoma tanpa diferensiasi<br />
Working formulation<br />
1.	Karsinoma Tipe A : anaplasia / Pleomorfy nyata-derajat keganasan 	menegah.<br />
2.	Karsinoma  Tipe B : anaplasia / pleomorfy ringan-derajat keganasan 	ringan.<br />
Jenis tanpa keratinisasi dan tanpa diferisiensi mempunyai sifat radiosensitif dan mempunyai titer antibodi terhadap virus Epstein-Barr, sedangkan jenis karsinoma sel skuamosa dengan berkeratinisasi tidak begitu radiosensitif dan tidak menunjukkan hubungan dengan virus Epstein-Barr.<br />
Klasifikasi Working Formulation digunakan untuk membandingkan respon radiasi pada karsinoma nasofaring dengan metastasis ke kelenjar leher, respons radiasi paling baik pada karsinoma nasofaring tipe B, kurang begitu baik pada tipe A dan paling kurang baik pada karsinoma sel skuamosa berkeratin.</p>
<p>GEJALA DINI<br />
Karena KNF bukanlah penyakit yang dapat disembuhkan, maka diagnosis dan pengobatan yang sedini mungkin memegang peranan penting untuk mengetahui gejala dini KNF dimana tumor masih terbatas di rongga nasofaring.<br />
Gejala telinga :<br />
1.	Kataralis/sumbatan tuba eutachius<br />
Pasien mengeluh rasa penuh di telinga, rasa dengung kadang-kadang disertai dengan gangguan pendengaran. Gejala ini merupakan gejala yang sangat dini.<br />
2.	Radang telinga tengah sampai pecahnya gendang telinga.<br />
Keadaan ini merupakan kelainan lanjut yang terjadi akibat penyumbatan muara tuba, dimana rongga teliga tengah akan terisi cairan. Cairan yang diproduksi makin lama makin banyak, sehingga akhirnya terjadi kebocoran gendang telinga dengan akibat gangguan pendengaran.<br />
Gejala Hidung<br />
1.	Mimisan<br />
Dinding tumor biasanya rapuh sehingga oleh rangsangan dan sentuhan dapat terjadi pendarahan hidung atau mimisan. Keluarnya darah ini biasanya berulang-ulang, jumlahnya sedikit dan seringkali bercampur dengan ingus, sehingga berwarna merah jambu.<br />
2.	Sumbatan hidung<br />
Sumbutan hidung yang menetap terjadi akibat pertumbuhan tumor ke dalam rongga hidung dan menutupi koana. Gejala menyerupai pilek kronis, kadang-kadang disertai dengan gangguan penciuman dan adanya ingus kental.</p>
<p>Gejala telinga dan hidung ini bukan merupakan gejala yang khas untuk penyakit ini, karena juga dijumpai pada infeksi biasa, misalnya pilek kronis, sinusitis dan lain-lainnya. Mimisan juga sering terjadi pada anak yang sedang menderita radang.<br />
GEJALA LANJUT<br />
1.	Pembesaran kelenjar limfe leher<br />
Tidak semua benjolan leher menandakan pemyakit ini. Yang khas jika timbulnya di daerah samping leher, 3-5 sentimeter di bawah daun telinga dan tidak nyeri. Benjolan ini merupakan pembesaran kelenjar limfe, sebagai pertahanan pertama sebelum sek tumor ke bagian tubuh yang lebih jauh. Benjolan ini tidak dirasakan nyeri, karenanya sering diabaikan oleh pasien.<br />
Selanjutnya sel-sel kanker dapat berkembang terus, menembus kelenjar dan mengenai otot di bawahnya. Kelenjarnya menjadi lekat pada otot dan sulit digerakan. Keadaan ini merupakan gejala yang lebih lanjut lagi.<br />
Pembesaran kelenjar limfe leher merupakan gejala utama yang 	mendorong pasien datang ke dokter.</p>
<p>2.	Gejala akibat perluasan tumor ke jaringan sekitar.<br />
Tumor dapat meluas ke jaringan sekitar. Perluasan ke atas ke arah rongga tengkorak dan kebelakang melalui sela-sela otot dapat mengenai saraf otak dan menyebabkan gejala akibat kelumpuhan otak syaraf yang sering ditemukan ialah penglihatan dobel (diplopia), rasa baal (mati rasa) didaerah wajah sampai akhirnya timbul kelumpuhan lidah, nahu, leher dan gangguan pendengaran serta gangguan penciuman.<br />
Keluhan lainnya dapat berupa sakit kepala hebat akibat penekanan tumor ke selaput otak rahang tidak dapat dibuka akibat kekakuan otot-otot rahang yang terkena tumor.<br />
Biasanya kelumpuhan hanya mengenai salah satu sisi tubuh saja (unilateral) tetapi pada beberapa kasus pernah ditemukan mengenai ke dua sisi tubuh.</p>
<p>3.	Gejala akibat metastasis<br />
Sel-sel kanker dapat ikur mengalir bersama aliran limfe atau darah, mengenai organ tubuh yang letaknya jauh dari nasotoring, hal ini yang disebut metastasis jauh. Yang sering ialah pada tulang, hati dan paru. Jika ini terjadi, menandakan suatu stadium dengan prognosis sangat buruk.</p>
<p>STADIUM<br />
Stadium T = Tumor<br />
Untuk penentuan stadium dipakai sistem TNM menurut UICC (1992).<br />
T   = Tumor primer<br />
T0  &#8211; Tidak tampak tumor.<br />
T1  &#8211; Tumor terbatas pada satu lokalisasi saja (lateral/posterosuperior/atap dan 	lain-lain).<br />
T2 &#8211; Tumor terdapat pada dua lokalisasi atau lebih tetapi masih terbatas di 	dalam  rongga nasofaring .<br />
T3 &#8211; Tumor telah keluar dari rongga nasofaring (ke rongga hidung atau 	orofaring dsb).<br />
T4 &#8211; Tumor telah keluar dari nasofaring dan telah merusak tulang tengkorak 	atau mengenai saraf-saraf otak.<br />
TX   Tumor tidak jelas besarnya karena pemeriksaan tidak lengkap.</p>
<p>N = Nodule<br />
N – Pembesaran kelenjar getah bening regional .<br />
N0  &#8211; Tidak ada pembesaran.<br />
N1  &#8211; Terdapat penbesaran tetapi homolateral dan masih dapat di gerakkan .<br />
N2  &#8211; Terdapat pembesaran kontralateral/bilateral dan masih dapat di gerakkan .<br />
N3  &#8211; Terdapat pembesaran , baik homolateral ,kontralateral ,maupun bilateral yang sudah melekat pada jaringan sekitar .<br />
M = Metastasis<br />
M = Metastesis jauh<br />
M0 &#8211; Tidak ada metastesis jauh.<br />
M1 – Terdapat Metastesis jauh .</p>
<p>Stadium I :<br />
T1		dan  N0	 	dan N0<br />
Stadium II :<br />
T2		dan N0		dan M0<br />
Stadium III :<br />
T1/T2/T3	dan N1		dan M0<br />
atau T3		dan N0		dan M0<br />
Stadium IV :<br />
T4			dan N0/N1		dan M0<br />
atau T1/T2/T3/T4	dan N2/N3		dan M0<br />
atau T1/T2/T3/T4	dan N0/N1/N2/N3	dan M1.</p>
<p>PEMERIKSAAN PENUNJANG<br />
1. pemeriksaan radiologi konvisional foto tengkorak potongan antero- postofor lateral, dan posisi waters tampak jaringan lunak di daerah nasofaring. Pada foto dasar tengkorak ditemukan destruksi atau erosi tulang daerah fosa serebia media.<br />
2. pemeriksaan tomografi, CT Scaning nasofaring.<br />
Merupakan pemeriksaan yang paling dipercaya untuk menetapkan stadium tumor dan perluasan tumor. Pada stadium dini terlihat<br />
asimetri dari saresus lateralis, torus tubarius dan dinding posterior 	    nasofaring.</p>
<p>3  scan tulang dan foto torak untuk mengetahui ada tidaknya metatasis<br />
jauh.<br />
4. pemeriksaan serologi, beruoa pemeriksaan titer antibodi terhadap<br />
virus Epsten-Barr ( EBV ) yaitu lg A anti VCA dan lg A anti EA.<br />
5. pemeriksaan aspirasi jarum halus, bila tumor primer di nasofaring<br />
belum jelas dengan pembesaran kelenar leher yang diduga akibat<br />
metatasisi karsinoma nasifaring.<br />
6. pemeriksaan darah tepi, fungsi hati, ginjal untuk mendeteksi adanya 	    metatasis.</p>
<p>DIAGNOSIS<br />
Persoalan diagnosis sudah dapat dipecahkan dengan pemeriksaan CT-scan daerah kepada dan leher, sehingga pada tumor primer yang tersembunyi pun tidak akan terlalu sulit ditemukan.<br />
Pemeriksaan serologi lg A anti EA dan lg A anti VCA untuk infeksi virus E-B telah menunjukkan kemajuan dalam mendeteksi karsinoma nasofaring.<br />
Diagnosa pasti ditegakkan dengan melakukan Biopsi nasofaring. Biopsi nasofaring dapat dilakukan dengan 2 cara, yaitu : dari hidung atau dari mulut.<br />
Biopsi melaui hidung dilakukan tanpa melihat jelas tumornya ( blind biopsy ). Cunam biopsi dimasukkan melalui ronga hidung menyulusuri konka media de nasofaring kemudian cunam di arahkan ke lateral dan dilakukan biopsi.</p>
<p>Biopsi melalui mulut dengan memakai bantuan kateter nelaton yang dimasukkan melalui hidung dan ujung keteter yang berada dalam mulut diterik keluar dan diklem bersama-sama ujung keteter yang di hidung. Demikian juga dengan keteter yang di hidung di sebelahnya, sehingga palatum mole tertarik ke atas. Kemudian denan kaca laring di lihat daerah nasofaring. Biopsi dilakukan dengan melihat tumoir melalui kaca tersebut atau memakai nasofaringoskop yang dimasukkan melalui mulut, masa tumor akan terlihat lebih jelas. Biopsi tumor nasofaring umumnya dilakukan dengan anestesi topikal dengan Xylocain 10%. Bila dengan cara ini masih belum didapatkan hasil yang memuaskan maka dilakukan pengerokan dengan kuret daerah lateral nasofaring dalam narkosis.</p>
<p>PENGOBATAN<br />
Sampai saaat ini pengobatan pilihan terhadap tumor ganas nasofaring adalah radiasi, karena kebanyakan tumor ini tipe anaplastik yang Bersifat radiosensitif.<br />
Radioterapi dilakukan dengan radiasi eksterna, dapat menggunakan pesawat kobal (Co60 ) atau dengan akselerator linier ( linier Accelerator atau linac). Radiasi ini ditujukan pada kanker primer didaerah nasofaring dan ruang parafaringeal serta pada daerah aliran getah bening leher atas, bawah seerta klasikula. Radiasi daerah getah bening ini tetap dilakukan sebagai tindakan preventif sekalipun tidak dijumpai pembesaran kelenjar.<br />
Metode brakhiterapi, yakni dengan memasukkan sumber radiasi kedalam rongga nasofaring saat ini banyak digunakan guna memberikan dosis maksimal pada tumor primer tetapi tidak menimbulkan cidera yang seius pada jaringan sehat disekitarnya. Kombinasi ini diberikan pada kasus-kasus yang telah memeperoleh dosis radiasi eksterna maksimum tetapi masih dijumpai sisa jaringan kanker atau pada kasus kambuh lokal.<br />
perkembangan teknologi pada dasawarsa terakhir telah memungkinkan pemberian radiasi yang sangat terbatas pada daerah nasofaring dengan menimbulkan efek samping sesedikit mungkin. Metode yang disebut sebagai IMRT ( Intersified Modulated Radiotion Therapy ) telah digunakan dibeberapa negara maju.</p>
<p>Prinsip Pengobatan Radiasi, inti sel dan plasma sel terdiri dari (1) RNA “Ribose Nucleic Acid“ dan (2) DNA “ Desoxy Ribose Nucleic Acid “. DNA terutama terdapat paa khromosom “ ionizing radiation “ menghambat metabolisme DNA dan menghentikan aktifitas enzim nukleus. Akibatnya pada inti sel terjadi khromatolisis dan plasma sel menjadi granuar serta timbul vakuola-vakuola yang kahirnya berakibat sel akan mati dan menghilang.<br />
Pada suatu keganasan ditandai oleh mitosis sel yang berlebihan ; stadium profase mitosis merupakan stadium yang paling rentan terhadap radiasi.<br />
daerah nasofaring dan sekitarnya yang meliputi fosa serebri media, koane dan daerah parafaring sepertiga leher bagian atas. Daerah-daerah lainnya yang dilindungi dengan blok timah.<br />
Arah penyinaran dri lateral kanan dan kiri, kecuali bila ada penyerangan kerongga hidung dan sinus paranasal maka perlu penambahan lapangan radiasi dari depan.<br />
Pada penderita dengan stadium yang masih terbataas (T1,T2), maka luas lapangan radiasi harus diperkecil setelah dosis radiasi mencapai 4000 rad , terutama dari atas dan belakang untuk menghindari bagian susunan saraf pusat .<br />
Dengan lapangan radiasi yang terbatas ini, radiasi dilanjutkan sampai mencapai dosis seluruh antara 6000- 7000 rad . pada penderita dengan stadium T3 dan T4, luas lapangan radiasi tetap dipertahankan sampai dosis 6000 rad. Lapangan diperkecil bila dosis akan ditingkatkan lagi sampai sekitar 7000 rad.<br />
Daerah penyinaran kelenjar leher sampai fosa supraklavikula. Apabila tidak ada metastasis kelenjar leher, maka radiasi daerah leher ini bersifat profilaktik dengan dosis 4000 rad, sedangkan bila ada metastasis diberikan dosis yang sama dengan dosis daerah tumor primer yaitu 6000 rad, atau lebih.<br />
Untuk menghindari gangguan penyinaran terhadap medullaspinalis, laring dan esofagus, maka radiasi daerah leher dan supraklavikula ini, sebaiknya diberikan dari arah depan dengan memakai blok timah didaerah leher tengah.</p>
<p>Dosis radiasi<br />
Dosis radiasi umumnya berkisar antara 6000 – 7000 rad, dalam waktu 6 – 7 minggu dengan periode istirahat 2 – 3 minggu (“split dose”).<br />
Alat yang biasanya dipakai ialah “cobalt 60”, “megavoltage”orthovoltage”.</p>
<p>AKIBAT- AKIBAT RADIASI PADA PENDENGARAN<br />
Telah disebutkan terdahulu, bahwa tumor ganas nasofaring dapat menyebabkan penurunan pendengaran tipe konduksi yang refersibel. Hal ini terjadi akibat pendesakan tumor primer terhadap tuba Eustachius dan gangguan terhadap pergerakan otot levator pelatini yang berfungsi untuk membuka tuba. Kedua hal diatas akan menyebabkan terganggunya fungsi tuba.<br />
Infiltrasi tumor melalui liang tuba Eustachius dan masuk kerongga telinga tengah jarang sekali terjadi .<br />
Dengan radiasi, tumor akan mengecil atau menghilang dan gangguan-gangguan diatas dapat pula berkurang atau menghilang, sehingga pendengaran akan membaik kembali.<br />
Terlepas dari hal-hal diatas, radiasi sendiri dapat juga menurunkan pendengaran, baik bertipe konduksi maupun persepsi.<br />
Radiasi dapat menyebabkan penurunan pendengaran tipe konduksi, karena :<br />
a. Terjadi dilatasi pembuluh darah mukosa disertai edema pada tuba<br />
Eustachius yang mengakibatkan penutupan tuba.<br />
b. Terjadi nekrosis tulang-tulang pendengaran (“radionecrosis”).<br />
Perubahan konduksi setelah radiasi ini disebabkan 3 hal :<br />
a. menempelnya sekret kental pada dinding lateral nasofaring.<br />
b. Atresia dari muara tuba.<br />
c. Fibrosis pada ruang fasia sekitar otot levator palatini.<br />
Radiasi dengan “ cobalt-60 “ pada penderita tumor ganas nasofaring, dosis yang digunakan sebesar 4.000-6.000 rad.didapatnya bahwa perubahan ambang pendengaran tidak begitu besar. Peningkatan pendengaran rata-rata 10 desibel dan penurunan pendengaran rata 14 desibel.<br />
Penurunan pendengaran yang bersifat konduksi yasng disebabkan terjadinya “ radiation otitis media “ dan “ radionecrosis ”<br />
“ Radiation otitis media “ ini terjadi karena ada gangguan dari fungsi tuba yang akan menimbulkan efusi cairan pada rongga telinga tengah. Sedangkan “ Radionecrosis ossiclesa “ disebabkan terjadinya perubahan veskuler berupa degenerasi dan pembengkakan jaringan kolagen dan otot polos dinding pembuluh darah kecil yang berakibat dinding pembuluh darah tersebut menyempit atau menutup lumen sehingga terbentuk trombus yang akan mengganggu suplai darah melalui “ end arteri “ ke tulang-tulang pendengaran.<br />
Bila pada penderita dengan tuli persepsi dan ketulian ini bertambah berat, ini disebabkan adanya penambahan komponen-komponen konduksi akibat dari terjadinya problem ditelinga tengah karena radiasi.<br />
Pada umumnya gangguan persepsi baru terjadi bila dosis radiasi yang tingi dan dalam waktu yang lama. Hal ini akibat terjadinya perubahan-perubahan pada koklea. Sedangkan pada dosis yang rendah dikatakan bahwa koklea relatif radioresisten.</p>
<p>PROGNOSIS<br />
Secara keseluruhan, angka bertahan hidup 5 tahun adalah 45 %. Prognosis diperburuk oleh beberapa faktor, seperti :<br />
-	Stadium yang lebih lanjut.<br />
-	Usia lebih dari 40 tahun<br />
-	Laki-laki dari pada perempuan<br />
-	Ras Cina dari pada ras kulit putih<br />
-	Adanya pembesaran kelenjar leher<br />
-	Adanya kelumpuhan saraf otak adanya kerusakan tulang tengkorak<br />
-	Adanya metastasis jauh</p>
<p>Radioterapi<br />
Syarat-sarat bagi penderita yang akan di radio terapi :<br />
•	Keadaan umum baik<br />
•	Hb&gt; 10 g%<br />
•	Leukosit &gt; 3000/mm3<br />
•	Trombosit &gt; 90.000 mm3</p>
<p>Indikasi Radioterapi<br />
•	Radikal 	: Tumor satadium permulaan yang belum infiltrasi ke jaringan sekitarnya dan belum terdapat penyebaran<br />
•	Paliatif	 : Tumor stadium lanjut : Mengurangi rasa nyeri dan keluhan<br />
•	Post Operatif :<br />
•	Pada tumor brd/lymphatic field of drainage<br />
•	Untuk menghancurkan sel-sel ganas</p>
<p>Tujuan pre operatif terapi<br />
•	Mencegah metastasis ke perifer<br />
•	Mengecilkan volume tumor sehingga menjadi operable<br />
•	Perdarahan berkurang karena vaskularisasi tumor berkurang</p>
<p>Tujuan post operasi<br />
•	Mengatasi sisa sel Ca</p>
<p>Efek radiasi terhadap beberapa jaringan<br />
1.	Kulit<br />
• Dermatitis akut : Terkelupasnya selaput lendir fibrinous, kulit hitam merah dan edema. Epilasi permanen dengan dekstruksi epidermis, ulserasi, nyeri.<br />
•	Dermatitis Kronis	 : Kulit kering, hipertrofi/keratosis, veruka vulgaris. Ca Kulit.<br />
•	Late Dermatitis Accute effect : pigmintasi , atrofi, talengiektasi, ulserasi dan epitelioma.</p>
<p>2.	Sistem Hemopoetik dan darah<br />
•	Efek langsung pada sel darah / pada jaringan hemopoitik<br />
•	Urutan sensitifikasi : Limfosit ? granulosit ? trombosit ? eritrosit</p>
<p>3.	Alat pencernaan<br />
•	Reaksi eritematus pada selaput lendir yang nyeri<br />
•	Disfagia<br />
•	Reaksi fibrinous pada selaput lendir dengan nyeri yang lebih hebat<br />
•	Nausea, muntah, diare, ulserasi dan perforasi (Dosis di tingkatkan)</p>
<p>4.	Alat Kelamin<br />
•	Sterilitas<br />
•	Kelainan kelamin<br />
•	Mutasi gen</p>
<p>5.	Mata<br />
•	Konjungtivitis dan keratitis<br />
•	Katarak</p>
<p>6.	Paru – paru<br />
•	Batuk dan nyeri dada<br />
•	Sesak nafas, fibrosis paru</p>
<p>7.	Tulang<br />
•	Gangguan pembentukan tulang<br />
•	Osteoporosis<br />
•	Patah Tulang (dosis ditambah)</p>
<p>8.	Syaraf<br />
•	Urat saraf menjadi kurang sensitive terhadap stimulus<br />
•	Mielitis<br />
•	Degenerasi jaringan otak</p>
<p>9.	Penyakit radiasi<br />
•	Demam<br />
•	Rasa lemah<br />
•	Muntah dan diare<br />
•	Nausea<br />
•	Nyeri kepala<br />
•	Gatal<br />
•	Nafsu makan menurun</p>
<p>Macam-macam alat radiasi<br />
1.	External radiasi<br />
•	UKG<br />
Untuk pemanasan pada sinusitis, salpingitis<br />
•	Dermatofan<br />
Hemangioma, basalioma<br />
•	Stabilipan<br />
Tumor yang lebih dalam (Squamosa cell Ca)<br />
•	Clinac (Computer Linear Accelerator) yang dipakai adalah unsur elektronya.<br />
Untuk tumor-tumor yang superficial (rhabdomiosarkoma)</p>
<p>2.	Internal radiasi<br />
•	Afterloadaing (HDR/High Dose rate) Menggunakan unsur Cesium 137. Dipakai untuk Ca Serviks, Ca bronkus, Ca Nasofaring<br />
•	Clinac, dipakai unsur fotonya untuk tumor-tumor yang lebih dalam.</p>
<p>Perbedaan radioterapi<br />
Clinac 18	Cobalt 60	Radioaktif<br />
•	Dihasilkan dengan linear accelerator dari mesin dengan tenaga listrik<br />
•	Sinar yang digunakan sinar X<br />
•	Energi yang dihasilkan 4-10 MsV<br />
•	Tidak terdapat waktu paruh<br />
•	Surface Source Distance : 100 cm<br />
•	Dosis maksimum 100% pada kedalaman 2,5 cm<br />
•	Dari segi elektroniknya lebih rumit dan mahal	•	Sumbernya radio aktif<br />
•	Sinar ?<br />
•	1,23 volt<br />
•	Energi akan bertambah lemah sesuai waktu paruhnya<br />
•	SSD 80cm<br />
•	Daya tembus ½ cm dibawah permukaan<br />
•	Tidak terlalu rumit dibanding Clinac	•	Dibuat dalam reaktor nuklir<br />
•	Dengan membordair unsurnya sehingga menjadi radioaktif<br />
•	Untuk terapi superficial</p>
<p>Sinar – sinar yang dipakai untuk radio terapi<br />
•	Sinar X dan sinar ?<br />
•	Sinar ? (Elektron)<br />
•	Sinar ? (terbatas)<br />
•	Sinar Neutron (untuk pengobatan tumor otak)<br />
•	Sinar proton (untuk menghancurkan kelenjar hipofisa)<br />
•<br />
Teknik Penyinaran<br />
•	Singel field (satu arah) : AP, PA, Lateral, Medial Oblique<br />
•	Plan pararel/pararel opposing field (dua arah) : Mis Ca Nasofaring<br />
•	Multified<br />
•	Tiga arah : Kepala muka tengah, naso faring, sinus paranasal.<br />
•	Empat arah : Cerviks<br />
•	Lima arah : Ca Buli-buli<br />
•	Rotasi<br />
•	Full rotasi 360 derajat : Tumor hipofisa (Sella tursica)<br />
•	Semi rotasi</p>
<p>Terapi medicamentosa<br />
Sitostatika :<br />
endoxan : 200 mg 2-3 x /mgg IV s/d 10 x, Dosis tinggi 1 gram/m2 luar tubuh 1 bulan/x</p>
<p>KESIMPULAN<br />
Karsinoma nasofaring banyak ditemukan di Indonesia. Diagnosis dini perlu diperhatikan pada pasien dewasa yang sering mimisan, hidung tersumbat, keluhan kurang dengar, salit kepala dan penglihatan dobel. Sebagai gejala lanjut ialah pembesaran kelenjar limfe leher dan kelumpuhan saraf otak.<br />
Pada stadium dini pengobatan yang diberikan ialah penyinaran, dan hasilnya baik. Oleh karena itu diharapkan kesadaran masyarakat untuk segera berobat. Jika terdapat gejala yang mencurigakan segeralah memeriksaan diri ke dokter.<br />
Diagnosis dini harus secepatnya ditegakkan dengan biopsi serta pemeriksaan patologi, supaya pengobatan tidak terlambat.<br />
Diharapkan dengan meningkatkan penemuan kasus dini penangulangan terhadap penyakit ini dapat diperbaiki. Sehingga angka kematian dapat ditekan.</p>
<p>DAFTAR PUSTAKA</p>
<p>1.	Rasad U, Dalam : Nasopharyngeal Carcinoma. Medical Progress. July Vol 23 no 7 1996 ; 11-16<br />
2. Soepardi EA, Iskandar N. Dalam : Karsinoma Nasofaring. Buku Ajar THT. Edisi Kelima. Balai Penerbit FK UI. Jakarta, 2000 : 146-150<br />
3.	Iskandar N, Munir M, Soetjiepto D. Tumor Ganas THT : Balai Penerbit FKUI. Jakarta, 1989.<br />
4.	Rasad S, Kartoleksono S, Ekayuda I. Dalam : Bahaya Radiasi dan Pencegahan. Radiologi Diagnostik, FKUI, 1985 : 25-28.<br />
5	Susworo. Dalam : Kanker Nasofaring Epidemologi dan Pengobatan Mutakhir. Cermin Dunia Kedokteran. 2004 : 16-20</p>
</div>
<br />Posted in Uncategorized  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kadaverboy.wordpress.com/84/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kadaverboy.wordpress.com/84/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kadaverboy.wordpress.com/84/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kadaverboy.wordpress.com/84/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/kadaverboy.wordpress.com/84/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/kadaverboy.wordpress.com/84/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/kadaverboy.wordpress.com/84/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/kadaverboy.wordpress.com/84/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kadaverboy.wordpress.com/84/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kadaverboy.wordpress.com/84/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kadaverboy.wordpress.com/84/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kadaverboy.wordpress.com/84/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kadaverboy.wordpress.com/84/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kadaverboy.wordpress.com/84/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kadaverboy.wordpress.com&amp;blog=10509290&amp;post=84&amp;subd=kadaverboy&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kadaverboy.wordpress.com/2009/11/22/karsinoma-nasofaring/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/79101c68fd37f3d533c67a75acf4af69?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">kadaverboy</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
